Berita ┬╗ Sekolah Lapang Pengembangan Budidaya Porang

Peserta sekolah lapang pengembangan budidaya porang

Peserta sekolah lapang pengembangan budidaya porang

Pada tanggal 23 April 2021, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Malang, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur berkunjung ke Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) dalam rangka Sekolah Lapang Pengembangan Budidaya Porang. Kunjungan tersebut diikuti oleh 30 orang yang terdiri dari: Pejabat struktural CDK wilayah Malang Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, PPL Kehutanan lingkup CDK Malang serta perwakilan UPT Perbenihan Tanaman Hutan Kabupaten Malang. Sebagai pembuka, Subkoordinator Substansi Jasa Penelitian, Bambang Sri Koentjoro, S.P., M.Kom., menjelaskan bahwa komoditas porang mulai ditangani secara intensif oleh Balitkabi pada tahun 2019 dilanjutkan progres penelitian dan kegiatan porang di Balitkabi.

Kepala CDK Wilayah Malang, Sapto Yuwono, S.Hut., MM. menjelaskan bahwa pengelolaan hutan yang optimal lestari adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Euforia porang dan informasi hasil yang luar biasa dari porang,  memicu pesanggem/petani disekitar hutan untuk berlomba memanfaatkan kawasan hutan dengan menanam porang. Selama ini, petani di wilayah CDK menanam porang hanya berdasarkan informasi dari media sosial atau petani dari daerah lain. Hasil dan permasalahan budidaya pun banyak muncul, karena informasi yang didapat tidak terlalu valid. Oleh karena itu, para PPL Kehutanan di CDK wilayah Malang berupaya menggali informasi tentang budidaya porang yang baik dan benar ke Balitkabi. Lebih lanjut Kepala CDK wilayah Malang menginformasikan bahwa wilayah kerja CDK wilayah Malang, meliputi 5 kabupaten/kota, yaitu Kabupaten dan Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten dan Kota Blitar, dengan jumlah 397 Kelompok Tani Hutan (KTH) dan 223 kelompok LMDH.

Kunjungan diisi dengan pemaparan materi tentang budidaya porang oleh Sutrisno, S.P., dan dilanjutkan diskusi serta kunjungan lapang ke lokasi pertanaman SDG porang dan penelitian porang di rumah kaca Balitkabi yang dipandu Dr. Novita Nugrahaeni, Sutrisno, S.P., dan Siti Mutmaidah, S.P. Salah satu peserta (PPL Kehutanan di wilayah CDK Blitar) menyampaikan bahwa euforia porang juga melanda daerah Blitar. Permintaan bibit porang di daerah Blitar sangat tinggi, bahkan pada musim tanam tahun 2020, harga katak mencapai Rp 400.000/kg, dikarenakan tingginya permintaan dan rendahnya ketersediaan benih di Blitar. Lahan-lahan yang ditanami porang di Blitar adalah lahan tegakan hutan produksi, lahan sawah, dan lahan kosong/pekarangan tanpa tegakan. Lebih lanjut diinformasikan, di daerah Blitar, terutama di daerah Wlingi dengan kondisi tanah berpasir dan ketinggian 200 mdpl, pada kondisi tersebut performa tanaman porang banyak yang mengalami daun terbakar dan kekeringan. Untuk mengantisipasi langkanya katak/bahan tanam porang, petani porang dan tengkulak membeli umbi porang yang siap diolah (kisaran di atas 1,5 kg) dan ditanam untuk menghasilkan bibit/katak pada tahun berikutnya.

Pertanyaan-pertanayan yang muncul dalam diskusi diantaranya: kekhawatiran tentang kepastian harga dan jaminan pemasaran porang, tingginya harga bibit, lebih menguntungkan mana penanaman porang untuk perbanyakan bahan tanam (katak) atau untuk produksi umbi, tingkat keuntungannya bagaimana, bagaimana hubungan antara konversi lahan dengan usaha pengembangan porang, bagaimana penanaman porang di lahan sawah/lahan produktif lain dilihat dari hubungannya dengan kompetisi dengan tanaman pangan, apa keunggulan varietas Madiun 1 dilihat dari sisi kandungan glukomanan dan potensi hasilnya.

SMD/STR

sl1 sl2 sl3
Kunjungan ke pertanaman porang di Balitkabi