Berita » Temu Tani di Sulawesi Tenggara

Pengembangan penangkar benih kedelai berbasis pedesaan di Sulawesi dalam upaya percepatan distribusi benih varietas kedelai nasional merupakan salah satu solusi peningkatan produksi kedelai. Selama ini, kegiatan pertanian kedelai lebih terkonsentrasi di pulau Jawa, padahal pulau Sulawesi berpotensi sebagai lumbung kedelai nasional. Sulawesi Tenggara memiliki peluang yang luas untuk sentra pengembangan kedelai. Peluang untuk perluasan areal tanam kedelai di lahan kering seluas 36.944,4 ha dan lahan sawah dengan intensitas tanam padi satu kali per tahun seluas 6.338,1 ha.

Keragaan tanaman kedelai di Desa Mekar Jaya, Kec. Baito, Kab. Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara Melalui program Insentif Riset SINas 2013 yang didanai oleh Kemenristek, staf peneliti Balitkabi yaitu Apri Sulistyo, Ratri Tri Hapsari dan Arifin, serta Lawu Joko Santoso selaku tim Monev berkesempatan untuk melakukan temu tani di desa Mekarjaya, Kec. Baito, Kab. Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Kegiatan temu tani “Pengembangan penangkar benih kedelai berbasis pedesaan di Sulawesi” dihadiri sekitar 30 peserta yang terdiri dari petani dan beberapa penyuluh lapangan. Pada kesempatan tersebut turut hadir pula Kepala Daerah Kec. Baito (Bapak Ivan Ardiansyah), Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kec. Baito (Bapak Syamsul), Kepala Koordinator Penyuluh Kec. Baito (Bapak Darwis).

Lawu Joko Santoso, Apri Sulistyo, dan Ratri Tri Hapsari, mempresentasikan tentang profil Balitkabi, VUB kedelai, dan teknik produksi benih kedelaiPak Ivan Ardiansyah, dalam sambutannya menyambut gembira kegiatan pengembangan penangkar benih kedelai lokal dan berharap dengan adanya penangkar benih kedelai ditingkat desa akan membantu mengantisipasi kelangkaan benih kedelai dan dapat memenuhi kebutuhan benih kedelai di desa Mekarjaya pada khususnya dan di Kecamatan Baito pada umumnya. Bapak Syamsul selaku Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura mengemukakan bahwa gerakan tanam kedelai raya seluas 400 ha di tahun 2014 juga rencananya akan diadakan di Kecamatan Baito. Pada kegiatan temu tani tersebut, Pak Lawu selaku perwakilan dari Balitkabi mempresentasikan tentang profil balai dan dilanjutkan dengan presentasi tentang pengenalan varietas unggul kedelai oleh Apri Sulistyo dan teknik produksi benih kedelai oleh Ratri Tri Hapsari. Selama acara berlangsung juga diadakan tanya jawab dengan petani. Dari hasil diskusi tersebut, diketahui bahwa harga kedelai di Mekarjaya cukup bagus, berkisar antara Rp 9000- Rp 10000. Kedelai yang dihasilkan biasanya langsung dijemput oleh pengrajin tempe dan tahu yang ada di Kabupaten Konawe Selatan. Hingga saat ini, benih kedelai yang ditanam masih mengandalkan bantuan dari Dinas/PPL. Beberapa petani sangat menyambut positif program penangkaran benih kedelai. Masalah kesuburan tanah dan penyimpanan benih kedelai masih menjadi kendala dalam produksi kedelai di desa Mekarjaya.


Para peserta temu tani dan suasana diskusi

RTH/Apri/AW