Info Teknologi » Siwaka.Ins V.03, dalam Perspektif Dukungan Perluasan Areal dan Inovasi Varietas Unggul Kedelai

Di era industri pertanian 4.0 penggunaan model simulasi swasembada kedelai berbasis web yang mudah diakses dan dioperasikan, merupakan salah satu kebutuhan bagi pengguna (utamanya para pengambil kebijakan), yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan informasi dalam proses pengambilan keputusan, baik untuk tujuan praktis manajemen atau menentukan dukungan penelitian yang dibutuhkan. Sebagai contoh, untuk menentukan berapa sesungguhnya luas lahan dan tingkat hasil kedelai yang harus diupayakan, agar cita-cita menjadi lumbung pangan (disamping swasembada, juga dapat mengekspor kedelai) tahun 2045 tercapai. Untuk itu, dalam perspektif dukungan pemerintah dari segi perluasan areal dan inovasi varietas unggul kedelai yang dihasilkan Balitkabi, telah dikembangkan summary model simulasi swasembada kedelai 2020−2045 berbasis web (SIWAKA.INS v.03), yang skenarionya merupakan kombinasi dari lima masukan utama : Perluasan areal kedelai, PPA (%/tahun); Peningkatan produktivitas kedelai, LAJUY (%/tahun); Kehilangan hasil pasca panen, KHKDL (%/tahun); Peningkatan jumlah penduduk, KB (%/tahun) dan Peningkatan konsumsi kedelai, LAJUK (%/tahun); serta dua masukan pendukung : Maksimum luas lahan yang dapat diupayakan pemerintah, MLL (juta ha) dan maksimum rata-rata hasil kedelai ditingkat petani, MHK (t/ha).

1

Gambar 1. Diagram model simulasi swasembada kedelai 2020−2045 berbasis web (SIWAKA.INS v.03). Dapat diakses di http://insightmaker.com/insight/108161/SIWAKA-INS-v-03.

Model simulasi swasembada kedelai SIWAKA.INS v.03 (Gambar 1) merupakan penyem-purnaan SIWAKA v.01 (luas lahan kedelai yang dapat diupayakan pemerintah tidak dibatasi), berdasarkan asumsi : (1) Semua kedelai yang dihasilkan secara nasional dapat ditampung oleh BULOG, sebagai salah satu komponen penyangga Sistem Kedaulatan Pangan Nasional (SKPN), (2) Dalam kurun waktu 2020−2045 maksimum luas lahan yang dapat diupayakan pemerintah (MLL) seluas 2,0−5,0 juta ha dan maksimum rata-rata hasil kedelai ditingkat petani (MHK) 2,5−3,0 t/ha.

Adapun skenario simulasi swasembada kedelai nasional dengan menggunakan SIWAKA.INS v.03, selengkapnya disajikan pada Tabel 1. Sesuai data dukung produktivitas varietas unggul kedelai yang telah dihasilkan Balitkabi, yang potensi hasilnya mencapai 2,75−3,82 t/ha (Balitkabi 2018a, Balitkabi 2018b), diasumsikan laju peningkatan produktivitas kedelai (LAJUY) sebesar 8,0−10,0% per tahun, sementara input parameter lainnya dianggap tetap. Hal ini dimaksudkan untuk melihat dampak inovasi varietas unggul kedelai terhadap tercapainya swasembada kedelai nasional.

Dari lima skenario swasembada kedelai yang telah dicoba (Tabel 1), skenario D menunjukkan swasembada kedelai pada tahun 2020−2045, sementara skenario E swasembada kedelai tercapai lebih awal, yakni pada tahun 2019−2045. Namun, skenario D lebih realistis untuk dipilih mengingat laju adopsi varietas unggul kedelai di Indonesia masih relatif lambat. Jika dalam kurun waktu 2020−2045, maksimum luas lahan yang dapat diupayakan sekitar 2,0 juta ha dan hasil kedelai maksimum di tingkat petani rata-rata 2,5 t/ha, melalui penggunaan varietas unggul kedelai dan teknologi budi daya yang tepat, swasembada kedelai dapat dicapai (0,09−0,02 juta t) pada tahun 2020−2045, dengan tingkat hasil kedelai 1,66‒2,5 t/ha dan luas lahan 1,66‒2,0 juta ha (Tabel 2 – 3).

