Berita » Upaya Mewujudkan Kawasan Mandiri Benih Kedelai di Nganjuk

Luas kedelai di Kabupaten Nganjuk sekitar 9.300 ha, dan salah satu daerah sentra adalah Kecamatan Rejoso dengan luas tanah 2.701 ha atau 29,2% dari luas panen kedelai di Kabupaten Nganjuk. Kedelai di Kecamatan Rejoso, dan di Kabupaten Nganjuk pada umumnya, diusahakan pada lahan kering dan lahan sawah.

Terdapat tiga musim tanam kedelai, yaitu

  1. pada awal musim hujan pada lahan kering di kawasan hutan,
  2. pada MK I (tanam bulan Februari/Maret) pada lahan sawah pengairan terbatas, dan
  3. pada lahan sawah pengairan teknis (tanam bulan Juni/Juli).

Lahan yang subur dan tersedianya air irigasi menjadi penopang tingginya produktivitas kedelai di wilayah ini (2,3 t/ha). Kajian usaha tani di wilayah ini menunjukkan bahwa selain faktor lahan, benih merupakan faktor penentu produktivitas dan efisiensi usaha tani.

Dengan luas tanam kedelai 9.300 ha, maka kebutuhan benih diperkirakan sebanyak 186 ton. Penyediaan benih yang berkualitas masih menjadi masalah utama. Benih bantuan pemerintah yang digulirkan untuk mendukung swasembada kedelai dirasa masih kurang memenuhi syarat baik dari segi varietas, kualitas maupun saat ketersediaannya.

Oleh karena itu, dibutuhkan benih yang berkualitas yang tersedia tepat waktu dengan varietas yang sesuai permintaan setempat. Untuk menjawab masalah tersebut, dibutuhkan penangkar benih kedelai di wilayah setempat.

Untuk melatih petani menjadi penangkar benih kedelai, maka pada tanggal 27‒28 Oktober 2015 dilakukan pelatihan “Pengembangan Model Mandiri Benih Kedelai Berbasis Masyarakat” yang diselenggarakan oleh BPTP Jawa Timur di Balai Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk.

Pelatihan diikuti oleh 40 peserta yang terdiri atas: PPL, Mantri Tani Kecamatan Rejoso, Gapoktan dan anggota kelompok tani Desa Mlorah. Kegiatan dibuka oleh kepala KUPTD Rejoso (Masmudi Djoko Nugroho). Dalam sambutannya, kepala KUPTD menyampaikan bahwa Kecamatan Rejoso merupakan salah satu sentra kedelai di Nganjuk, dan ketersediaan benih sesuai yang diinginkan petani setempat sulit dipenuhi.

Tiga orang peneliti Balitkabi diundang sebagai nara sumber pada kegiatan pelatihan tersebut, yang menyampaikan tiga topik utama yaitu:

  1. Pengenalan varietas unggul kedelai di Indonesia disampaikan oleh Ir. Suhartina, M.P.
  2. Teknologi produksi benih kedelai disampaikan oleh Ir. Abdullah Taufiq, M.P., serta
  3. Prosesing dan penyimpanan benih kedelai disampaikan oleh Ir. Didik Sucahyono, M.P.
Pembagian publikasi dari Balitkabi (kiri), Pembukaan oleh kepala KUPTD Rejoso (tengah), dan Penyampaian materi VUB kedelai oleh Ir. Suhartina, M.P. (kanan).

Pembagian publikasi dari Balitkabi (kiri), Pembukaan oleh kepala KUPTD Rejoso (tengah),
dan Penyampaian materi VUB kedelai oleh Ir. Suhartina, M.P. (kanan).

Penyampaian materi produksi benih kedelai oleh Ir. Abdullah Taufiq, M.P. (kiri), dan Prosesing dan penyimpanan benih kedelai oleh Ir. Didik Sucahyono, M.P. (kanan).

Penyampaian materi produksi benih kedelai oleh Ir. Abdullah Taufiq, M.P. (kiri),
dan Prosesing dan penyimpanan benih kedelai oleh Ir. Didik Sucahyono, M.P. (kanan).

Dari hasil diskusi terungkap bahwa kedelai yang ditanam petani di Rejoso sebagian besar adalah Varietas Wilis, Kaba dan Surya. Varietas Surya sesungguhnya sangat mirip dengan Varietas Anjasmoro. Dalam acara tersebut semua peserta menerima tiga booklet yang diterbitkan oleh Balitkabi yaitu:

  1. Teknologi produksi benih kedelai,
  2. Masalah hama penyakit dan hara tanaman kedelai, dan
  3. Deskripsi varietas unggul kedelai.

Diharapkan informasi dalam ketiga buku tersebut dapat digunakan sebagai acuan oleh petani yang akan menjadi penangkar benih kedelai. Dengan adanya tiga musim tanam kedelai, maka kawasan mandiri benih di Rejoso khususnya dan Kabupaten Nganjuk umumnya sangat mungkin terwujud melalui sistem jalur benih antar lapang antar musim (Jabalsim), karena terdapat tiga musim tanam kedelai yaitu:

  1. awal musim hujan pada di lahan kering kawasan hutan,
  2. pada MK I (Februari/Maret) pada lahan sawah irigasi terbatas setelah padi ke-I pada pola tanam padi-kedelai-bawang merah, dan
  3. pada MK II (Juni/Juli) pada lahan sawah beririgasi teknis dalam pola tanam padi-padi-kedelai.

Produksi benih kedelai di kawasan hutan telah diinisiasi oleh Pak Timin (penangkar kedelai di Nganjuk), dimana pada tahun 2013 telah mencapai luas 100 ha.

AT