Berita ยป Swab PCR untuk Deteksi dan Cegah Covid-19 di Balitkabi

pcr pcr
pcr1 pcr2
Pelaksanaan swab PCR di Balitkabi

Sebanyak 169 orang ASN dan non ASN Balitkabi menjalani swab PCR massal. Tes tersebut terbagi dalam dua hari untuk menyesuaikan kapasitas alat dan menghindari kerumunan. Kegiatan ini dipusatkan di Aula Balitkabi yang dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2021 dan 27 Juli 2021. Uji swab PCR ini merupakan tindak lanjut Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Nomor: 2329/SE/KP.370/A/06/2021 tanggal 25 Juni 2021 tentang Panduan Lanjutan Sistem Kerja Kementerian Pertanian dalam Masa Pandemi Covid-19. Di dalam edaran tersebut ditekankan untuk percepatan penanganan Covid-19 di daerah melalui kegiatan 3T, yaitu Testing (Pemeriksaan), Tracing (Pelacakan), dan Treatment (Pengobatan).

Tes swab PCR merupakan metode pelacakan yang lebih tepat untuk mendeteksi infeksi akibat Covid-19. Tes ini merupakan rekomendasi yang dibuat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Waktu yang dianjurkan untuk melakukan tes swab adalah dua hari setelah seseorang dalam kondisi tertentu menderita batuk, demam, atau sesak napas. Swab test merupakan bagian dari metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Sampel tes yang digunakan adalah lendir yang diambil dari bagian dalam hidung (nasofaring) atau tenggorokan (orofaring) seseorang.

Sebelum pelaksanaan swab tes massal di Balitkabi, didahului dengan sosialisasi mengenai hasil swab PCR. Hasil sosialisasi tersebut sejalan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020, yang dikeluarkan tanggal 28 Juli 2020, bahwa pasien Covid-19 yang berstatus orang tanpa gejala (OTG) dan bergejala ringan, tidak perlu dites swab PCR ulang dan wajib melakukan isolasi mandiri di rumah. Begitu juga jika pasien OTG dan bergejala ringan setelah 10 hari isolasi tanpa gejala pemburukan dites PCR ulang dan hasilnya positif, maka yang bersangkutan tidak berpotensi menularkan ke orang lain. Artinya, hasil tes PCR yang positif itu tidak infeksius atau tidak berpotensi menularkan. Hal itu karena masih ada bagian dari RNA virus yang tersisa di dalam tubuh, walau tidak lagi infeksius. Itu sebabnya setelah karantina, orang dengan kondisi demikian sudah bisa dinyatakan sembuh dan boleh beraktivitas seperti biasa.

ELY