Info Teknologi » Aschersonia aleyrodis Sebagai Biopestisida untuk Pengendalian Hama Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

Kutu kebul Bemisia tabaci Gennadius (Homoptera: Aleyrodidae) merupakan hama utama pada berbagai jenis tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura. Serangga ini juga menjadi vektor berbagai jenis virus, karena membawa berbagai jenis virus yang ditularkan melalui stilet pada waktu mengisap cairan daun. Jenis virus yang dapat ditularkan oleh serangga B. tabaci antara lain; bean golden mosaic virus (BGMV) penyebab penyakit kuning pada cabai, mungbean yellow mosaic virus (MYMV) penyebab penyakit kuning pada kacang hijau dan tanaman aneka kacang lainnya, cassava mosaic virus (CMV) penyebab penyakit kuning pada ubi kayu, Cowpea mild mottle virus (CPMMV) penyebab penyakit belang samar pada kedelai maupun tanaman aneka kacang yang lain, chrysanthemum stunt virus (CSVd), dan lain-lain.

B. tabaci termasuk serangga polifag, dengan tanaman inang mencapai 500 spesies yang termasuk dalam 74 famili, diantaranya; kedelai, kacang tanah, kacang tunggak, kacang hijau, ubi jalar, ubi kayu, labu, cabai, tomat, kentang, terong, gerbera, mawar, angrek, lili, anthurium, mentimun, semangka, brokoli, lobak, dan lain-lain. Serangga dewasa (berukuran 1-1,5 mm, berwarna putih) biasanya berkelompok pada bagian permukaan bawah daun, dan bila tanaman disentuh biasanya serangga akan terbang dan membentuk seperti kabut berwarna putih.  Telur berbentuk lonjong agak melengkung, berwarna kuning terang, panjang 0,2-0,3 mm. Telur diletakkan di permukaan daun bagian bawah pada daun muda atau pucuk. Serangga betina lebih menyukai daun yang telah terinfeksi virus mosaik kuning sebagai tempat untuk meletakkan telurnya daripada daun sehat. Jumlah telur yang dihasilkan berkisar 77 butir per ekor. Telur akan menetas rata-rata enam hingga tujuh hari. Siklus hidup B. tabaci mulai dari stadium telur, nimfa, dan imago berkisar 21-24 hari.

Kelompok telur B. tabaci (A) dan imago (B) pada permukaan bawah daun kedelai

Kelompok telur B. tabaci (A) dan imago (B) pada permukaan bawah daun kedelai

Perkembangbiakan B. tabaci terjadi dengan cara partenogenesis yaitu tanpa pembuahan, Perkembangannya dipengaruhi oleh temperatur, semakin tinggi temperatur maka perkembangbiakan serangga semakin cepat. B. tabaci menghasilkan sekresi berupa cairan embun madu yang diletakkan pada permukaan daun. Embun madu merupakan media tumbuh yang cocok bagi cendawan jelaga yang berwarna hitam. Daun yang sudah dikolonisasi oleh cendawan jelaga tampak berwarna hitam pekat pada seluruh permukaan daun sehingga sangat mengganggu proses fotosintesis. Daun yang tertutup oleh embun jelaga umumnya cepat mengalami kekeringan dan akhirnya gugur sebelum waktunya. Oleh karena itu, kehilangan hasil yang disebabkan oleh B. tabaci berkisar 50-100%.

 Daun kedelai sehat (A & B) dan daun kedelai tertutup embun jelaga yang berwarna hitam pada seluruh permukaan daun (C & D)

Daun kedelai sehat (A & B) dan daun kedelai tertutup embun jelaga yang berwarna hitam pada seluruh permukaan daun (C & D)

Berbagai upaya pengendalian sudah banyak diterapkan mulai dari penggunaan varietas toleran, kultur teknik, penggunaan perangkap kuning (yellow trap), tanaman penghalang (barrier), tanaman perangkap (trap crops), secara kimiawi menggunakan berbagai jenis insektisida kimia bahkan dengan dosis yang melampaui anjuran. Namun, populasi hama kutu kebul di lapangan terus meningkat sehingga semakin sulit dikendalikan. Kondisi ini disebabkan B. tabaci telah mengalami perubahan strain atau membentuk biotipe baru akibat tekanan seleksi lingkungan terutama insektisida kimia. Biotipe Q yang berkembang saat ini sudah sangat resisten terhadap sebagian besar formulasi pestisida kimia termasuk piriprosifen, imidakloprid, asetamiprid, dan tiametoksam. Oleh karena itu, untuk menekan terjadinya resistensi yang berkepanjangan, maka pengendalian menggunakan agens hayati, contohnya cendawan entomopatogen.

