Berita » Workshop Risiko Lingkungan Lapangan Uji Terbatas Produk Bioteknologi

1

Salah satu tindak lanjut kerjasama antara PT Branita Sandhini (MONSANTO) dengan Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI) dalam pengujian produk tanaman jagung PRG, yaitu sosialisasi kajian penelitian tersebut pada berbagai Lembaga Perguruan Tinggi yang memiliki Fakultas Pertanian maupun Dinas terkait. Kerjasama yang dilakukan antara MONSANTO dengan Balitkabi yaitu pengujian produk jagung PRG MON89034 x NK603 dan non PRG DK603 terhadap kelimpahan arthropoda. Sosialisasi ini dikemas dalam satu workshop yang bertema “Komunikasi Risiko Lingkungan Lapangan Uji Terbatas Produk Bioteknologi” yang berlangsung pada tanggal 12 Juli 2012 di hotel Santika Malang.

Workshop ini perlu dilakukan untuk mensosialisasikan kepada berbagai kalangan tentang produk jagung PRG. Pada kesempatan ini ada dua pembicara, yaitu (1) Bioteknologi: Regulasi, Adopsi, dan Benefit bagi Pencapaian Ketahanan Pangan di Indonesia (Dr M Herman, BB Biogen)  dan (2) Komunikasi Resiko Lingkungan dan Perkembangan Pengujian Produk Bioteknologi di Malang (Dr Yusmani Prayogo, Balitkabi). Workshop diikuti kurang lebih 25 orang yang terdiri dari Dosen Fakultas Pertanian yang ada di wilayah Malang, peneliti dari Balitas dan BPTP, Staf Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Malang serta beberapa mahasiswa (Gambar 1).

Peserta workshop Komunikasi Risiko Lingkungan Lapangan Uji Terbatas Produk Bioteknologi (Santika, 12 Juli 2012).

Workshop dibuka oleh Kepala Balitkabi Dr M Muchlis Adie (Gambar 2). Dalam sambutan beliau mengatakan bahwa Kementerian Pertanian melalui Empat Suksesnya menempatkan masalah pangan (padi, jagung, kedelai) pada urutan pertama. Hal ini menunjukkan bahwa pangan memang tidak hanya menjadi fokus perhatian kita, tetapi juga menjadi perhatian seluruh bangsa di dunia ini. Laporan CGIAR, bahwa pada tahun 2025, lebih dari 2 milyar penduduk di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin, diramalkan akan menggunakan aneka umbi-umbian sebagai bahan pangan, pakan, dan bahan baku industri. Indikasi ini menyadarkan kita semua untuk lebih memperhatikan masalah pangan, masalah harkat rakyat di dunia, termasuk Indonesia. Tantangan penyediaan pangan, disadari bukan hal yang mudah. Berbagai masalah seperti; (1) perubahan iklim global, (2) sumberdaya lahan, (3) pangan untuk energi, (4) liberalisasi pasar, dan (5) keamanan serta kualitas pangan. Dampak perubahan iklim semakin dirasakan, tidak hanya berdampak terhadap semakin kuatnya cekaman abiotik (kekeringan dsbnya) tetapi juga mulai berpengaruh terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit). Dalam sambutan Pak Muchlis panggilan akrabnya Ka Balai sehari-hari bahwa, konversi lahan semakin tidak dapat dihindarkan karena pertumbuhan penduduk, tetapi yang lebih penting adalah kecilnya kepemilikan lahan serta kerusakan lahan. Hal tersebut harus menjadi pemikiran kita semua, peneliti, akademisi, usahawan, untuk ikut serta memikirkannya. Pemenuhan kebutuhan pangan dapat dipenuhi melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam. Namun pada situasi perubahan iklim dan liberalisasi pasar, peningkatan produktivitas dan perluasan areal, harus diipadu pula dengan efisiensi produksi, efisiensi usaha tani. Dengan keterpaduan tersebut maka nilai produk pangan akan tetap stabil dan berdaya saing. Untuk meraih hal-hal di atas, peran inovasi sangat diperlukan. Peran inovasi tidak hanya berupa teknologi baru tetapi mengandung makna adanya peningkatan nilai tambah ekonomi dari produk yang dihasilkan. Berbagai pilihan alternatif inovasi sangat banyak, dan salah satunya adalah Produk Rekayasa Genetic (GMO). Pemerintah Indonesia telah menyiapkan seperangkat aturan agar PRG tetap dinaungi oleh bio-etika. PRG harus aman bagi kita semua, aman pangan, aman pakan dan aman lingkungan. Aman lingkungan, kaitannya dengan sektor pertanian salah satunya adalah diukur oleh kelimpahan dan dampak dari arthropoda. Kelimpahan kelompok predator dan parasitoid harus menjadi target indikasi aman lingkungan.

