Berita » Varietas Grobogan dan Anjasmoro Sangat Diminati Pengrajin Kripik Tempe Malang

tempe

Selain Apel, Kota Malang terkenal dengan oleh-oleh kripik tempe. Variasi rasa kripik tempe bermacam-macam, antara lain rasa balado, udang, jagung, ayam bakar, dan rasa lainnya termasuk rasa jeruk purut. Bahan dasar kripik tempe adalah kedelai. Namun sebagian besar kedelai yang digunakan untuk produk tersebut adalah kedelai impor. Hanya beberapa saja pengrajin tempe Indonesia yang menggunakan kedelai domestik. Berdasarkan hasil penelitian Balitkabi, kedelai domestik lebih banyak memiliki keunggulan diantaranya kandungan protein lebih tinggi, kondisi kedelai lebih segar dan sehat, serta memiliki ukuran biji yang tidak kalah dengan kedelai impor. Untuk meningkatkan penggunaan kedelai domestik yang lebih berkualitas tersebut, maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Malang mengadakan sosialisasi kepada 200 pengrajin kota Malang, meliputi pengrajin tempe, tahu, dan produk antaranya selama dua hari di Malang, 29−30 September 2015. Dalam sambutannya, Ummy Kulsum, S.H., M.M., selaku plh Kepala Disperindag Kota Malang, mengajak khususnya para pengrajin kedelai yang ada di Malang agar lebih mencintai produk dalam negeri, antara lain dengan menggunakan kedelai domestik (dalam negeri) sebagai bahan baku tempe dan tahu. Peneliti Balitkabi, Ir. Erliana Ginting, M.Sc. dan Rahmi Yulifianti, S.TP. bertindak selaku nara sumber pada kegiatan sosialisasi tersebut. Dalam sosialisasi, diperkenalkan 28 biji display kedelai berwarna kuning dan hitam. Varietas Anjasmoro, Grobogan, Argomulyo, dan Dewah (kedelai toleran lahan sawah) berwarna kuning dan berbiji besar. Sedangkan Dena (kedelai toleran naungan), Dering (kedelai toleran lahan kering) termasuk berbiji sedang. Selain itu juga dikenalkan varietas yang cocok untuk produk tahu yaitu varietas Gepak Kuning dan Gepak Hijau. Para peserta sosialisasi juga dapat melihat langsung benih kedelai hitam yang cocok untuk kecap, diantaranya varietas Detam 1, Detam 2, Detam 3 Prida, dan Detam 4 Prida (kedelai hitam) dan Cikuray. Selain menjelaskan jenis dan kegunaannya, ibu Erliana juga menjelaskan cara pembuatan produk berbahan baku kedelai tersebut. Sesi paparan diakhiri dengan display produk tempe dari 5 varietas yang dipandu oleh Ibu Rahmi Yulifianti.

Diantara kelima varietas tersebut, sebagian besar peserta yang berprofesi sebagai pengrajin kripik tempe menyukai varietas Grobogan dan Anjasmoro. Menurut mereka, kedua varietas tersebut memiliki rasa yang gurih, warna tempe yang cerah, tidak mudah busuk, dan teksturnya padat sehingga tidak mudah patah saat diiris untuk kripik tempe.


Untuk mengenali jenis tempe yang biasa dibuat, para pengrajin cukup mencium bau beberapa display tempe. Ternyata sampai siangpun, tempe varietas Anjasmoro dan Grobogan tetap segar, gurih dan tidak cepat rusak. Pada hari kedua, peserta berkesempatan praktik membuat tempe dari beberapa varietas. Peserta sangat antusias ingin segera memproduksi tempe, tahu dan produk antaranya dari kedelai domestik. Namun tidak semudah itu untuk mendapatkannya, sehingga perlu dibangun sistem informasi produsen penghasil kedelai domestik agar arus membeli dan menjual kedelai domestik berjalan lancar.

NCH