Berita » Wilis, Varietas Lama yang Masih Berjaya

Pertanaman kedelai Wilis milik Pak Ridwan di Tunggul Wulung, Pasuruan

Pertanaman kedelai Wilis milik Pak Ridwan di Tunggul Wulung, Pasuruan

Varietas kedelai Wilis sebetulnya dilepas pada tahun 1983, dan sempat bertahan sangat lama di Indonesia. Perubahan preferensi pengguna, berupa ukuran biji, umur, kandungan nutrisi dan lain-lain menyebabkan varietas Wilis mulai tergeser oleh varietas unggul baru. Namun, bukan berarti minat petani terhadap varietas Wilis pupus. Di Jawa Timur saja, di sebagian sentra produksi kedelai misalkan di Nganjuk, Wilis masih menjadi idola.
Observasi lapang di Desa Tunggul Wulung, Pandaan, Pasuruan (06 Agustus 2019) menunjukkan varietas Wilis masih diminati dan ditanam oleh petani. Sejauh mata memandang, hamparan kedelai begitu luas. Pak Ridwan, anggota kelompok tani Tunggul Makmur menuturkan mengapa dia menanam Wilis,” batangnya kokoh, tidak mudah rebah, apalagi ditanam di desa ini yang tanahnya relatif subur”. “Kedelai tidak perlu dipupuk, hanya pupuk kandang diberikan cukup banyak” lanjut Pak Ridwan.

Pertanaman kedelai di Desa Tunggul Wulung

Pertanaman kedelai di Desa Tunggul Wulung

Umumnya petani mendapatkan hasil kedelai lebih dari 2,0 t/ha. Kunci sukses kedelai di Tunggul Wulung, menurut Pak Ridwan adalah dengan cara menanam tugal lebih dalam serta pembuatan saluran drainase harus dalam agar tanah cepat tuntas airnya, tidak lembab sehingga meminjam istilah petani “pH tanah tetap baik”. Petani di sana menanam kedelai dengan jarak antar baris relatif lebih lebar sekitar 60 cm. Menurut petani, setelah pengairan sekitar umur 30 hari kedelai cepat berkembang dan menutup permukaan tanah. “Wilis umumnya tidak rebah, berbeda dengan varietas kedelai yang lain yang mudah rebah”, ujar Pak Ridwan. Benih varietas Wilis, semula diperoleh dari BBI Palawija Bedali, Malang kemudian sebagian petani menanam di pematang untuk sumber benih berikutnya. Semoga hasil kedelainya melimpah dan kesejahteraan petani meningkat.
MMA