Berita ยป Workshop Penerapan Teknologi Budidaya Kedelai dalam Rangka UPSUS 2015 Di Provinsi Lampung

Rata-rata kebutuhan kedelai setiap tahun mencapai 2,3 juta ton, namun produksi kedelai dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan dengan baik. Produksi kedelai dalam negeri baru mampu memenuhi kebutuhan sekitar 40%, dan kekurangannya sebesar 60% harus diimpor.

Pengembangan kedelai diarahkan melalui strategi peningkatan produktivitas dan peningkatan areal tanam. Peningkatan produksi dan perluasan areal masih terkendala oleh nilai kompetitif kedelai dengan komoditas pangan lain, terlebih pada areal tanam sawah irigasi, tadah hujan dan lahan kering.

Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indek tanam (IP) di lahan sawah irigasi dan tadah hujan, lahan kering yang diberakan dengan sistem monokultur maupun tumpasari, areal tanam perkebunan, serta hutan yang belum menghasilkan.

Perluasan areal tanam kedelai di Indonesia berdasarkan kesesuaian agroekologi bahwa tanaman kedelai dapat tumbuh secara optimal dengan rekayasa teknologi spesifik lokasi, dan ditinjau dari kesesuaian agroekonomi untuk pengembangan kedelai perlu dipertimbangkan daya kompetitif kedelai yang lebih rendah dibanding komoditas lain, oleh karena itu penetapan harga kedelai dan peningkatan produktivitas sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing kedelai.

Dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas kedelai, Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi menggandeng Balitbangtan melalui Balitkabi dan Universitas Bandar Lampung mengadakan Workshop Penerapan Teknologi Budidaya Kedelai di Balai Pelatihan Pertanian Lampung, pada tanggal 31 Agustus 2015 sampai dengan 2 September 2015, yang diikuti sekitar 50 orang terdiri dari Petugas Dinas Pertanian, penyuluh, para ketua kelompok tani dari 11 Kabupaten di Provinsi Lampung.

Materi utama Workshop adalah:

  1. Teknologi produksi kedelai di berbagai agroekosistem,
  2. Peluang pengembangan tanaman kedelai di lahan sub optimal (lahan kering, lahan kering masam, tumpangsari dengan tanaman perkebunan),
  3. Hasil-hasil pengkajian dan teknik produksi benih dalam mendukung program upsus kedelai di Lampung,
  4. Peran Bulog dalam menampung hasil kedelai, dan
  5. KOPTI kebutuhan kedelai untuk industri tahu dan tempe.

Workshop di akhiri dengan praktek budidaya kedelai di KP Tegineneng milik BPTP Lampung. Dr. Maman Suherman dalam sambutan pembukaan Workshop mengharapkan produktivitas dan produksi kedelai di Provinsi Lampung dapat ditingkatkan melalui penerapan teknologi spesifik lokasi dan pembukaan lahan baru.

Prof. Dr. Marwoto dari Balitbangtan dalam presentasinya menekankan bahwa peluang pengembangan kedelai dengan pemanfaatan lahan perkebunan singkong dengan pengaturan jarak tanam dan mengatur pola tanam masih sangat terbuka, mengingat potensi lahan monokultur singkong mencapai 300.000 ha di Provinsi Lampung.

Pemaparan materi workshop di BPP Provinsi Lampung.

Pemaparan materi workshop di BPP Provinsi Lampung.

Praktek budidaya kedelai di lahan kering masam di KP Tegineneng, Lampung.

Praktek budidaya kedelai di lahan kering masam di KP Tegineneng, Lampung.

MWT