Berita » Ubi Jalar dari Magetan Menuju Pasar Ekspor

Temu Lapang Petani Ubi Jalar  Kelompok Tani “Kelang Sari” di Desa Campursari, Sidorejo, Magetan, 10 Oktober 2019

Temu Lapang Petani Ubi Jalar Kelompok Tani “Kelang Sari” di Desa Campursari, Sidorejo, Magetan, 10 Oktober 2019

Kabupaten Magetan merupakan salah satu sentra penghasil ubi jalar di Jawa Timur. Luas produksi ubi jalar di Magetan mencapai 476 ha. Eksportir ubi jalar mengincar Magetan sebagai sumber pasokan ekspor ubi jalar.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. Jawa Timur melalui Dinas Pertanian Kab. Magetan mengadakan Temu Lapang Petani atau Farm Field Day (FFD) komoditi Ubi jalar, pada tanggal 10 Oktober 2019 Kelompok Tani “Kelang Sari” desa Campursari, kecamatan Sidorejo, kabupaten Magetan. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka evaluasi program pengembangan ubi jalar Propinsi Jawa Timur oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. Jawa Timur.

Luas lahan ubi jalar pada area FFD mencapai 70 ha. Kegiatan temu lapang ini dihadiri oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. Jawa Timur, Dinas Pertanian Kab. Magetan, PPL, perangkat desa, anggota kelompok tani “Kelang Sari, Balitkabi, serta pengusaha ubi jalar.

Kegiatan temu lapang meliputi kunjungan ke pertanaman ubi jalar serta pertemuan dan diskusi dengan narasumber. Acara FFD dibuka oleh Sumarno ,S.P. Kabid. Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Kab. Magetan.. Sumarno berpesan agar seluruh peserta dapat menggunakan kesempatan ini untuk memperoleh solusi permasalahan ubi jalar yang dihadapi.

Suasana pemaparan materi oleh Joko Restuono dari Balitkabi (kiri) dan peserta FFD ubi jalar di Magetan (kanan).

Suasana pemaparan materi oleh Joko Restuono dari Balitkabi (kiri) dan peserta FFD ubi jalar di Magetan (kanan).

Diskusi berlangsung hangat dan menarik. Salah satunya pertanyaan dari peserta FFD adalah cara mendapatkan ubi jalar berukuran sedang untuk memenuhi permintaan ekspor. Narasumber dari Balitkabi Joko Restuono, S.P. menjelaskan untuk mendapatkan ubi jalar berukuran sedang adalah dengan perlakuan khusus saat tanam, yaitu memasukkan stek sepanjang 4-5 ruas ke dalam tanah. Pada umumnya, saat tanam stek yang dimasukkan ke dalam tanah sepanjang 2-3 ruas. Tak lupa Joko juga memperkenalkan varietas unggul yang telah dirilis Balitbangtan. Adapun varietas yang berkembang di kab. Magetan adalah Cilembu dan Kuningan Putih. Disampaikan pula kepada petani untuk memperbarui stek apabila telah digunakan empat (4) kali secara turun temurun agar produktivitas ubi jalar tidak mengalami penurunan.

Petani juga mengeluhkan kesulitan menumbuhkan stek yang berasal dari wilayah di luar Magetan. Disampaikan oleh Joko Restuono jika stek yang berasal dari luar lokasi penanaman memerlukan penanganan khusus selama pengangkutan, disamping itu juga memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Faktor lingkungan dan pengelolaan yang baik akan mendukung daya adaptasi stek yang baru di tanam. Apabila stek mampu beradaptasi, maka akan dapat tumbuh, berkembang dan berproduksi dengan baik.

Pada kesempatan ini, seorang pengusaha ubi jalar bapak Harsono juga menyampaikan jika pihaknya akan menerima semua jenis umbi segar dan akan dikirimkan ke kota besar antara lain Surabaya, Semarang dan Jakarta. Untuk itu perlu sinergi antara Petani, Pemerintah Pusat/Daerah, Pengusaha dan Balitbangtan untuk penyebaran dan pengembangan VUB ubi jalar.

Acara ditutup oleh Kusworo, S.P., M.Agr yang mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. Jawa Timur. Di akhir acara Kusworo berpesan semoga ilmu yang didapat hari ini, dapat membantu mengatasi masalah petani ubi jalar, sehingga kabupaten Magetan menjadi salah satu penyumbang ekspor ubi jalar.

JR