Berita » Uji Adaptasi di Tengah Kedelai Petani

Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu sentra kedelai di Jawa Timur dan itu konsisten hingga saat ini. Indikasinya luas tanam kedelai di Banyuwangi tidak berkurang dan minat petani menanam kedelai juga tetap tinggi. Balitbangtan telah menginisiasi Konsorsium Kedelai Nasional sejak 2008, yang tujuan utamanya adalah mempercepat pelepasan varietas kedelai di Indonesia. Pada tahun 2014 Konsorsium Kedelai Nasional diikuti oleh Balitkabi, Pair Batan dan BB Biogen dengan tiga sasaran yaitu kedelai adaptif lahan pasang surut, kedelai toleran kekeringan dan kedelai adaptif di lahan sawah.Salah satu lokasi pelaksanaan uji adaptasi kedelai toleran kekeringan dan kedelai adalah lahan sawah adalah di Muncar Banyuwangi. Observasi yang dilakukan pada saat tanaman berumur 47 hari (25 April 2014), keragaan tanaman uji adaptasi cukup bagus. Penelitian yang dilakukan di tengah-tengah hamparan kedelai petani paling tidak memberikan informasi akan keragaan calon varietas dan beberapa varietas kedelai yang digunakan sebagai pembanding.

Keragaan uji adaptasi kedelai di Muncar Banyuwangi
Petani banyak menanam varietas kedelai lokalTerdapat dua varietas lokal yang banyak ditanam oleh petani di sekitar kecamatan Muncar dan Purwoharjo, yang dinamai oleh petani sebagai varietas Martoloyo dan varietas Gedeg. Perbedaan menonjol dari kedua varietas lokal tersebut adalah Martoloyo berbulu coklat dan Gedeg memiliki bulu warna putih. Penuturan petani, kedua varietas tersebut sangat diminati oleh petani dan hasilnya rata-rata 7 sak per seperempat ha, atau sekitar 2,2 t/ha. Umurnya sekitar 83 hari dengan ukuran biji sedang sekitar 11–12 g/100 bijinya. Alasan petani tetap menanam kedelai adalah biayanya murah, penjualan mudah, dan keuntungan yang diperoleh juga relatif tinggi. Jika menanam jagung, selain biayanya mahal juga setelah panen jagung juga masih memerlukan biaya untuk menebang batang jagung. Hal tersebut dimaklumi, karena petani merencanakan penanaman kedelai dimulai sejak penanaman padi dengan merancang lebar bedengan sekitar 2–2,5 m. Belum lagi sebagian petani menanam kedelai ditumpangsari dengan tanaman jeruk maupun buah naga, yang tidak mungkin jika ditanam bersamaan dengan jagung. Artinya kedelai tetap diminati di Banyuwangi.MMA/AW