Aschersonia aleyrodis (Webber) (Ascomycetes: Hypocrella) merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang dapat membunuh serangga B. tabaci selain Beauveria bassiana dan Lecanicillium lecanii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LD50 cendawan A. aleyrodis untuk membunuh B. tabaci yaitu menggunakan kerapatan konidia 106/mL-1 pada LT50 tiga hari setelah inokulasi (HSI). Tubuh nimfa dan imago B. tabaci yang mati terinfeksi cendawan entomopatogen A. aleyrodis pada tiga HSI, tampak dikolonisasi miselium cendawan berwarna putih yang menempel pada permukaan bawah daun kedelai.

Aplikasi cendawan entomopatogen A. aleyrodis dapat menyebabkan penurunan keperidian serangga B. tabaci sebesar 83,84% sehingga dapat menekan perkembangan atau peledakan populasi. Selain itu, infeksi cendawan A. aleyrodis juga bersifat ovisidal yaitu mampu menggagalkan penetasan telur mencapai 96,78%. Telur yang terinfeksi cendawan A. aleyrodis akhirnya tidak dapat menetas sehingga perkembangan serangga menjadi nimfa atau stadium lebih lanjut sangat rendah/kecil. Telur yang terinfeksi cendawan A. aleyrodis juga mengalami keterlambatan penetasan hingga tiga hari sehingga menyebabkan tidak kesesuaian antara perkembangan serangga dengan pertumbuhan tanaman. Infeksi imago B. tabaci oleh cendawan A. aleyrodis dapat memperpendek umur imago betina hingga 82,92%. Dengan demikian, masa produktif imago dalam menghasilkan telur menjadi lebih pendek sehingga jumlah telur yang akan berkembang menjadi nimfa menjadi terbatas.

Hasil simulasi aplikasi suspensi konidia A. aleyrodis pada pertanaman kedelai menunjukkan bahwa persistensi konidia masih cukup tinggi pada minggu ke dua, namun eksistensi konidia menjadi sangat terbatas setelah minggu kelima. Bukti ini mengisyaratkan bahwa aplikasi suspensi konidia cendawan A. aleyrodis dengan rentang tiap minggu masih diperoleh hasil yang optimal dalam menekan populasi kutu kebul di lapangan. Pada kondisi demikian pengendalian hayati menggunakan cendawan entomopatogen A. aleyrodis akan lebih efisien karena dapat menekan frekuensi aplikasi.

bemisia7 bemisia8
Nimfa dan imago kutu kebul B. tabaci mati terinfeksi cendawan entomopatogen A. aleyrodis tiga hari setelah aplikasi

Cendawan A. aleyrodis diperoleh dari serangga B. tabaci pada tanaman kedelai di daerah Jember pada tahun 2017. Selanjutnya, isolat cendawan diperbanyak pada media potato dextrose agar (PDA), empat hari diinokulasi di dalam cawan petri pertumbuhan miselium cendawan sangat cepat dan dapat mengkolonisasi seluruh permukaan media. Perbanyakan cendawan pada media beras jagung juga menunjukkan pertumbuhan sangat cepat dan produksi konidia lebih berkualitas jika dibandingkan media tumbuh dari beras biasa. Formulasi sederhana konidia A. aleyrodis dalam tepung talk mampu bertahan 24 bulan masih mampu membunuh B. tabaci dengan mortalitas 56%. Cendawan entomopatogen A. aleyrodis juga toksik untuk membunuh citrus whitefly (Dialeurodes citri), green house whitefly (Trialeurodes vaporariorum) maupun kelompok Coccidae atau Aleyrodidae. Dilihat dari efikasi yang cukup tinggi dalam membunuh serangga penting pada berbagai jenis komoditas komersial, dan mudah cara perbanyakannya, maka cendawan A. aleyrodis berpeluang besar dapat digunakan sebagai biopestisida untuk pengendalian B. tabaci maupun hama lain yang termasuk ke dalam ordo Homoptera dan sebagai alternatif pengganti efikasi pestisida kimia.

Sumber isolat cendawan A. aleyrodis dari bangkai serangga B. tabaci pada tanaman kedelai di Jember (a) dan kumpulan konidia A. aleyrodis (b)

Sumber isolat cendawan A. aleyrodis dari bangkai serangga B. tabaci pada tanaman kedelai di Jember (a) dan kumpulan konidia A. aleyrodis (b)

Koloni cendawan A. aleyrodis umur 7 hari (a) dan koloni yang berumur 14 hari pada media tumbuh PDA (b)

Koloni cendawan A. aleyrodis umur 7 hari (a) dan koloni yang berumur 14 hari pada media tumbuh PDA (b)

Tautan referensi pendukung:

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/456/1/012041

Yusmani Prayogo