Berita » Tim Pemburu Tikus IP2TP Ngale Kembali Beraksi

Memburu tikus di IP2TP Ngale Balitkabi

Memburu tikus di IP2TP Ngale Balitkabi

Hasil pengamatan di IP2TP Ngale pada hari Kamis, 12 Agustus 2021, menunjukkan keberadaan lubang aktif tikus yang cukup banyak dan tersebar disepanjang tanggul jalan pembatas hamparan sawah. Lubang aktif merupakan tempat tinggal induk betina yang biasanya sedang dalam status perkembangbiakan aktif (bunting atau sedang menyusui cindil). Ciri khas lubang aktif ditandai dengan butiran tanah didepan pintu masuk. Lubang inilah yang menjadi salah satu dari sekian penanda keberadaan tikus di wilayah sekitarnya. Disamping itu, juga ditemukan banyak sekali jejak kaki tikus (foot print) di sekitar pematang yang masih basah. Keberadaan tikus juga dikonfirmasi dengan ditemukannya run way (jalur pergerakan rutin) di beberapa petakan sawah. Bahkan tikus juga sudah mulai menyerang tanaman padi umur satu bulan, juga pertanaman kacang hijau. Cirinya adalah beberapa rumpun padi sudah diserang dengan menyisakan potongan daun segar di tengah petakan. Sejumlah polong kacang hijau juga berserakan di bawah kanopi yang merupakan sisa serangan tikus di beberapa sisi hamparan pertanaman.

Kondisi tersebut memberikan sinyal untuk segera dilaksanakan kegiatan pengendalian tikus melalui gropyokan dan pengemposan menggunakan asap belerang. Tenaga harian dan ASN IP2TP Ngale terlibat dalam kegiatan ini. Pengamatan lubang aktif dan pengemposan dilakukan pada hampir semua lahan di IP2TP Ngale. Ternyata jalan tengah sawah yang membelah hamparan sisi barat dan timur merupakan habitat utama tikus dan sumber populasi yang menjadi fokus kegiatan ini. Ditemukan sekitar 40 lubang aktif disisi kiri dan kanan jalan tengah hamparan. Selain itu, ditemukan dua ekor ular kobra keluar dari lubang berbeda pada saat dilakukan pengemposan.

Untuk menekan populasi tikus di IP2TP Ngale, kegiatan pengendalian akan dilakukan secara rutin dan berkesinambungan. Komponen pengendalian tikus secara terpadu dalam satu musim tanam akan segera direalisasikan agar kehilangan hasil dapat diminimalkan. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa kunci keberhasilan pengendalian tikus adalah harus dilakukan secara berkelompok, berkesinambungan dan serentak dalam skala hamparan. Penerapan komponen pengendalian lainnya, seperti sanitasi lingkungan, pemasangan LTBS (Linear Trap Barrier System), serta penggunaan umpan yang tepat waktu serta tepat sasaran perlu dicermati kembali agar diperoleh hasil maksimal. Hal ini harus menjadi prioritas utama, karena selama ini hama tikus di IP2TP Ngale selalu menjadi masalah dari musim ke musim. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan ketersediaan pakan yang berlimpah dan terus menerus di lapangan, sehingga mendukung perkembangbiakannya serta tidak terputus. Pertanaman padi sebagai sumber pakan utama hama tikus menjadi pemicu perkembangbiakannya dan disambung dengan ketersediaan pertanaman lain (kacang hijau, kedelai dan jagung) sebagai penopang pakan berikutnya. Dengan mengacu pada rata-rata jumlah cindil yang dilahirkan setiap induk betina adalah 10 ekor dan masa kebuntingan hanya tiga minggu serta kemampuan kawin lagi dalam kisaran 48 jam setelah melahirkan, dapat dibayangkan seberapa dahsyatnya ledakan populasi yang akan terjadi apabila tidak ditangani dengan lebih serius. Tantangan berikutnya adalah mencoba melibatkan dan mengedukasi petani yang berdampingan dengan IP2TP Ngale untuk lebih memahami konsep pengendalian hama tikus secara terpadu melalui pendekatan bioekologi.

NAH – IP2TP Ngale

Run way (jejak pergerakan) Lubang aktif
Jejak pergerakan atau Run way (kiri) dan lubang aktif (kanan)
tikus3 tikus4
Foot print atau bekas jejak tikus (kiri) dan Pembongkaran lubang setelah fumigasi (kanan)
Ciri khas tikus sawah (R. argentiventer, Rob & Kloss) dengan warna putih keabuan pada bagian ventral serta ekor lebih pendek dari panjang kepala dan badan Tikus sawah hasil fumigasi
Ciri khas tikus sawah (R. argentiventer, Rob & Kloss) dengan warna putih keabuan pada bagian ventral serta ekor lebih pendek dari panjang kepala dan badan (kiri) dan tikus sawah hasil fumigasi (kanan)