Berita » Sinergi Produktif Kedelai di Hutan Jati

sos-ngawi-1

  Selain menambah produksi tanpa harus membuka areal lahan baru, tumpangsari kedelai di lahan hutan memiliki nilai sinergi produktif, karena: (1) bertambahnya kesuburan tanah hutan akibat pasokan N dari bintil akar kedelai, (2) meningkatkan produksi kedelai dan pendapatan untuk petani sekitar hutan, (3) diversifikasi produk yang dipanen, (4) menekan laju erosi, dan (5) penyediaan pakan ternak. Demikian inti sambutan Dr. Moch. Muchlish Adie, M.S., Kepala Balitkabi, pada Sosialisai Budidaya Kedelai di Kawasan Hutan Jati, di Ngawi Jawa Timur, Rabu (30/11). Sosialisasi merupakan bagian dari Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi (GP3K) dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). GP3K bertujuan mendukung peningkatan produksi pangan dan memperkuat ketahanan pangan. Dalam rangka meningkatkan produksi kedelai itulah, Badan Litbang Pertanian, lewat Balitkabi, bersinergi dengan Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, menggelar budidaya kedelai hutan jati KPH Ngawi pada luasan 8,5 ha. Tujuan utama sosialisasi ini adalah menyiapkan para petani yang tergabung Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) agar lebih berhasil memanfaatkan lahan hutan yang dipercayakan kepada mereka untuk meningkatkan hasil kedelai dan pendapatannya serta menjaga keberlangsungan produksi pohon jati. Dr Muchlish Adie, saat pengarahan pada sosialisasi. Tampak Ir Anang Administratur KPH Ngawi, dan Ir. Setyo Salinda Putri dari Perhutani Unit II Surabaya. Varietas Unggul Burangrang dan Anjasmoro berkembang optimal di bawah tegakan jati Sosialisasi yang dilaksanakan di dalam kelas dan di lapang, diikuti 105 orang, terdiri dari Ketua LMDH dan petugas Perhutani KPH Ngawi, Bojonegoro, Madiun, dan Ponorogo. Di kelas, peserta diperkenalkan dengan varietas unggul kedelai, teknik budidaya kedelai di kawasan hutan, identifikasi hama dan penyakit dan cara pengendaliannya, panen, dan pascapanen kedelai. Selanjutnya, para petani yang sudah beberapa tahun menggarap lahan hutan tersebut, diajak mengamati langsung perkembangan varietas unggul kedelai Anjasmoro, Argomulyo, Burangrang, Kaba, dan Wilis yang tumbuh dan memberi hasil tinggi pada kondisi ternaungi tanaman jati. Menurut Ir Gatut Wahyu, M.S., pemulia Balitkabi, varietas unggul tersebut mampu berproduksi lebih dari 2,0 ton per hektar.

Prof Marwoto peneliti Balitkabi dan Kepala Dinas Pertanian Kab Ngawi, berdialog dengan petani LMDH

Mengembangkan Sinergi Produktif Sosialisasi yang juga dihadiri oleh Ir. Setyo Salinda Putri, perwakilan Perhutani Unit II Surabaya, Ir Anang, Administratur KPH Ngawi, dan Ir. Sutrisno, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Ngawi ini merupakan terobosan khusus Badan Litbang pertanian untuk mendorong produksi kedelai nasional. Ke depan, GP3K akan dikem­bangkan dalam kemitraan antara petani dengan BUMN lainnya, yaitu PT Inhutani, PT Sang Hyang Seri, PT Pertani, dan PT Pupuk Sriwijaya. Pengembangan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi sumber pangan di areal hutan dengan sistem tumpangsari. Inovasi tumpangsari kedelai di sela tanaman jati yang dikawal Balitkabi ini dinilai sangat potensial dan prospektif. Di samping produksi kedelai dapat dikatrol dengan penerapan budidaya yang tepat, tanaman jati pun juga ikut menikmati pasokan hara dari bintil akar yang ditinggalkan kedelai. “Dengan pengawalan dan pembimbingan oleh para peneliti Balitkabi, kami yakin petani akan memelihara kedelai dan jati dengan lebih baik”, ungkap Ir Anang, Administratur KPH Ngawi. Di samping itu “Pertemuan dengan peneliti ini sangat langka, mohon dimanfaatkan untuk menggali ilmu budidaya kedelai di kawasan hutan dengan baik”, tutur Ir. Setyo Salinda Putri dari Perum Perhutani Unit II. Bu Putri juga berpesan kepada petani LMDH untuk memanfaatkan lahan sela tanaman jati untuk budidaya kedelai dan ikut memelihara tanaman pokok pohon jati, agar sinergi antara Perum Perhutani dengan petani LMDH mampu mengoptimalkan produktivitas lahan hutan. Pencapaian target peningkatan produksi kedelai dan tanaman jati merupakan sukses sinergi produktif antara Badan Litbang Pertanian dengan Perhutani dan LMDH.

Dilaporkan oleh Prof Marwoto dan Giono/Winarto