Berita » Semangat Telusuri Outcome dan Impact Inotek Ubi Kayu di Kalipare

Foto bersama di depan pertanaman diseminasi beberapa varietas ubi kayu

Foto bersama di depan pertanaman diseminasi beberapa varietas ubi kayu

Kalipare merupakan salah satu sentra ubi kayu di Kabupaten Malang. “Luasan pertanaman ubi kayu di sini sekitar 400 ha dan hampir 90% petani menanam varietas Malang 4,” kata Pak Ladi, Ketua Gapoktan Mandiri dan sekaligus pengepul ubi kayu di Kalipare. Varietas Malang 4 mulai berkembang di Kalipare sejak ada demplot ubi kayu sekitar tahun 2007. Petani menyukai Malang 4 karena hasilnya tinggi, umur lebih pendek dibanding varietas lokal dan memiliki kandungan pati tinggi.
Akhir tahun 2018, Balitkabi melakukan kegiatan diseminasi ubi kayu di Kalipare dengan judul “Maksimasi Produksi Ubi Kayu” yang bertujuan untuk mendiseminasikan beberapa varietas unggul ubi kayu produktivitas tinggi. Varietas yang digunakan adalah UK 1 Agritan, Adira 4, Malang 4, dan Lokal Sembung yang ditanam dengan jarak tanam 125 cm x 100 cm. Dosis pPupuk yang digunakan ada dua dosis yaitu cara petani (600 kg/ha Urea + 200 kg/ha SP 36 + 200 kg/ha Phonska + 10 ton/ha pupuk kandang / ha) dan rekomendasi Balitkabi (300 kg /ha Urea + 300 kg/ha Phonska + 10 ton/ha pupuk kandang  ).
Jumat 10 Mei 2019 telah berlangsung diskusi menarik untuk menggali informasi budi daya, pemasaran, dan pemanfaatan ubi kayu di Kalipare. Meski suasana cukup terik, tidak menyurutkan semangat tim Balitkabi dan petani ubi kayu. Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi, Ketua Program Dr. Andy Wijanarko, Kasi Jaslit B.S. Koentjoro, M.Kom., Peneliti senior bidang Pascapanen Dr. Joko Susilo Utomo, Pemulia kedelai yang juga pernah menangani ubi kayu Dr. Titik Sundari, Pemulia Ubi Kayu Dr. Kartika Noerwijati, Teknisi Ubi Kayu Gatot Santoso S.P., Staf Jaslit Purwono serta dua orang petani yaitu Pak Ladi dan Pak Darman. Yuliantoro menyatakan bahwa Balitkabi sebagai UPT Balitbangtan sudah menghasilkan inovasi dan harus mendaratkan inovasinya. Balitkabi sudah membuktikan apa yang menjadi suara petani. Banyak pengakuan yang disampaikan oleh petani tentang keunggulan inotek Balitkabi. Balitkabi sudah memilliki banyak kekuatan inovasi dan teknologi ubi kayu diantaranya varietas unggul.
“Varietas Malang 4 punya banyak kelebihan yaitu rendemen tinggi, umur lebih genjah, dan harga bisa terpaut Rp50/kg lebih mahal,” kata Pak Ladi. Hal seperti inilah yang sangat dibutuhkan ke depan. Yuliantoro menyatakan bukan hanya output yang kita kejar, tetapi hari ini kita telah memperoleh outcome sekaligus impact dan dibuktikan performa tanaman beberapa varietas yang ditanam di sini jauh memberikan harapan.

Kepala Balitkabi dan Dr.Joko Susio Utomo bersama Pak Ladi

Kepala Balitkabi dan Dr.Joko Susio Utomo bersama Pak Ladi

Sebagai UPT yang memiliki mandat mengembangkan tanaman pangan, ke depan akan dibuat diversifikasi pangan salah satunya dengan membuat beras singkong (rasi) sebagai penyangga pangan non beras. Untuk meningkatkan kandungan gizinya dapat dilakukan upaya fortifikasi dengan protein aneka kacang supaya tidak menjadi makanan inferior, tetapi merupakan pangan mahal, sehat dan bergizi. “Jadikanlah rasi ini sebagai pangan lokal yang akan menjadi soko guru atau inti yang nantinya dapat memenuhi substitusi kebutuhan pangan Indonesia,” ujar Yuliantoro. Dan kita harus punya keyakinan untuk mengibarkan bendera sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Ubi kayu itu tanaman yang sangat istimewa karena semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan mulai dari daun, batang, dan umbinya. “Tidak ada manfaatnya inovasi teknologi yang dihasilkan, jika tidak segera sampai di petani,” kata Yuliantoro mengakhiri diskusi kali ini.

Suasana diskusi

Suasana diskusi

KN