Berita » UPBS, Titik Tolak Keberhasilan Pembangunan Pertanian

a-upbs_benih

Inovasi produksi pertanian berkelanjutan yang terdiri dari perbenihan, pengelolaan tanah, pemupukan, dan pengendalian Organisma Pengganggu Tanaman memegang peran penting dalam pembangunan pertanian. Namun dalam konteks pembangunan pertanian komprehensif, diperlukan ekstraksi, yaitu menarik inovasi perbenihan menjadi komponen yang harus diutamakan. Badan Litbang Petanian terus mengupayakan pembangunan Unit Pengelolaan Benih Sumber (UPBS) agar dapat digerakkan secara bersamaan untuk memenuhi kebutuhan benih di seluruh Indonesia. Demikian sari sambutan Dr. Haryono, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian saat meresmikan UPBS AgroInovasi Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) di Balitkabi (8/6) pagi.Keberhasilan produksi pertanian salah satunya ditentukan oleh adopsi benih varietas unggul baru. Oleh karena itu, UPBS sangat penting perannya dalam menyediaan benih sumber kualitas prima yang menjadi cikal bakal pengembangan benih untuk memenuhi kebutuhan benih di seluruh Indonesia. Dalam kaitan ini Dr Haryono menegaskan bahwa: “UPBS merupakan titik tolak keberhasilan pembangunan pertanian”. Selanjutnya beliau menuturkan bahwa saat ini dibangun UPBS di 33 provinsi. “UPBS tersebut kemudian digerakkan secara bersamaan”. Menurut Pak Haryono, UPBS Akabi merupakan UPBS terbesar yang seluruh pelayanan berada dalam satu unit atau satu atap. UPBS terbesar kedua adalah UPBS Padi di Balai Besar Padi di Sukamandi Jawa Barat. “UPBS Serealia yang ada di Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) di Maros Sulawesi Selatan juga sangat bagus. UPBS Akabi di Balitkabi yang dilengkapi dengan cool storage modern dan bangunannya lebih luas, memberi kesan mampu melayani kebutuhan benih dari Sabang sampe Merauke. Berdiri tahun 2005, UPBS Balitkabi pada tahun 2010 mendapat Sertifikat Sistem Managemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008 dari Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu (LSSM) Benih dan Bibit PT Agri Mandiri Lestari berlaku mulai 28 Juni 2010 hingga 27 Juni 2013, dengan ruang lingkup produksi benih penjenis (BS) tanaman kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan ubikayu. Sejak itu UPBS Agro Inovasi Akabi berhak melakukan Sertifikasi mandiri terhadap benih yang diproduksi. Pada tahun 2013, UPBS Agroinovasi Akabi oleh LSSM Benih dan Bibit ruang lingkupnya ditambah lagi untuk penyediaan benih penjenis (BS) ubijalar dan benih dasar (FS) kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau, berlaku mulai 28 Juni 2013 hingga 27 Juni 2016.Perlu disampaikan bahwa permintaan dan produksi benih di UPBS Agro Inovasi Akabi dari tahun 2009 hingga 2013 terus meningkat. Pada tahun 2013, UPBS telah memproduksi dan mendistribusikan 14,7 ton benih BS kedelai, kacang tanah 6,4 ton, dan kacang hijau 0,7 ton; serta benih FS kedelai 16,1 ton, kacang tanah 3,8 ton, dan kacang hijau 1,8 ton. Untuk ubikayu dan ubijalar masing-masing FS 54 ribu setek dan 34 ribu setek. Permintaan dan target produksi benih tahun 2014 jauh lebih tinggi, yakni BS dan FS kedelai, kacang tanah dan kacang hijau sebanyak 83 ton. Relasi UPBS Agro Inovasi Akabi meliputi: Direktorat Perbenihan, BPTP, Perguruan Tinggi, Dinas Pertanian, Penangkar Benih, dan petani.Pada kesempatan tersebut juga ditandatangani MoU antara Balitbangtan dengan Badan Litbang dan Informasi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam untuk pengembangan tanaman aneka kacang dan umbi di kawasan transmigrasi.Kepala Balitbangtan dan para undangan juga merasa surprise dengan hadirnya anak-anak Arema Kerawitan (AremaKer) yang mengawal peresmian UPBS Akabi dengan gending-gending rampak dan riang. AremaKer juga mengiringi prosesi peresmian dan penandatanganan MoU dengan Gending Bagimu Negeri. AremaKer yang bersemboyan “Merdeka Budaya Anak Negeri” merupakan kelompok arek-arek Kampung Celaket Kota Malang dibina oleh Achmad Winarto, staf Jasa Penelitian Balitkabi.

AW/Arif Harsono