 Tabel 1. Lima skenario swasembada kedelai nasional 2020‒2045 dengan menggunakan model simulasi berbasis web SIWAKA.INS v03.
Parameter Skenario swasembada kedelai *)
A B C D E
Perluasan areal kedelai,
PPA (%tahun)
9,0 9,0 9,0 9,0 9,0
Peningkatan produktivitas kedelai, LAJUY

(%tahun)**)

8,0 8,5 9,0 9,5 10,0
Kehilangan hasil pascapanen, KHDKDL (%tahun) 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5
Peningkatan jumlah penduduk, KB (%tahun) 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5
Peningkatan konsumsi kedelai, LAJUK(%tahun) 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
Luas areal kedelai, LAKDL (juta ha) 0,59-2,00 1,97-2,00 1,81-2,00 1,66-2,00 1,52-2,00
Tingkat hasil kedelai HSKDL (t/ha) 1,31-1,58 1,51-1,57 1,59-1,96 1,66-2,50 1,71-2,50
Total Produksi kedelai, KOKDL (juta t) 0,77-3,15 2,97-3,13 2,99-3,92 2,76-5,00 2,77-5,00
Total konsumsi kedelai, KOKDL (juta t) 1,99-4,98 2,81-3,11 2,74-3,88 2,68-4,98 2,61-4,98
Tingkat swasembada kedelai, TSKDL (juta t) (-1,21) – (-1,83) 0,16-0,03 0,14-0,03 0,09-0,02 0,15-0,02
Tahun tercapainya swasembada kedelai 2022-2026 2021-2035 2020-2045 2019-2045
*) Asumsi maksimum luas lahan yang dapat diupayakan pemerintah dalam kurun waktu 2020‒2045 seluas 2,0 juta ha dan maksimum hasil kedelai ditingkat petani rata-rata 2,5 t/ha.

**) Sesuai data dukung produktivitas varietas unggul kedelai yang telah dihasilkan Balitkabi, yang potensi hasilnya mencapai 2,75‒3,82 t/ha (Balitkabi 2018a, Balitkabi 2018b), diasumsikan laju peningkatan produktivitas kedelai (LAJUY): 8,0‒10,0 %/tahun.

Dengan skenario D (Tabel 1), cita-cita untuk swasembada kedelai sudah tercapai namun belum dapat mengekspor kedelai oleh karena tingkat swasembadanya rendah (0,09‒0,02 juta t). Untuk itu, melalui program “SERASI” yang dimulai tahun 2019 dan pendayagunaan lahan-lahan transmigrasi, diharapkan pemerintah dapat meningkatkan luas areal kedelai (MLL) 2,5‒5,0 juta ha dalam kurun waktu 2020‒2045. Hasil simulasi dengan SIWAKA v.03 menunjukkan bahwa dengan meningkatkan luas areal kedelai 2,5‒5,0 juta ha, tingkat swasembada kedelai mencapai 1,27≥7,52 juta t pada tahun 2045 (Gambar 2 – 3, Tabel 4 – 5, Tabel 6 – 7).

Kesimpulannya, jika cita-cita lumbung pangan (kedelai) tahun 2045 ingin tercapai, luas areal kedelai secara nasional minimum 2,5 juta ha dan maksimum 5,0 juta ha, dalam kurun waktu 2020–2045, pada rata-rata tingkat hasil kedelai 1,66‒2,5 t/ha. Untuk mewujudkan ini, perlu dukungan komitmen dan kebijakan yang sinergis dari pemerintah, diantaranya melalui revitalisasi BULOG sebagai salah satu komponen penyangga SKPN dan perubahan paradigma kebijakan pangan bahwa kedelai merupakan sumber protein dan pangan fungsional yang strategis untuk mencerdaskan sumber daya manusia Indonesia.

2

Gambar 2. Tujuh skenario simulasi swasembada kedelai tahun 2045 (TSKDL) berbasis web (SIWAKA.INS v.03) pada luas lahan kedelai (MLL) 2,0‒5,0 juta ha dan tingkat kedelai hasil rata-rata 2,5 t/ha.

3

Gambar 3. Skenario simulasi swasembada kedelai tahun 2045 (TSKDL) berbasis web (SIWAKA.INS v.03) pada luas lahan kedelai (MLL) 2,0; 2,5 dan 5,0 juta ha dan tingkat kedelai hasil rata-rata 2,5 t/ha.

