Berita ยป State of the Art Litkajibangrap

Temu koordinasi Peneliti, Perekayasa, dan Penyuluh lingkup Badan Litbang Pertanian, regional II Surabaya, dibuka oleh Kepala Badan Litbang Pertanian yang diwakli oleh Kepala Puslitbang Perkebunan, 15 Februari 2013. Temu Koordinasi yang bertemakan Konsolidasi manajemen litkajibangdiklatluhrap mempercepat terobosan operasionalisasi program terobosan inovasi pertanian, diikuti oleh 554 peserta.

Tujuan dari Temu Koordinasi ini adalah membahas status terkini (state of the art) litkajibangrap dan memformulasikan pemantapan operasionalisasi desentralisasi rencana aksi dalam rangka percepatan pencapaian sasaran Badan Litang Pertanian mendukung program strategis Kementan. Dr. M Syakir, menyampaikan tiga pilar SDM, peneliti, penyuluh, perekayasa, merupakan kekuatan yang harus disatupadukan untuk menuntaskan dan mempercepat program strategis Kementerian Pertanian. Tantangan dan perubahan lingkungan strategis semakin menuntut output yang semakin nyata berupa inovasi yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi tetapi sekaligus bernilai ilmiah tinggi juga.

Informasi mengagumkan muncul dari sambutan Ketua LIPI, Prof. Dr. Lukman Hakim, saat menyampaikan arahan Kebijakan pengembangan karier dan profesionalisme peneliti. Prof Lukman menyampaikan bahwa posisi Badan Litbang Pertanian semakin strategis. LIPI semakin merasakan peran Badan Litbang Pertanian semakin nyata pada beberapa tahun terakhir. LIPI selalu digandeng oleh Badan Litbang Pertanian. Fakta terkini dalam webometric posisi Badan Litbang Pertanian naik dari posisi awal 290 menjadi 83. PosisiLIPI juga semakin baik, dari 99 menjadi 56. Artinya dalam pencaturan kelitbangan dunia, Indonesia diwakili oleh dua lembaga yaitu LIPI dan Badan Litbang Pertanian.

Peneliti seharusnya semakin berkinerja lebih baik dan bersyukur, karena dua hal, yakni peningkatan finansial (Tukin dan Tunjangan Fungsional) dan semakin kuatnya pengakuan pemerintah akan peran peneliti, yang diimplementasikan oleh semakin kuatnya penganggaran untuk penelitian. Tetapi apakah yang terjadi, pemerintah mencanangkan anggaran R&D tahun 2014 mencapai 1% dari PDB, yang posisi saat ini hanya 0,05% dari PDB. Bandingkan dengan Cina yang pada tahun 1986 hanya 0,6% dari PDB, kemudian mempercepatnya kenaikan anggaran R&D naik 20% dari PDB setiap tahun, dan setelah 20 tahun anggaran R&D Cina mencapai 1,68% dari PDB, angka yang cukup tinggi di dunia. Gambaran tersebut dimaknai dan menjadi pelajaran mengapa kemajuan saintifik di Cina berkembang begitu cepat. Rendahnya anggaran untuk R&D di Indonesia, tidak hanya karena bersumber dari anggaran pemerintah, tetapi juga masih lemahnya dukungan swasta pada R&D.

Peneliti dimintamengingat kembali Empat Pilar Peneliti yaitu etika, aturan, penjenjangan, dan institusi terpercaya. Etika harus menjadi landasan terpenting dalam melakukan penelitian, dalam menghasilkan inovasi. Saat ini kandungan saintifik semakin kental sebagai landasan pengambilan kebijakan. Kebijakan yang tidak didasari oleh landasan saintifik akan tumbang lebih cepat.

Yang harus diingat, posisi dan harga diri peneliti ada di kompetensi.

MMA/AW