Info Teknologi ┬╗ Nilai Tambah Pengolahan Ubi Kayu di Barito Kuala, Kalimantan Selatan

ubikayu

Diperlukan inovasi peningkatan nilai tambah komoditas ubi kayu

Pengolahan hasil pertanian adalah rangkaian kegiatan agribisnis yang berperan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Pengolahan ubi kayu menjadi aneka produk pangan merupakan usaha untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi karena sifat umbi ubi kayu yang mudah rusak dalam bentuk segar, tersedia musiman dan voluminous (bulky). Tujuan pengolahan ubi kayu menjadi aneka produk pangan adalah untuk meningkatkan daya tahan produk sehingga layak untuk dikonsumsi dan meningkatkan nilai jual produk.

 

Selama ini, ubikayu banyak diusahakan di areal lahan kering. Pengembangan ubi kayu juga dapat dilakukan pada lahan suboptimal lain, salah satunya adalah lahan pasang surut. Sebagian besar lahan pasang surut di Barito Koala, Kalimantan Selatan memiliki tipe luapan C dan D yang sangat potensial untuk pengembangan ubikayu (Sudaryono 2011). Inovasi peningkatan nilai tambah komoditas ubi kayu yang dikembangkan melalui penumbuhan agroindustri pengolahan pangan di sentra-sentra produksi dapat berdampak terhadap upaya penganekaragaman produk dan peningkatan harga komoditas disebabkan oleh permintaan bahan baku secara kontinu.
Di Kalimantan Selatan, mayoritas usaha pengolahan ubi kayu masih terbatas pada olahan pangan tradisional untuk konsumsi sendiri, seperti ubi goreng, ubi rebus, tape, keripik, kerupuk, dan kue tradisional yang disebut wade kumpal mirip kue jemblem di Jawa. Di daerah transmigrasi asal Jawa, seperti di Kecamatan Rantau Badauh dan Wanaraya, ubi kayu diolah menjadi tiwul, gatot, dan oyek. Seorang petani responden ubikayu di Wanaraya telah mencoba mengolah ubi kayu untuk dipasarkan sebagai tambahan pendapatan rumah tangga, meskipun kontribusinya masih kecil, sebesar 2,6% dari pendapatan total pendapatan rumah tangga, yaitu sebesar Rp 2.000.000 dari total pendapatan Rp 75.600.000 per tahun. Beberapa produk olahan ubi kayu di Kabupaten Barito Koala juga telah berkembang menjadii usaha skala rumah, di antaranya: (1) kerupuk di Desa Sungai Gampak, Kecamatan Rantau Badauh, (2) keripik di Desa Barambai Kolam Kiri, Kecamatan Barambai, serta (3) tepung mocaf di Desa Berangas Tengah, Kecamatan Alalak. Produk kerupuk dari Sungai Gampak dibuat dari umbi segar bukan dari pati yang diekstrak dengan tujuan untuk menekan biaya produksi dan harga jual kerupuk sehingga lebih terjangkau oleh konsumen. Aneka produk olahan ubi kayu di Kabupaten Barito Koala seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Produk olahan ubi kayu yang berkembang di Kabupaten Barito Koala

Gambar 1. Produk olahan ubi kayu yang berkembang di Kabupaten Barito Koala

Secara umum, bahan baku ketiga industri rumahan ini dapat dipenuhi dari produksi ubi kayu di dalam Kabupaten Barito Koala sendiri. Preferensi varietas ubi kayu untuk bahan baku industri kerupuk di Sungai Gampak adalah varietas lokal Papa Merah yang menurut petani memiliki rasa enak dan manis, serta berumur panen pendek hanya 7 bulan. Untuk industri keripik, tidak ada preferensi khusus untuk bahan baku ubi kayu dan biasanya pengrajin mendapatkan pasokan dari petani sekitar desa. Sementara, untuk industri tepung mocaf, meskipun pengrajin memiliki kriteria khusus untuk bahan baku ubi kayu yang digunakan, namun jenis ubi kayu yang digunakan tidak diketahui oleh pengrajin dan biasanya dikirim oleh petani ubi kayu sekitar desa. Pola pemasaran produk olahan ubi kayu di Kabupaten Barito Koala tergolong masih sederhana seperti pada Gambar 2.

(a) Pola pemasaran kerupuk mentah di Desa Sungai Gampak

(a) Pola pemasaran kerupuk mentah di Desa Sungai Gampak

(b) Pola pemasaran keripik matang di Desa Barambai Kolam Timur

(b) Pola pemasaran keripik matang di Desa Barambai Kolam Timur

(c) Pola pemasaran tepung mocaf di Desa Berangas Tengah

(c) Pola pemasaran tepung mocaf di Desa Berangas Tengah

Gambar 2. Pola pemasaran produk olahan ubi kayu di Barito Kuala

Nilai tambah komoditas yaitu peningkatan nilai suatu komoditas karena ada perlakuan yang diberikan pada komoditas tersebut. Penghitungan nilai tambah produk olahan ubi kayu mengikuti metode Hayami (1987) seperti tersaji pada Tabel 1. Nilai tambah dipengaruhi oleh nilai output, harga ubikayu sebagai bahan baku, dan biaya input lain. Biaya bahan baku ubi kayu setiap industri cukup beragam tergantung perbedaan lokasi asal bahan baku dan lokasi industri pengolahan sehingga akan menambah biaya transportasi dan lain-lain yang berkontribusi menaikkan biaya bahan baku. Pada industri tepung mocaf juga terdapat kriteria khusus untuk bahan baku ubi kayu yang digunakan agar menghasilkan tepung bermutu baik sehingga menyebabkan harga bahan baku lebih tinggi. Ubi kayu untuk pembuatan tepung mocaf harus segera diproses tidak lebih dari 48 jam setelah panen karena mudah rusak sehingga mempengaruhi warna tepung dan kadar pati.

Tabel 1. Nilai tambah ubi kayu setelah diolah menjadi berbagai produk pangan di Kabupaten Barito Koala, Kalimantan Selatan, 2018 Keterangan: Kapasitas produksi adalah : 1 ton, 180 kg, dan 400 kg ubi kayu segar berturut-turut untuk industri kerupuk, keripik, dan tepung mocaf.

Tabel 1. Nilai tambah ubi kayu setelah diolah menjadi berbagai produk pangan di Kabupaten Barito Koala, Kalimantan Selatan, 2018
Keterangan: Kapasitas produksi adalah : 1 ton, 180 kg, dan 400 kg ubi kayu segar berturut-turut untuk industri kerupuk, keripik, dan tepung mocaf.

Pengelompokan rasio nilai tambah oleh Hayami (1987) dibagi tiga, yaitu rendah apabila rasio <15%, sedang jika rasio 15-40%, dan tinggi jikamempunyai rasio nilai tambah >40%. Dengan rasio nilai tambah serta tingkat keuntungan berturut-turut 63,1% dan 90,8%, maka industri pengolahan keripik ubi kayu lebih efisien dan layak dikembangkan di Barito Koala. Meskipun demikian industri rumah tangga pengolahan ubi kayu menjadi produk kerupuk dan tepung mocaf juga tetap prospektif dikembangkan karena termasuk kategori nilai tambah tinggi untuk tepung mocaf dan sedang untuk kerupuk, dengan tingkat keuntungan masing-masing di atas 60%.
DAAE