Berita » Seminar Usulan Pelepasan Klon CMM 03001-10 sebagai VUB Ubikayu serta Sosialisasi dan Inisiasi Pengembangan Teknologi Nano di Balitkabi

internal

Melalui proses yang rumit dan panjang, peneliti ubi kayu Balitkabi menghasilkan klon unggul ubikayu yang mampu memberikan hasil ubi dan pati tinggi serta memiliki umur cukup genjah. Keunggulan dan karakteristik klon unggul tersebut disampaikan oleh Dr. Sholihin dalam seminar intern di Aula Balitkabi pada hari Senin 22 Juni 2015, sedangkan sosialisasi dan pengembangan teknologi nano disampaikan oleh Eriyanto Yusnawan, Ph.D. Seminar dihadiri oleh para peneliti Balitkabi, Pejabat eselon IV dan Plh. Kepala Balai. Dalam presentasinya, Dr. Sholihin menyampaikan bahwa klon unggul baru ubikayu yang masih memiliki kode CMM 03001-10 memiliki kemampuan berproduksi aktual mencapai sekitar 42 t/ha, lebih tinggi dibandingkan varietas unggul yang sangat disukai masyarakat di berbagai daerah yaitu Adira 1 dan UJ3. Rasa umbi yang tidak pahit (kadar HCN 18,87 ppm) juga memungkinkan umbi dimanfaatkan dalam bentuk segar atau konsumsi langsung sebagai bahan pangan pokok. Hasil pati klon tersebut juga cukup tinggi yaitu sebesar 6,05 t/ha atau dua kali lebih tinggi dibandingkan Adira 1 dan 10% lebih tinggi dibandingkan UJ3. Umur genjah pada calon varietas unggul ini menjadi nilai tambah dan sangat bermanfaat karena petani dapat lebih cepat memperoleh hasil. Selain itu jika dipelihara lebih lama, petani tetap untung karena tanaman masih terus mampu meningkatkan hasil umbinya. Selain itu, periode budidaya yang pendek sangat bermanfaaat dalam menyesuaikan dengan keadaan lingkungan yang kurang sesuai misalnya lama periode hujan dan penghindaran terhadap periode serangan hama dan penyakit.


Dalam rangka mendukung progam penelitian dan pengembangan pertanian berbasis nano teknologi yang selalu digaungkan oleh Balitbangtan Kementerian Pertanian, Balitkabi berusaha untuk mensosialisasikan penelitian berbasis nano teknologi kepada para peneliti. Eriyanto Yusnawan Ph.D menyampaikan bahwa penelitian berbasis nano teknologi merupakan bentuk penelitian yang berusaha menggali informasi dalam skala nano. Penelitian lebih diarahkan untuk mengetahui bagaimana pengaruh perlakuan terhadap reaksi senyawa pada objek penelitian. Misalnya pada penelitian dengan perlakuan pupuk atau pestisida pada tanaman maka variabel yang diamati pada penelitian tersebut adalah bagaimana reaksi senyawa kimia yang terjadi pada tanaman dan bagaimana perubahan komposisi senyawa kimia pada hasil tanaman. Pengukuran senyawa kimia organik dapat berupa kandungan antioksidan, protein allergen, enzim, dan residu pestisida. Jadi penelitian nano teknologi lebih diarahkan untuk memperbaiki kualitas hasil daripada kuantitas hasil. Penelitian seperti ini sangat penting karena selain meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan juga akan sangat membantu arus pertukaran barang. Sebagai contoh, ketika suatu produk tanaman dapat diketahui kualitasnya secara terinci maka komoditas tersebut akan lebih mudah didistribusikan ke berbagai negara yang membutuhkan dan tentunya dapat meningkatkan nilai jual barang tersebut.

Sutrisno/KN