Berita » Tumpangsari Porang dengan Ubi Kayu

Harus diakui saat ini, porang telah tampil menjadi komoditas umbi-umbian yang selalu diburu dan dicari oleh masyarakat petani dan pebisnis. Kenapa? Tentu karena tersimpan nilai ekonomi yang menggiurkan di umbi porang. Pepatah, ada gula, ada semut, nampaknya berlaku untuk komoditas porang.

Porang sendiri memiliki wilayah adaptasi yang sangat luas, dari adaptasinya pada lintas elevasi, jenis tanah, bahkan salah satu keunggulannya adalah toleransinya terhadap naungan. Dulunya, porang memang dominan dikembangkan di dataran menengah hingga dataran tinggi, dan dibudidayakan di bawah tegakan pohon. Saat ini, porang telah merambah pengembangannya ke dataran rendah, walaupun sebagian tetap mempertahankannya pada kondisi bernaungan.

Peneliti Balitbangtan di Balitkabi, Dr. Ir. Muchdar Soedarjo, M.Sc., menyampaikan bahwa porang menjadi komoditas agribisnis, umumnya ditanam di tegalan, diantara tegakan pohon untuk naungan. Peluang pengembangannya di lahan sawah, nampaknya porang harus tetap ternaungi agar tumbuh normal. Penjelasannya karena porang memang tidak tahan terhadap terpaan sinar matahari langsung. Menariknya, Muchdar mencoba mengembangkannya dengan cara ditumpangsarikan dengan ubi kayu. Caranya, ubi kayu ditanam 1-2 bulan sebelum porang ditanam, dengan arah barisan timur ke barat. Lebih rinci disampaikan bahwa uji coba yang dilakukan di Kecamatan Pakuniran (Kabupaten Probolinggo) seluas 0,5 ha, ubi kayu ditanam secara double row, dengan jarak tanam 2,4 m × 1m × 0,6 m dan jarak tanam porang adalah 60 cm × 50 cm.

Pola tumpangsari porang dengan ubi kayu baru dicoba oleh Balitkabi. Peluang inovasi teknologi untuk memperluas areal tanam porang di Indonesia.

Pertanaman tumpangsari porang dengan ubi kayu

Pertanaman tumpangsari porang dengan ubi kayu

Daun tanaman porang yang terpapar sinar matahari langsung

Daun tanaman porang yang terpapar sinar matahari langsung

MS