Berita ยป Round Table Pengembangan Ubikayu di Indonesia

kadin

Pada tanggal 14 Mei 2014, Dr. Nasir Saleh, Koordinator penelitian umbi-umbian Balitkabi menghadiri Round table dan diskusi Pengembangan ubi kayu di Indonesia yang diselenggarakan kerja sama Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) dengan Kamar Dagang Indonesia (KADIN) di kantor KADIN, di Jakarta. Pertemuan dihadiri 50 peserta terdiri atas wakil Pengambil kebijakan Kementerian Pertanian (Dirjen Tanaman Pangan, Dirjen P2HP, Badan Litbang Pertanian, Badan Ketahanan Pangan), Kementerian Perindustrian (Dirjen Industri Agro, Dirjen Industri Kecil dan Menengah), Kementerian Perdagangan (Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Dirjen Perdagangan Luar Negeri), Kementerian UKM dan Koperasi, Deputi Bidang Pertanian dan Perikanan Menko Perekonomian, Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa), Direksi Bank (BRI, Mandiri, BNI-46, BCA, Bukopin, Bank Jabar) dan para pengusaha berbasis ubikayu (pati/etanol) dan praktisi anggota MSI.

Gambar 1. Bpk. H. Suharyo Husen sedang memimpin diskusi. Round table dipimpin oleh Bpk. H. Suharyo Husen (Waka Komtap Pengembangan Industri Derivatif Pertanian) membahas empat makalah utama yaitu:

  1. Kebijakan Pengembangan Ubikayu di Indonesia: Bpk. Pending Dadih Permana M.Ec (mewakili Dirjen Tanaman Pangan Kementan).
  2. Penguatan Industri tapioca starch di Indonesia: Dr. Thamrin Chaniago (Masyarakat Singkong Indonesia)
  3. Industri Mocaf berkelanjutan: Prof. Dr. Subagio (PT Tiga Pilar Sejahtera)
  4. Biodegretable plastic: Dr. Iman (PT Tirta Marta).

Hasil diskusi secara singkat dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Sejalan dengan SIPP Kementan, kedepan ubi kayu diposisikan sebagai komoditas strategis untuk keperluan pangan, bahan baku industri, pakan, dan bio energi.
  2. Langkah operasional pengembangan UK adalah perluasan areal, peningkatan produktivitas, pengamanan produksi dan penyempurnaan management.
  3. Secara spesifik dukungan untuk pengembangan UK adalah: penerapan Good Agriculture Practices (GAP), pengembangan blok/kawasan, kemudahan usaha, meningkatkan efisiensi, monev harga, dan pengendalian ekspor.
  4. Pengembangan kawasan dalam bentuk kluster-kluster hulu-hilir (produksi sampai pengolahan), yang merupakan kemitraan antara petani-pengusaha disertai pembinaan yang berkelanjutan merupakan model yang telah dikembangkan MSI di beberapa daerah. (Setiap kluster meliputi areal 330 ha, melibatkan 120 petani plasma a 2,5 ha, Kopsindo 20 ha, dan fasilitas umum 10 ha)
  5. Ekspor ubikayu dalam bentuk gaplek, sawut yang bernilai ekonomi rendah sangat merugikan, karena pada saat yang sama Indonesia mengimpor pati dan produk-produk derivatifnya yang bernilai jual tinggi.
  6. Mocaf merupakan produk strategis yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi produk-produk yang mempunyai nilai tambah tinggi.
  7. Pengembangan industry starch/Mocaf dan derivatifnya akan mengurangi impor terigu dan produk-produk berbasis UK.
  8. Kebutuhan akan Biodegretable plastic merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk mengurangi efek negatif penggunaan plastik terhadap lingkungan. PT. Tirta Marta telah menguasai dan memproduksi biodegradable plastic dan telah memperoleh berbagai sertifikat dari Lembaga Internasional, siap menerima bahan baku umbi ubi kayu dengan persyaratan yang telah ditentukan dalam SOP nya.

NS/AW