Berita ยป Teknologi sebagai Indikator Kinerja Utama: Apa dan Bagaimana?

bandi

Sebagai bentuk pertanggungjawaban penggunaan anggaran, maka setiap organisasi/institusi pemerintah yang memperoleh anggaran dari APBN diwajibkan menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU) atau dikenal dengan istilah anggaran berbasis kinerja.

IKU adalah ukuran kuantitatif dan/atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang ditetapkan organisasi. Oleh karena itu, indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang dapat dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk melihat dan menilai tingkat kinerja baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun terselesaikannya dan berfungsinya hasil kegiatan. Balitkabi dibawah Kementrian Pertanian merupakan lembaga riset terapan yang dituntut untuk cepat menghasilkan teknologi ataupun inovasi. Hal ini berbeda dengan lembaga riset dasar yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan teknologi. Teknologi atau inovasi yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pembangunan pertanian secara berkelanjutan. Inti sasaran dari pembangunan pertanian adalah menghasilkan bahan pangan, pakan, industri, energi, peningkatan produksi atau produktivitas, peningkatan pendapatan/kesejahteraan petani, memiliki daya saing (teknologi murah dan kualitas baik) serta berkelanjutan. Oleh karena itu, teknologi yang dihasilkan harus dapat diterapkan secara teknis, dapat diterima secara sosial, menguntungkan (ekonomis) bagi petani/masyarakat, dan aman bagi lingkungan.

Prof. Dr. Subandi selaku Ketua Tim Kelayakan Teknologi dan Karya Tulis Ilmiah di Balitkabi menyampaikan bahwa kondisi yang ada saat ini, Balitkabi sudah banyak meneliti dan menghasilkan komponen dan/atau rakitan teknologi budidaya, selain itu institusi riset di luar Balitkabi juga melakukan hal yang sama/serupa. Agar tidak terjadi tumpang tindih, maka perbaikan teknologi akan lebih menonjol daripada merakit teknologi yang baru. Prof. Dr. Subandi menekankan bahwa rekomendasi teknologi yang diberikan harus utuh, mencakup varietas unggul, budidaya tanaman, pengendalian hama dan penyakit tanaman, dan pascapanen sehingga rekomendasi teknologi produksi dapat optimal. Untuk menghasilkan rekomendasi teknologi yang utuh maka dibutuhkan perencanaan dan pelaksanaan yang matang, antara lain: perencanaan dituangkan dalam Matriks Program (5 tahun), dilakukan oleh tim peneliti terpadu (agronomi, pemuliaan, proteksi, dan sosial ekonomi), evaluasi kelayakan proposal, evaluasi selanjutnya untuk melihat progres dan permasalahan (kalau ada).

RTH