Berita » Workshop Detachering for Mentoring

workshop-detachering-for-me

Badan Litbang Pertanian yang saat ini berada pada kurva kedua, bertekad memperkuat SDM dan infrastruktur penelitian. Karenanya pemetaan kompetensi SDM Badan Litbang Pertanian diperlukan untuk percepatan pencapaian program strategis Kementerian Pertanian, demikian harapan Dr. M. Syakir,Plt Sekretaris Badan Litbang Pertanian, saat membuka Workshop Detachering for Mentoring SmartD di Bandung, 12–14 November 2012. Workshop diikuti oleh Pengurus Harian FKPR, Komisi Pembinaan Tenaga Badan Litbang Pertanian, Kepala UPT lingkup Badan Litbang Pertanian serta dari pengelola SmartD. Pada akhir pengarahannya, Dr. M. Syakir menyampaikan bahwa yang mampu mengubah konfigurasi unggulan adalah inovasi. Untuk itulah diperlukan penguatan SDM beserta infrastruktur penunjangnya, SDM merupakan energi yang bermanfaat.

Prof. Argono Rio Setioko, yang menyampaikan peran detasering internal Badan Litbang Pertanian dalam rangka pengembangan kapasitas SDM, mengungkapkan terdapatnya kesenjangan kompetensi khususnya dilingkungan BPTP, penyebabnya bisa karena usia pendirian BPTP atau asal BPTP itu sendiri. Dalam dokumen SmartD sendiri, diisyaratkan adanya program detasering. Di lingkungan DIKTI, hal tersebut sudah beberapa tahun dilakukan. Detasering diartikan penugasan tenaga senior yang memiliki kualifikasi tertentu dan dalam jangka waktu tertentu pula. Hal ini berlainan dengan magang yang lebih mengarah kepada penugasan tenaga yunior di bawah bimbingan seniornya. Tujuan workshop adalah (1) meningkatkan kompotensi SDM khususnya di BPTP, (2) menentukan lokasi BPTP sasaran, (3) menentukan UPT sumber mentor, (4) menentukan skema program detasering, dan (5) menjalin jaringan kerjasama detaser/BB/Balit dengan BPTP.

Perancangan detasering memang perlu dikaji dari berbagai sisi. Juga disampaikan pemaparan tentang Keragaan SDM lingkup Badan Litbang Pertanian (Prof. Deciyanto Soetopo), Pembangunan pertanian daerah, politik anggaran APBD dan BPTP: keterkaitan dan perubahannya (Prof. Husein Sawit) dan Status Keterkaitan Balit dengan BPTP dalam pengembangan inovasi (Dr. Kasdi Subagyono). Secara keseluruhan dinilai penting adanya detasering, untuk memperkuat peran BPTP. Saat ini peran BPTP sangat kompleks dibandingkan dengan konsep awal pendirian BPTP 1994, termasuk berbagai perubahan akibat otonomi daerah yang dimulai tahun 1999. Sudah saatnya semua berpikir untuk memperkuat posisi BPTP.

Diskusi untuk menentukan dan mendapatkan masukan terkait siapa yang layak didetasir, berapa lama, termasuk BPTP yang diprioritaskan mendapatkan detasering, bahkan hingga penentuan besaran anggaran yang diperlukan oleh detaser. Workshop pertama ini secara umum baru menentukan rancang bangun detasering for mentoring, diperlukan workshop lanjutan untuk menghasilkan langkah-langkah operasional. Yang penting adalah kompetensi detaser harus menguasai tatacara perencanaan, pelaksanaan penelitian, pelaporan hasil penelitian/pengkajian dan pengembangan sumber informasi ilmiah dll, termasuk langkah penting yang harus ditemukan.