Dr. M. Muchlish Adie dengan Ibu Jovita Sutanto sedang diskusi berkait pengujian produk tanaman jagung PRG yang dilakukan Balitkabi.

Setelah pembukaan workshop, Pak Muchlis juga masih intens berdiskusi dengan Ibu Jovita Sutanto (General Manager Affair Lead) dari MONSANTO (Gambar 3) mengenai perkembangan hasil pengujian produk PRG terhadap serangga non target. Ibu Jovita berencana untuk melanjutkan pengujian produk PRG pada satu musim tanam kedepan yang dilakukan juga pada lokasi yang sama dengan harapan data yang dihasilkan mempunyai validasi yang akurat.

Dalam pemaparannya, Dr M Herman  menegaskan bahwa tanaman hasil produk PRG memang bukan segala-galanya, namun hasil dari berbagai penelitian yang dipaparkan bahwa produk tanaman PRG relatif aman tidak seperti yang dikawatirkan kebanyakan orang pada umumnya yang mengakibatkan perubahan ekosistem, peledakan hama dll.  Dalam paparan Dr Herman juga disebutkan bahwa produk PRG mampu meningkatkan produksi hingga 60%, hal ini terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan di Kendalpayak menunjukkan bahwa kelimpahan arthropoda sangat tinggi pada tanaman jagung PRG MON89034 x NK603 dan tidak berbeda nyata dengan pada tanaman konvensional. Hasil paparan Dr Yusmani Prayogo (Gambar 4), jelas bahwa jagung PRG MON89034 x NK603 sangat toleran terhadap hama penggerek batang O. furnacalis karena dari seluruh material yang ditanam hanya mengindikasikan serangan hama tersebut hanya 0,14%. Artinya tanaman produk PRG tersebut benar-benar sangat toleran sehingga sangat prospektif untuk menanggulangi ledakan (outbreak) bagi sentra jagung yang endemis. Selain itu, menurut informasi Pak Yus bahwa tanaman jagung produk MONSANTO tersebut aman dalam mempertahankan kelangsungan hidup arthropoda, khususnya serangga predator maupun parasitoid. Dengan demikian, arthropoda berguna ini diharapkan mampu berkontribusi dalam menekan serangan hama jagung yang lain (selain O. furnacalis).  Beberapa jenis serangga predator yang dilaporkan meliputi Lycosa sp., Paederus sp., Coccinella sp., dan Metioche sp. yang dalam ukuran plot 10 x 10 m2 dapat dijumpai hingga 15-50 ekor. Sedangkan parasitoid yang banyak terperangkap adalah kelompok Hymenoptera: Braconidae dan Vespidae. Pak Yus juga menegaskan bahwa beberapa predator dan parasitoid ini merupakan musuh alami yang potensial dalam menekan populasi hama di lahan pertanaman jagung. Oleh karena itu, jagung MON89034 x NK603 sangat prospektif dapat dikembangkan untuk mengatasi kehilangan hasil akibat serangan hama penggerek batang O. furnacalis.

Dr Yusmani Prayogo memaparkan hasil penelitian kelimpahan populasi serangga arthropoda pada lahan pertanaman jagung PRG MON89034 x NK603 di LUT