Berita » Webinar Seri 2 Rangkaian GITA 2021 Balitbangtan Balitkabi

Webinar seri 2 dalam rangkaian acara GITA 2021 Balitbangtan Balitkabi

Webinar seri 2 dalam rangkaian acara GITA 2021 Balitbangtan Balitkabi

Pada hari Jumat, 28 Mei 2021, Balitkabi menyelenggarakan webinar seri 2 dalam rangka Gelar Inovasi dan Teknologi Aneka Kacang dan Umbi (GITA) mengangkat tema tanaman porang dari dua sudut pandang: “Teknologi dan Permasalahan Perbenihan Porang” dan “Nilai Ekonomis Komoditas Porang sebagai Primadona Ekspor”. Membuka acara ini, Dr. Ir. Titik Sundari, M.P., selaku Kepala Balitkabi menyampaikan, “Porang merupakan komoditas prioritas nomor dua di bidang pertanian saat ini. Oleh karena itu, sebagai peneliti di bidang pertanian, kita sangat perlu mempelajari komoditas ini. Momen ini adalah momen yang baik yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui tentang tanaman porang, sehingga dapat menjadi bekal ilmu di lapang”.

Arahan Kepala Balitkabi pada acara webinar seri 2

Arahan Kepala Balitkabi pada acara webinar seri 2

Narasumber pada seri kedua ini adalah Dr. Ir. Muchdar Soedarjo, M.Sc. (peneliti Ahli Utama bidang Ekofisiologi) dan Siti Mutmaidah, S.P. (peneliti Ahli Pertama bidang Sosial Ekonomi). Pada kesempatan presentasi pertama. Dr. Ir. Muchdar Soedarjo, M.Sc., menyampaikan bahwa porang merupakan tanaman asli Indonesia dan tumbuh secara alami di bawah naungan. Porang merupakan pangan fungsional, yang permintaannya di pasar internasional sangat tinggi, sehingga penting untuk memperhatikan pembudidayaannya. Beberrapa hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya porang antara lain: persiapan lahan meliputi pengolahan tanah, penambahan pupuk kandang/organik, pembersihan gulma, pemeliharaan (pupuk kandang sebelum tanam, NPK, KNO3, pengairan), gangguan hama dan penyakit, dan sumber benih (katak atau umbi bernas, tidak kisut, bebas hama dan penyakit).

Presentasi kedua disampaikan oleh Siti Mutmaidah, S.P. yang memaparkan hasil kajian analisis ekonomi budidaya porang. Disampikan analisis usaha tani porang baik di lahan naungan maupun lahan terbuka memberi keuntungan dengan B/C rasio > 1 terutama pada tahun ke-2. Input produksi di lahan naungan lebih sedikit, sehingga modal lebih rendah namun hasil yang diperoleh relatif lebih rendah dibanding pada lahan terbuka. Rata-rata biaya yang dibutuhkan untuk usahatani porang di lahan naungan pada luasan 1 ha adalah Rp 31.889.000/tahun dan di lahan terbuka Rp 66.512.500/tahun. Pada akhir presentasi Mutmaidah menambahkan bahwa pengolahan umbi porang segar menjadi chip mampu meningkatkan nilai tambah porang sebesar Rp.1.075.000/ 1.000 kg umbi porang.

Meskipun informasi webinar seri 2 masih disampaikan secara terbatas, namun webinar kali ini dihadiri oleh lebih dari 120 peserta yang tersebar mulai dari Aceh sampai NTT melalui platform Zoom dan kanal Youtube. Antusiasme peserta sangat baik, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diberikan kepada masing-masing narasumber. Hal ini menunjukkan bahwa informasi akan komoditas porang masih menarik banyak perhatian berbagai kalangan. Harapannya, informasi dalam webinar ini dapat memberi wawasan yang lebih luas bagi para pegiat di bidang pertanian, khususnya para praktisi dan petani porang.

EU/AI

webinar2 webinar3
Narasumber webinar, Dr. Ir. Muchdar Soedarjo, M.Sc. (kiri) dan Siti Mutmaidah, S.P. (kanan)
webinar4 webinar5
Peserta yang mengikuti webinar seri 2 melalui platform Zoom