Berita » Sulawesi Selatan Siap Sebagai Produsen Benih Kedelai

Provinsi Sulawesi Selatan atas pertimbangan ketersediaan lahan, kondisi iklim, dan kemampuan petani/kelompok tani, dapat dijadikan sebagai penghasil benih kedelai yang sangat potensial. Berdasarkan sebaran iklimnya, wilayah provinsi Sulawesi Selatan dipilah menjadi tiga sektor, yakni: (a) Sektor Barat, (b) Sektor Timur, dan (c) Sektor Peralihan. Wilayah Sektor Barat musim hujannya berlangsung antara Oktober/November – Juni/Juli, dan musim kemarau antara Juli/Agustus – September/Oktober. Wilayah Sektor Timur kondisi iklimnya berkebalikan dengan Sektor Barat. Apabila Sektor Barat memasuki musim hujan, maka Sektor Timur memasuki musim kemarau; demikian pula jika Sektor Barat musim kemarau maka Sektor Timur musim hujan. Karena kondisi iklimnya yang khas seperti itu, maka provinsi Sulawesi Selatan akan dapat memproduksi benih kedelai yang berkualitas untuk memenuhi jadwal tanam kedelai sepanjang tahun di Indonesia, melalui program Jalur Benih Antar Lapang Antar Musim (JABALSIM). Mempertimbangkan potensi Sulawesi Selatan sebagai produsen benih kedelai yang berkualitas, maka Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) dan BPTP-Sulawesi Selatan memandang penting untuk melakukan pembinaan petani/kelompok tani sebagai penangkar benih kedelai di Sulawesi Selatan. Tujuan temu lapang pembinaan penangkar ini adalah untuk memperkuat tekat, dan memperbarui komitmen atas pentingnya penyediaan benih kedelai untuk mensukseskan program peningkatan produksi kedelai mencapai swasembada.

Hamparan pertanaman kedelai dihadapan kita adalah varietas Anjasmoro dan Grobogan, merupakan calon benih kelas SS yang dapat dikembangkan untuk produksi benih ES, display varietas BPTP terdiri dari Varietas Anjasmoro, Grobogan, Argomulyo, dan Mahameru merupakan varietas pilihan petani di Sulawesi Selatan. Tanaman kedelai tumbuh dengan baik dan ini merupakan bukti nyata bahwa Sulawesi Selatan dapat sebagai gudang benih kedelai di Indonesia. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sulawesi Selatan pak Luthfi mengucapkan terima kasih kepada Badan Litbang Pertanian yang telah mampu menggunakan lahan sawah dengan pola tanam padi-padi-bero menjadi padi-padi-kedelai. Nilai tambah pertanaman kedelai di lahan ini dapat meningkatkan IP 200 menjadi 300, dan yang lebih penting lagi bahwa benih kedelai mempunyai arti yang sangat besar dalam rangka pemenuhan kebutuhan benih kedelai yang sering menjadi masalah. Keinginan Kepala Dinas Sulawesi Selatan untuk mengembangkan pertanaman kedelai di Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros seluas 5.000 ha telah disepakati oleh lembaga terkait dan kelompok tani. Kepala Dinas berjanji akan membantu pengadaan pompa air yang di perlukan pada musim kemarau. Badan Litbang Pertanian siap untuk pendampingan teknologi produksi benih kedelai kata Pak Hasil Sembiring Kepala Puslitbangtan. Temu wicara dalam rangka Pembinaan Penangkar Lokal Benih Kedelai Mendukung Sistem Perbenihan JABALSIM di Sulawesi Selatan di Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2013 dan dihadiri 150 orang yang terdiri dari Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sulawesi Selatan, Kepala Dinas Kabupaten Maros, Sopeng, Wajo, Kepala Pusat Penelitian Tanaman Pangan, perwakilan Direktorat Perbenihan dan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, penyuluh, penangkar, petani, dan peneliti/penyuluh BPTP Sulawesi Selatan. Turut hadir peneliti senior Balitkabi Prof. Dr. Subandi penanggung jawab kegiatan penangkaran benih kedelai, Prof. Dr. Marwoto koordinator program Balitkabi, Dr. A. A. Rahmianna penanggung jawab Diseminasi dan Ir. M. Anwari selaku penanggungjawab UPBS Balitkabi.

Gambar 1. Panen benih kedelai SS oleh Kepala Dinas Pertanian Sulawesi Selatan, Kepala Puslitbangtan, Danramil, dan Camat Simbang.

Gambar 2. Keinginan untuk mengembangkan kedelai Ka Dinas Pertanian Sulawesi Selatan, Kapuslitbangtan disaksikan oleh Camat, Dan Koramil dan Peneliti.

Gambar 3. Kepala Dinas Pertanian Sulawesi Selatan semangat untuk mengembangkan kedelai, Ka Puslitbangtan membantu pendampingan teknologi.

Marwoto/Eriy