Berita » Teknologi Produksi Kacang dan Umbi di Lahan Suboptimal Diseminarkan

semnas

Kebutuhan akan pangan terus meningkat, namun di sisi lain tersedianya lahan subur (optimal) terus menciut akibat kurangnya pemeliharaan kesuburan tanah/konservasi, dan akibat alih fungsi lahan. Menciutnya lahan optimal tidak dapat dielakkan dan akan terus bertambah. Kondisi ini mengancam produksi pangan domestik. Oleh karena itu produksi pangan harus mencari alternatif dengan memanfaatkan lahan suboptimal. Meski secara wilayah lahan suboptimal tersebar cukup luas di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, namun masing-masing lahan suboptimal memiliki kekhususan masalah yang harus diatasi untuk budidaya tanaman pangan. Untuk tujuan itu Puslitbang Tanaman Pangan menyelenggarakan Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi pada 25 Mei 2016. Seminar dengan tema “Inovasi Teknologi Lahan Sub Optimal untuk Pengembangan Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Mendukung Pencapaian Kedaulatan Pangan“, bertujuan untuk mengkomunikasikan kemajuan teknologi dan inovasi akabi yang telah dihasilkan serta meng­himpun umpan balik dari pemangku kepen­tingan (stakeholders) dan pengguna untuk mempertajam program guna mendukung pencapaian tujuan pemba­ngunan pertanian, khususnya komoditas aneka kacang dan umbi digelar di Aula Balitkabi, Malang.

Seminar Nasional dibuka oleh Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Dr. Muhammad Prama Yufdy, mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian. Tiga pembicara utama memaparkan makalah kunci, yaitu: 1) Arah penelitian tanaman aneka kacang dan umbi pada lahan sub optimal mendukung kedaulatan pangan, oleh Bpk. Dr. Ali Jamil, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan; 2) Karakteristik dan potensi lahan sub optimal untuk pengembangan aneka kacang dan umbi, oleh Bpk Dr. Dedi Nursyamsi, Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian; dan 3) Inovasi teknologi lahan sub optimal untuk pengembangan tanaman aneka kacang dan umbi mendukung pencapaian kedaulatan pangan, oleh Ibu Prof. Dr. Siti Herlina, Pusat Unggulan Riset Pengelolaan Lahan Sub Optimal, Universitas Sriwijaya. Seminar diikuti oleh sekitar 200 peserta berasal dari Badan Litbang Pertanian, Perguruan Tinggi, Dinas Pertanian dan mahasiswa.

Dalam sambutannya, Dr. Prama Yufdy menyampaikan bahwa pembangunan pertanian di Indonesia, ke depan akan menghadapi berbagai isu penting, diantaranya adalah : 1) masalah penyediaan pangan yang harus cukup, baik dari segi jumlah maupun kualitas, 2) perubahan iklim sebagai dampak pemanasan global, 3) pasar global, dan 4) persaingan pemanfaatan lahan dan air. Terkait dengan berbagai isu tersebut, Kementerian Pertanian telah menetapkan Visi Pembanguan Pertanian ke depan (2015-2019), yaitu Terwujudnya Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani, dengan target swasembada 7 komoditas strategis, yakni : padi, jagung, kedelai, gading sapi, gula, bawang merah, dan cabe.

Di sisi lain, Indonesia juga dihadapkan pada luas lahan optimal yang selama ini menjadi tumpuhan produksi pangan, arealnya terus berkurang beralih ke sektor non pertanian. Sementara itu kebutuhan pangan terus meningkat sejalan dengan terus bertambahnya jumlah penduduk. Badan Litbang pertanian, sebagai institusi penghasil inovasi teknologi bertugas mendukung program Dirjen Teknis dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan pertanian ke depan. Untuk itu kegiatan penelitian yang dilakukan harus dapat menghasilkan “lompatan teknologi modern” yang dapat mendukung program Dirjen teknis, utamanya dalam hal menghasilkan varietas adaptif dan teknologi spesifik lokasi yang mampu memelihara kelestarian sumberdaya hayati, dan meningkatkan serta memelihara kesuburan tanah secara berkelanjutan.

Tahun 2019 yakni di akhir periode Kabinet Kerja, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 268 juta jiwa. Apabila mengacu tingkat konsumsi beras, jagung, dan kedelai yang merupakan bahan pangan utama di Indonesia yang mencapai 114 kg, 5,93 kg dan 11,0 kg/kapita/tahun, kebutuhan komoditas tersebut tahun 2019 masing-masing akan mencapai 30,5 juta ton, 1,6 juta ton, dan 2,9 juta ton. Produksi beras dan jagung nasional tahun 2015 dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri karena mencapai 45 juta ton dan 19,8 juta ton, tetapi untuk kedelai masih dibutuhkan peningkatan yang cukup besar karena produksinya baru mencapai 983 ribu ton.

Untuk mendukung kedaulatan pangan, pemerintah telah berusaha keras meningkatkan produktivitas dan luas panen utamanya padi, jagung dan kedelai melalui berbagai bantuan sarpras danbimbingan usahatani. Keberhasilan untuk mencapai kedaulatan pangan, juga sangat ditentukan oleh kuatnya koordinasi, kerjasama, dan sinergisme program antar pemangku kepentingan, seperti Transmigrasi, Kehutanan, Pekerjaan Umum, Dalam negeri, Perdagangan, Pemerintah daerah, BUMN, Swata, dan Kelompok Tani.

Dr. Prama Yufdy menambahkan bahwa acara seminar semacam ini sangat penting dan diharapkan dapat diikuti oleh unit kerja lain di bawah Badan Litbang Pertanian. Hasil seminar diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai salah satu pendukung pembangunan pertanian untuk mencapai kedaulatan pangan.


Pembukaan seminar nasional dan pengarahan Kepala Badan Litbang Pertanian
yang disampaikan oleh Sekretaris Badan Litbang Pertanian. Dr. Muhammad Prama Yufdy.


Peserta seminar nasional hasil penelitian tanaman aneka kacang dan umbi tahun 2016.

KN/AW