Tabel 2. Hasil simulasi swasembada kedelai (2020‒2024) pada kombinasi input perluasan areal (PPA)= 9,0 %/th, peningkatan hasil kedelai (LAJUY) = 9,5 %/th, kehilangan hasil pascapanen (KHKDL) = 7,5 %/th, kenaikan jumlah penduduk (KB) = 1,5%/th dan peningkatan laju konsumsi kedelai(LAJUK) = 1,0%/th, luas lahan maksimum (MLL) = 2,0 juta ha dan rata-rata hasil kedelai maksimum (MHK) = 2,5 t/ha.
Tahun JMPDK KONP KOKDL TSKDL PRKDL HSKDL LAKDL
(juta jiwa) (kg/jap/thn) (juta t) (juta t) (juta t) (t/ha) (ha)
2020 284 9,43 2,68 0,09 2,76 1,66 1.662.105
2021 288 9,53 2,74 0,33 3,07 1,69 1.811.694
2022 292 9,62 2,81 0,60 3,41 1,73 1.974.747
2023 297 9,72 2,88 0,64 3,53 1,76 2.000.000
2024 301 9,81 2,96 0,64 3,60 1,80 2.000.000
Keterangan JMPDK : Jumlah penduduk (juta jiwa)
 KONP : Tingkat konsumsi kedelai (kg/kapita/hari)
 KOKDL : Total konsumsi kedelai nasional (t)
 LAKDL : Luas areal kedelai nasional (ha)
 HSKDL : Rata-rata tingkat hasil (t/ha)
 PRKDL Total produksi kedelai nasional (t)
 TSKDL Tingkat swasembada kedelai (juta t)
Tabel 3. Hasil simulasi swasembada kedelai (2040‒2045) pada kombinasi input perluasan areal (PPA)= 9,0 %/th, peningkatan hasil kedelai (LAJUY) = 9,5 %/th, kehilangan hasil pascapanen (KHKDL) = 7,5 %/th, kenaikan jumlah penduduk (KB) = 1,5%/th dan peningkatan laju konsumsi kedelai(LAJUK) = 1,0%/th, luas lahan maksimum (MLL) = 2,0 juta ha dan rata-rata hasil kedelai maksimum (MHK) = 2,5 t/ha.
Tahun JMPDK KONP KOKDL TSKDL PRKDL HSKDL LAKDL
(juta jiwa) (kg/jap/thn) (juta t) (juta t) (juta t) (t/ha) (ha)
2040 382 11,51 4,40 0,54 4,94 2,47 2.000.000
2041 388 11,62 4,51 0,49 5,00 2,50 2.000.000
2042 394 11,74 4,62 0,38 5,00 2,50 2.000.000
2043 400 11,86 4,74 0,26 5,00 2,50 2.000.000
2044 406 11,98 4,86 0,14 5,00 2,50 2.000.000
2045 412 12,10 4,98 0,02 5,00 2,50 2.000.000
Keterangan tabel merujuk pada Tabel 2
Tabel 4. Hasil simulasi swasembada kedelai (2020-2024) pada kombinasi input perluasan areal (PPA)= 9,0 %/th, peningkatan hasil kedelai (LAJUY) = 9,5 %/th, kehilangan hasil pasca panen (KHKDL) = 7,5 %/th, kenaikan jumlah penduduk (KB) = 1,5%/th dan peningkatan laju konsumsi kedelai(LAJUK) = 1,0%/th, luas lahan maksimum (MLL) = 2,5 juta ha, dan rata-rata hasil kedelai maksimum (MHK) = 2,5 t/ha.
Tahun JMPDK KONP KOKDL TSKDL PRKDL HSKDL LAKDL
(juta jiwa) (kg/jap/thn) (juta t) (juta t) (juta t) (t/ha) (ha)
2020 284  9,43 2,68 0,09 2,76 1,66  1.662.105
2021 288 9,53 2,74  0,33 3,07 1,69  1.811.694
2022 292 9,62 2,81 0,60 3,41 1,73 1.974.747
2023 297 9,72 2,88 0,91 3,80 1,76 2.152.474
2024 301 9,81 2,96 1,26 4,22 1,80 2.346.197
Keterangan tabel merujuk pada Tabel 2
