Berita » Setda Kabupaten Blora Ngangsu Kaweruh “Tingkatkan Potensi Lahan Hutan” di Balitkabi

1-blora-1

Kabupaten Blora memiliki luas hutan 90.417 hektar, 49,66% dari luas wilayah secara keseluruhan 182.059 hektar. Dengan luas hutan tersebut, wajar jika sebagian masyarakat Blora menyandarkan hidupnya dari hasil hutan. Dari buruh tebang, pesanggem (petani hutan) hingga pengolah kayu hasil hutan seperti untuk mebel. Waktu panen hutan cukup lama antara 5-10 tahun, untuk itu perlu ada input teknologi agar hutan tetap menghasilkan sambil menunggu waktu panen. “Kami melihat tanaman kedelai tumbuh subur di antara tegakan hutan di daerah Ngawi, untuk itu kami bermaksud ngangsu kaweruh, barangkali ubikayu juga bisa dikembangkan di lahan hutan kabupaten Blora. Dengan demikian potensi lahan hutan bisa optimal sehingga taraf hidup pesanggem dan masyarakat sekitar bisa meningkat”, tutur ketua rombongan, Drs. Sudarmo, Asisten II Sekretariat Daerah (Sekda) Blora Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat. Pak Darmo bersama 14 pendamping yang terdiri dari beberapa Kepala KPH se-kabupaten Blora, Administratur dan Paguyuban LMDH KPH Blora diterima oleh Dr. A. A. Rahmianna, Plh Ka. Balai, di ruang seminar 1 Balitkabi, Rabu, 18 Juli 2012.

Di pagi yang dingin setelah beberapa menit gerimis tidak menyurutkan niat rombongan Setda Blora mengamati langsung pertanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian (KABI) yang terhampar di kebun percobaan Kendalpayak. “Ubikayu rasa enak/manis bisa langsung diolah (kukus, rebus, tape) antara lain varietas Adira 1, Malang 1, Malang 2, dan Darul Hidayah”, jelas Pak Margono sambil menunjuk beberapa varietas pohon ubikayu yang letaknya diantara tanaman kedelai, kacang hijau, kacang tunggak, kacang tanah, dan ubijalar. Suasana yang sejuk membuat dialog di lapangan sangat nyaman dan berlangsung ± 1jam.

Kunjungan di KP Kendalpayak mengawali acara kunjungan di Balitkabi.

Setelah kunjungan kebun, rombongan menerima beberapa materi yang dipresentasikan secara bergantian oleh beberapa peneliti Balitkabi. Materi tentang varietas dan teknik budidaya ubikayu dipaparkan oleh Ir. Budhi S. Radjit, MS. Varietas kacang-kacangan disampaikan oleh Dr. Titik Sundari, dilanjut materi budidaya kacang-kacangan diantara tanaman tahunan disajikan oleh Ir. Abdullah Taufiq, MP.

Selesai keliling kebun percobaan, rombongan diterima Plh. Kepala Balitkabi, Dr. A.A. Rahmianna dan selanjutnya diperkenalkan tugas pokok dan fungsi Balitkabi oleh Ir. Achmad Winarto.

Pak Budi menjelaskan bahwa kandungan HCN yang tinggi (>50 mg/kg) pada ubikayu menyebabkan rasa umbi pahit sehingga cocok untuk gaplek, pati, tepung, kerupuk, dan bioetanol. HCN larut dalam air dan menguap pada suhu 27oC. Pak Taufiq mengungkapkan pengalaman tanam kedelai di antara tanaman jati umur 2 tahun di Ngawi, disimpulkan bahwa varietas Grobogan bisa mencapai hasil 1,5 ton/ha, argomulyo dan burangrang mencapai 1,3 ton/ha, wilis dan kaba 1 ton/ha, sedang anjasmoro 0,9 ton/ha. Jadi pertanaman di bawah tegakan hutan kayu jati bisa dilakukan maksimal hingga pohon jati tersebut berumur 5 tahun. Berbeda dengan pertanaman kedelai di bawah tegakan hutan kayu putih, kedelai bisa ditanam sepanjang tahun karena kayu putih selalu dipangkas, daunnya disuling untuk minyak kayu putih, sehingga cekaman naungan sangat kecil (10–20%), intensitas cahaya tidak terlalu mengganggu tanaman lain yang ada di bawahnya. Komoditas utama Balitkabi, kecuali ubijalar, berpotensi dikembangkan di bawah tegakan hutan kayu jati. Selamat menggali potensi dibawah tegakan hutan demi peningkatan ketahanan pangan masyarakat disekitar hutan….