Info Teknologi » Bahan Nabati Untuk Pengendalian Thrips Kacang Hijau

thrips4

Hama thrips Megalurothrips usitatus merupakan hama utama pada tanaman kacang hijau. Serangan hama thrips terjadi pada fase vegetatif sejak tanaman berumur 10 hari sampai tanaman berbunga. Serangan yang parah dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 64 %, tergantung tingkat kerusakan, umur dan kerentanan tanaman serta kondisi iklim setempat. Pengendalian hama thrips menggunakan insektisida kimia dihadapkan pada masalah harga insektisida dan dampak pencemaran lingkungan, sehingga mendorong perlunya alternatif cara pengendalian seperti dengan menggunakan insektisida nabati.

Di Balitkabi, telah diuji beberapa bahan nabati dan kimia diantaranya fipronil 2 ml/l, imidaklorprit 200 SL 2 ml/l, imidaklorprit 100 EC 2 ml/l, emamektin benzoat 0,2 g/ l, serbuk biji mimba (SBM) 100 g/l air, ekstrak umbi bawang putih 5 g/l air, rimpang jahe 17 g/l air, daun pepaya 50 g/l, serta campuran ekstrak dari lombok hijau 8 g, jahe 8 g dan bawang putih 17g /l air. Pembuatan insektisida nabati dilakukan dengan menumbuk halus atau menggiling masing-masing bahan tersebut diatas kemudian dilarutkan dalam air. Campuran bahan selanjutnya direndam semalam, kemudian disaring, ditambah 0,5 ml/l perekat, dan siap diaplikasikan.

Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, jahe (Zingiber officinale) mengandung senyawa keton zingeron yang memiliki rasa dominan pedas, sehingga dapat membunuh serangga hama. Zingeron membuat tubuh serangga menjadi lebih panas, demam dan mati. Bawang putih (Allium sativum) mengandung senyawa sulfur dan alliin yang membuat bawang putih mentah berasa getir. Alliin tidak berbau, namun, kalau bereaksi dengan sulfur atau belerang, aliin segera berubah menjadi alisin. Aroma allisin yang tajam (aroma khas bawang putih) tidak disukai serangga (bersifat repellant), karena akan mengacaukan sistem komunikasi serangga. Pada bakteri, allisin juga berfungsi memblokade pembentukan enzim, sehingga metabolisme terhenti, pertumbuhannya terhambat dan akhirnya mati. Pada cendawan parasit, bawang putih mempunyai khasiat sebagai antibiotik alami, karena adanya allisin akan mempengaruhi aktivitas enzim yang mengandung senyawa belerang menjadi tidak aktif, sehingga akhirnya menimbulkan kematian cendawan.

Biji dan daun mimba mengandung azadirachtin sebagai senyawa aktif utama, meliantriol, salanin, nimbidin dan nimbin yang merupakan hasil metabolit sekunder dari tanaman mimba. Azadirachtin yang dikandung biji mimba berperan sebagai ecdyson blocker atau zat yang dapat menghambat kerja hormon ecdyson, hormon yang berfungsi dalam metamorfosa serangga. Senyawa ini mengakibatkan serangga terganggu pada proses pergantian kulit, proses perubahan dari telur menjadi larva, perubahan dari larva menjadi kepompong, atau perubahan dari kepompong menjadi dewasa. Biasanya kegagalan proses ini mengakibatkan kematian serangga. Senyawa salanin berperan sebagai penurun nafsu makan (antifeedant) yang mengakibatkan daya rusak serangga sangat menurun, walaupun serangganya sendiri tidak mati. Oleh karena itu, dalam penggunaan insektisida nabati mimba, seringkali hama tidak mati seketika setelah diaplikasi, namun memerlukan 4 – 5 hari. Serangga hama yang sudah terkena aplikasi serbuk biji mimba menjadi lesu dan daya rusaknya sangat menurun karena serangga dalam keadaan sakit. Melianantriol berperan sebagai penghalau serangga hama (repellant) yang mengakibatkan hama serangga enggan mendekati tanaman. Dengan demikian, tanaman yang telah disemprot dengan ekstrak biji mimba tidak akan didekati oleh serangga hama sehingga tanaman selamat dari kerusakan yang diakibatkan hama. Nimbin dan nimbidin berperan sebagai anti mikroorganisme seperti anti virus, anti bakteri, dan anti cendawan, sehingga sangat baik untuk mengendalikan penyakit tanaman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan SBM, ekstrak bawang putih, rimpang jahe, daun pepaya, dan ekstrak campuran lombok, bawang dan jahe (LBJ) mempunyai keefektifan yang setara dalam menekan populasi dan intensitas serangan thrips pada tanaman kacang hijau. Bila dibanding dengan insektisida kimia, insektisida nabati mempunyai keefektifan yang lebih rendah dalam menekan populasi dan intensitas serangan thrips, namun aman terhadap lingkungan. Adanya tindakan pengendalian dapat menekan kehilangan hasil kacang hijau sampai 63%, tergantung bahan aktif yang digunakan.


Gambar 1. Intensitas serangan thrips dan hasil kacang hijau varietas Vima-1 yang mendapat beberapa perlakuan insektisida kimia dan nabati. KP. Muneng, Probolinggo, musim kemarau 2010. IS = intensitas serangan.

(a) (b) (c)

(d) (e) (f)

Gambar 2. Beberapa bahan nabati untuk pengendalian thrips kacang hijau, (a) cabai, (b) bawang putih, (c) jahe, (d) daun papaya, (e) cabai hijau, (f) mimba

Gambar 3. Gejala tanaman kacang hijau terserang thrips (anak panah) dan tanaman sehat (gambar kiri); imago thrips pada bunga kacang hijau (kanan atas) dan imago Megalurothrips usitatus yang diperbesar (kanan bawah)

SW Indiatii