Berita » Seminar Intern Balitkabi Bulan Oktober 2012

sem-okt

Fungisida Nabati untuk Mengendalikan Karat Kedelai, Bakteri Pelarut Fosfat asal Tanah Masam sebagai Pupuk Hayati dan Peran Ubi-ubian sebagai Lumbung Pangan

Seminar bulanan Balitkabi bulan Oktober dilaksanakan di ruang seminar utama pada tanggal 1 Oktober 2012. Seminar dihadiri oleh seluruh peneliti Balitkabi. Seminar ini bertujuan untuk mengkomunikasikan hasil penelitian. Pada seminar kali ini, 3 makalah dibawakan oleh 3 peneliti. Sebagai pemakalah pertama adalah Ir. Sumartini, MS dari kelompok peneliti proteksi tanaman. Tema yang diangkat adalah ‘Penyakit karat pada kedelai: bioekologi dan cara pengendalian ramah lingkungan’. Ir Sumartini MS memaparkan bahwa penyakit karat yang disebabkan oleh Phakopsora pachyrhizi mampu mengakibatkan kehilangan hasil hingga 80%. Penyebarannya hampir merata di daerah tropis dan subtropis. Tanaman inang beragam dan meliputi beberapa jenis dari family Leguminosae. Pengendalian penyakit karat dengan menggunakan minyak cengkeh sudah beberapa tahun digelutinya. Menurutnya, konsentrasi efektif untuk mengendalikan penyakit karat adalah 2-3 ml/l air, interval waktu penyemprotan 5 hari sekali dan dilakukan sebanyak 5 – 7 kali dalam satu musim tanam. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Pemakalah kedua adalah Ir. Suryantini dari kelompok peneliti ekofisiologi yang mengambil tema ‘Keefektifan isolat bakteri pelarut fosfat asal tanah masam sebagai pupuk hayati pada kedelai di lahan masam’. Peningkatan produksi kedelai di Indonesia akan difokuskan salah satunya pada perluasan areal tanam, termasuk lahan kering masam yang banyak tersedia di luar Pulau Jawa. Salah satu kendala utama pada lahan masam adalah ketersediaan hara yang rendah terutama unsur hara P. Menurur Ir Suryantini, penggunaan pupuk hayati pelarut P diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa multiisolat M-2 mampu meningkatkan hasil biji 48,7% jika dikombinasikan dengan pemberian pupuk P sebanyak 100 kg SP36/ha. Multiisolat ini dapat menjadi kandidat pupuk hayati di lahan masam. Ir. Yudi Widodo, MS dari kelompok peneliti Ekofisiologi memaparkan makalah ketiga dengan judul ‘Peningkatan peran ubi-ubian sebagai lumbung pangan guna antisipasi pemanasan global’. Menurutnya, manusia menghadapi masalah kian pelik, yaitu kelangkaan pangan, energi, dan air (FEWS = food, energy and water scarcity) serta masalah lingkungan terutama perubahan iklim akibat pemanasan global. Ubi-ubian memiliki potensi besar untuk mengatasi krisis pangan global, tanpa harus merusak kompleksitas lingkungan. Penataan pola tanam yang sesuai dengan kondisi ekologis memberikan peluang untuk melakukan peningkatan peran ubi-ubian sebagai lumbung pangan. Atas dasar fakta dan data yang masih terbatas, menurut Ir Yudi, MS, peran ubi-ubian sebagai lumbung pangan dapat ditingkatkan seiring upaya adaptasi, mitigasi dan produksi pangan di tengah perubahan iklim akibat pemanasan global.