Berita » Sosialisasi Teknologi Budidaya Kedelai di Nganjuk

bagor

Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Timur yang bercirikan produktivitasnya telah mencapai 2,1 t/ha dengan pola tanam beragam yakni di lahan kering kedelai–kedelai, di lahan sawah padi–kedelai–bawang merah atau padi–padi–kedelai, dan sebagian besar penanaman kedelai dilakukan secara sebar, tidak ditugal.

Upaya mengoptimalkan produktivitas kedelai di lahan sawah yang berpola tanam padi–kedelai–bawang merah, Balitbangtan melalui Balitkabi melakukan peragaan teknologi budidaya kedelai di lahan sawah di kelompok tani Ngudi Mulyo, Desa Banaran Wetan, Bagor, Nganjuk pada musim tanam Februari–Maret 2016, disertai dengan temu lapang pada 3 Mei 2016. Diperagakan varietas Grobogan seluas 1,5 ha yang melibatkan 8 petani kooperator dengan teknologi budidayanya berupa tanah diolah, dipupuk dengan petroganik (600 kg/ha) + 100 kg SP36/ha + pupuk susulan 150 kg/ha Phonska, penyiangan sekali dengan herbisida dan pengendalian hama 3−4 kali. Penanaman dilakukan secara dilarik dan disebar. Dengan introduksi teknologi tersebut, ragam hasil antarpetani adalah 2,05–2,51 t/ha. Disamping itu juga diperagakan 6 varietas kedelai terbaru dan 1 galur harapan yang hasilnya antara 1,92–3,83 t/ha.


Keragaan tanaman kedelai di lapang dan penjelasan teknologi budidaya.


Sambutan Kepala Balitkabi (kiri), sambutan Kepala Diperta Nganjuk (tengah), dan peserta temu lapang 3 Mei 2016 (kanan).

Kepala Balitkabi, Dr. Didik Harnowo, menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi kedelai nasional, di tengah-tengah permasalahan tataniaga dan harga kedelai. Harapannya teknologi yang telah diperagakan sesegera mungkin diterapkan oleh petani (inovasi) sehingga memberikan tambahan ekonomi. Juga disampaikan oleh Kepala Diperta Nganjuk, bahwa kedelai berperan sebagai penyedia protein bagi anak cucu. Kedelai berperan penting sebagai peningkat hasil bawang merah, bahkan petani Brebes tertarik untuk mengembangkan teknologi seperti yang telah dilakukan di Desa Banaran Wetan ini. Harapan jajaran Dinas Pertanian, teknologi yang telah diperagakan secepatnya diterapkan dan dikawal oleh penyuluh, dan jika perlu didampingi oleh peneliti Balitkabi, jangan menunggu 4 tahun, musim ini sudah bisa diterapkan.

Harapan petani terhadap varietas kedelai adalah disamping berumur genjah produktivitasnya juga harus tinggi. Ketersediaan benih masih dirasakan sulit oleh petani, sehingga petani menggunakan benih asalan, kedelai karungan di pasar. Juga disampaikan bahwa kedelai yang dipanen pada saat curah hujan masih tinggi mengalami kesulitan penanganan pasca panen, sehingga kualitas kedelai kurang baik dan tidak tahan disimpan. Harga saat panen raya menjadi keluhan petani yang belum pernah teratasi dari jaman harga kedelai Rp825/kg hingga Rp6.000/kg. Karenanya disampaikan sakjane petani kedelai boleh menikmati hasil dele opo nggak, alangkah indahnya jika harga kedelai menjadi layak.

MMA