Tabel 5. Hasil simulasi swasembada kedelai (2040-2045) pada kombinasi input perluasan areal (PPA)= 9,0 %/th, peningkatan hasil kedelai (LAJUY) = 9,5 %/th, kehilangan hasil pasca panen (KHKDL) = 7,5 %/th, kenaikan jumlah penduduk (KB) = 1,5%/th dan peningkatan laju konsumsi kedelai(LAJUK) = 1,0%/th, luas lahan maksimum (MLL) = 2,5 juta ha, dan rata-rata hasil kedelai maksimum (MHK) = 2,5 t/ha.
Tahun JMPDK KONP KOKDL TSKDL PRKDL HSKDL LAKDL
(juta jiwa) (kg/jap/thn) (juta t) (juta t) (juta t) (t/ha) (ha)
2040 382 11,51 4,40 1,77 6,17 2,47 2.500.000
2041 388 11,62 4,51 1,74 6,25 2,50 2.500.000
2042 394 11,74 4,62 1,63 6,25 2,50 2.500.000
2043 400 11,86 4,74 1,51 6,25 2,50 2.500.000
2044 406 11,98 4,86 1,39 6,25 2,50 2.500.000
2045 412 12,10 4,98 1,27 6,25 2,50 2.500.000
Keterangan tabel merujuk pada Tabel 2
Tabel 6. Hasil simulasi swasembada kedelai (2020-2024) pada kombinasi input perluasan areal (PPA)= 9,0 %/th, peningkatan hasil kedelai (LAJUY) = 9,5 %/th, kehilangan hasil pasca panen (KHKDL) = 7,5 %/th, kenaikan jumlah penduduk (KB) = 1,5%/th dan peningkatan laju konsumsi kedelai(LAJUK) = 1,0%/th, luas lahan maksimum (MLL) = 5,0 juta ha, dan rata-rata hasil kedelai maksimum (MHK) = 2,5 t/ha.
Tahun JMPDK KONP KOKDL TSKDL PRKDL HSKDL LAKDL
(juta jiwa) (kg/jap/thn) (juta t) (juta t) (juta t) (t/ha) (ha)
2020 284 9,43 2,68 0,09 2,76 1,66 1.662.105
2021 288 9,53 2,74 0,33 3,07 1,69 1.811.694
2022 292 9,62 2,81 0,60 3,41 1,73 1.974.747
2023 297 9,72 2,88 0,91 3,80 1,76 2.152.474
2024 301 9,81 2,96 1,26 4,22 1,80 2.346.197
Keterangan tabel merujuk pada Tabel 2
Tabel 7. Hasil simulasi swasembada kedelai (2040-2045) pada kombinasi input perluasan areal (PPA)= 9,0 %/th, peningkatan hasil kedelai (LAJUY) = 9,5 %/th, kehilangan hasil pasca panen (KHKDL) = 7,5 %/th, kenaikan jumlah penduduk (KB) = 1,5%/th dan peningkatan laju konsumsi kedelai(LAJUK) = 1,0%/th, luas lahan maksimum (MLL) = 5,0 juta ha, dan rata-rata hasil kedelai maksimum (MHK) = 2,5 t/ha.
Tahun JMPDK KONP KOKDL TSKDL PRKDL HSKDL LAKDL
(juta jiwa) (kg/jap/thn) (juta t) (juta t) (juta t) (t/ha) (ha)
2040 382 11,51 4,40 7,95 12,34 2,47 5.000.000
2041 388 11,62 4,51 7,99 12,50 2,50 5.000.000
2042 394 11,74 4,62 7,88 12,50 2,50 5.000.000
2043 400 11,86 4,74 7,76 12,50 2,50 5.000.000
2044 406 11,98 4,86 7,64 12,50 2,50 5.000.000
2045 412 12,10 4,98 7,52 12,50 2,50 5.000.000
Keterangan tabel merujuk pada Tabel 2

 

Pustaka

Balitkabi, 2018a.  http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2016/09/kedelai.pdf [diakses 7-11-2018]

Balitkabi, 2018b.  http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2018/02/deja2.pdf [diakses 7-11-2018]

I K. Tastra, F. R. Abadi, dan B. S. Kuncoro