Berita » Tahan Pecah Polong, Karakter Spesifik Calon VUB Kedelai

sempuslit

Peneliti Balitkabi, Ayda Krisnawati, S.P., M.Sc. berkesempatan menjadi narasumber tentang Keragaan galur-galur harapan kedelai tahan pecah polong, bersama dengan pembicara lainnya yakni Prof. Dr. Zulkifli Zaini yang menyampaikan Pemerataan peningkatan produksi padi antar wilayah melalui penerapan teknologi spesifik lokasi pada kesempatan seminar rutin di Puslitbang TP pada tanggal 12 Mei 2016. Seminar dihadiri oleh peneliti lingkup Balitbangtan, pengajar, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, dan pihak swasta (stakeholder).

Lingkungan budidaya kedelai terluas yang berada di bulan Juni/Juli hingga September/Oktober (musim kemarau II) berpeluang memicu terjadinya pecah polong (pod shattering), dan kejadian tersebut diperparah manakala terjadi kelangkaan tenaga kerja yang menyebabkan terjadinya penundaan panen. Pecah polong secara langsung akan menurunkan produksi kedelai melalui kehilangan hasil yang bisa mencapai 34–100%. Besarnya kehilangan hasil akibat pecah polong ditentukan oleh waktu panen, kondisi lingkungan, dan ketahanan dari varietas kedelai yang digunakan.


Pemaparan materi oleh Ayda Krisnawati, S.P. M.Sc. (kiri), peserta seminar (tengah), dan diskusi dengan jurnalis Sinar Tani (kanan).

Ketahanan pecah polong dikendalikan secara genetik, sehingga berpeluang dilakukan perbaikan ketahanan kedelai terhadap pecah polong. Perakitan varietas kedelai tahan pecah polong, berdaya hasil tinggi, dan berukuran biji besar telah dilakukan di Balitkabi dengan menggunakan sumber gen tahan pecah polong dari varietas Anjasmoro. Saat ini telah dperoleh dua galur harapan yang berpotensi diusulkan untuk dilepas sebagai varietas unggul yaitu G 511 H/Anjasmoro-1-4 dan G 511 H/Anjasmoro-1-2. Galur harapan G 511 H/Anjasmoro-1-4 dan G 511 H/Anjasmoro-1-2 tergolong tahan terhadap pecah polong, identik ketahanannya dengan varietas Anjasmoro, sedangkan varietas Grobogan tergolong sangat rentan terhadap pecah polong. Karakteristik agronomik dari G 511 H/Anjasmoro-1-4 adalah berumur genjah (79 hari) dan bijinya tergolong besar (16,33 g/100 biji). Galur G 511 H/Anjasmoro-1-2 juga tergolong berumur masak genjah (78 hari) dan ukuran bijinya juga tergolong besar (15,37 g/100 biji). Kandungan protein dari galur G 511 H/Anjasmoro-1-2 mencapai 40,11%, lebih tinggi dibandingkan galur G 511 H/Anjasmoro-1-4, Anjasmoro maupun Grobogan.

Pada saat diskusi dipertanyakan peluang pengembangannya pada lahan sub-optimal, termasuk ketahanannya terhadap hama dan penyakit utama, serta seberapa kuat peran nutrisi tanah khususnya kalium dalam menentukan ketahanan terhadap pecah polong. Dua galur harapan tahan pecah polong akan diusulkan ke Kementerian Pertanian untuk dinilai kelayakannya dan dilepas sebagai varietas unggul baru.

AyK