Info Teknologi » Bertanam Kedelai 3 Ton Per Hektar : Dapat Bersaing dengan Jagung

Para perajin tempe dan tahu di tanah air, beberapa kali telah berunjuk rasa menuntut pemerintah untuk menurunkan harga kedelai di dalam negeri sebagai dampak terjadinya kenaikan harga di pasar internasional. Kontraksi harga kedelai paling akhir dilaporkan pada 1-3 Januari 2021 lalu, yakni dari semula Rp 7.200/kg menjadi Rp 9.200/kg. Hal ini menyebabkan para perajin tahu-tempe di daerah Jabodetabek sementara menghentikan produksinya sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga tersebut. Ada tiga tuntutan yang disampaikan kepada pemerintah, yaitu : (1) Tataniaga kedelai dikuasai oleh pemerintah agar harga terkendali, (2) Produksi kedelai dalam negeri yang masih jauh dari kebutuhan agar dievaluasi kembali, dan (3) Realisasi wacana swasembada kedelai.

Kenaikan harga kedelai tersebut seharusnya menjadi berkah bagi petani, namun ironisnya jumlah petani yang mau bertanam kedelai cenderung semakin sedikit, karena pendapatannya kalah bersaing dengan bertanam jagung. Akibatnya, produksi kedelai saat ini hanya mampu memenuhi 25-30% kebutuhan dalam negeri, dan menjadi sangat bergantung kepada kedelai impor yang harganya sangat berfluktuatif di pasaran. Oleh karena itu, petani perlu terus didorong agar tertarik untuk menanam kedelai. Diantaranya melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 07 Tahun 2020 tentang harga acuan pembelian kedelai di tingkat petani Rp 8.500/kg dan harga penjualan di konsumen (perajin tahu-tempe) Rp 9.200/kg. Namun, di lapangan harga kedelai yang diterima oleh petani tetap rendah, hanya berkisar antara Rp 6.500 hingga Rp 7.000/kg. Hal ini berbeda dengan komoditas jagung yang meskipun harga acuan pembelian di tingkat petani hanya Rp 3.100/kg, namun faktanya di lapangan dapat mencapai Rp 4.000/kg. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan untuk menarik minat petani menanam kedelai adalah melalui peningkatan produktivitas kedelai dari rata-rata 1,5 t/ha menjadi 2,5-3,0 t/ha.

Apabila produktivitas kedelai dapat mencapai 3,0 t/ha, maka pendapatan usahatani kedelai akan dapat bersaing dengan jagung (Tabel 1), dan petani tertarik untuk mengembangkannya. Lahan-lahan yang airnya tidak cukup untuk bertanam jagung dapat ditanami kedelai karena kebutuhan airnya lebih sedikit.

Tabel 1. Pendapatan usahatani kedelai hasil 3,0 t/ha dibandingkan dengan bertanam jagung di lahan tegal berpengairan sumur pompa. Tuban, akhir MH 2019
Parameter Usahatani
Jagung

Varietas P32

Kedelai

Varietas Dega 1

 Produksi (kg/ha) 5.648 3.060
Harga (Rp/kg) 4.000 6.500
Penerimaan (Rp/ha) 22.592.000 19.890.000
Biaya (Rp/ha) 9.737.000 7.542.000
Keuntungan (Rp/ha) 12.855.000 12.348.000
B/C 1.32 1.64

Peluang untuk menghasilkan kedelai 3,0 t/ha tersebut cukup besar melalui penggunaan varietas unggul kedelai berpotensi hasil tinggi, diantaranya Dega 1, Detap 1, Derap 1, dan Devon 1. Keempat varietas tersebut tergolong berbiji besar dengan bobot 100 biji masing-masing adalah 22,9 g, 15,0 g, 17,6 g dan 14,3 g, dengan potensi hasil masing-masing 3,87 t/ha, 3,58 t/ha, 3,16 t/ha dan 3,09 t/ha (Gambar 1).

Dega 1

Dega 1

Detap 1

Detap 1

Derap 1

Derap 1

Devon 1

Devon 1

Gambar 1. Keragaan biji kedelai varietas Dega 1, Detap 1, Derap 1, dan Devon 1

Tidak kalah pentingnya adalah jenis lahan yang optimal untuk menghasilkan kedelai 3 t/ha perlu dipetakan dengan baik, yakni lahan-lahan yang tergolong subur, topografi datar dengan intensitas cahaya matahari cukup baik, dan terjamin ketersediaan airnya, terutama pada periode pertumbuhan vegetatif, pembungaan, dan pengisian polong. Lahan-lahan dengan kriteria tersebut, di Jawa Timur diantaranya dapat ditemukan di Kabupaten Banyuwangi, Jember, Pasuruan, Mojokerto, dan Nganjuk. Dengan sentuhan teknologi yang optimal, pertumbuhan kedelai di daerah tersebut cukup baik dan mampu menghasilkan biji hingga 3,0 t/ha.

dega4 dega5
Gambar 2. Pengujian jarak tanam kedelai varietas Dega 1, Detap 1, Derap 1, dan Devon 1 di Banyuwangi ( kiri ), dan varietas Dega 1 yang tumbuh optimal dengan produktivitas >3,0 t/ha ( kanan )

Pada lahan-lahan dengan kriteria di atas, kedelai varietas unggul yang mempunyai potensi hasil >3,0 t/ha ditanam dengan jarak tanam 30 cm x 15 cm, dua tanaman/lubang dan dikelola dengan baik yang meliputi: (1) tanah diolah dengan baik atau tidak diolah tetapi bersih dari gulma, dan dibuat saluran drainase yang cukup, (2) lubang tanam ditutup pupuk kandang atau organik secukupnya, (3) dipupuk dua kali, pertama pada umur 10 hari dengan 25 kg Urea + 100 kg SP36 + 50 kg KCl/ha, dan kedua pada umur 25 hari dengan 25 kg Urea + 50 ZA kg/ha, diicir disamping barisan tanaman, (4) umur 20 dan 30 hari tanaman disemprot dengan pupuk daun Gandasil D, dan umur 40 dan 50 hari disemprot dengan Gandasil B atau pupuk daun lainnya, (5) tanaman cukup mendapatkan air, pengendalian gulma, hama dan penyakit optimal, tanaman mampu menghasilkan biji lebih dari 3,0 t/ha bila jumlah tanaman yang dipanen dapat mencapai 80% dari jarak tanam yang digunakan atau >350 ribu tanaman/ha (Gambar 3). Jumlah polong dan bobot 100 biji kedelai tersebut juga tidak berbeda dengan jarak tanam anjuran 40 cm x 15 cm dan 2 tanaman/lubang yang selama ini banyak diterapkan petani.

Gambar 3. Hasil kedelai varietas Dega 1, Detap 1, Derap 1, dan Devon 1 pada jarak tanam berbeda (populasi tanaman dapat dipanen 80%) di lahan sawah Banyuwangi MK 2020

Gambar 3. Hasil kedelai varietas Dega 1, Detap 1, Derap 1, dan Devon 1 pada jarak tanam berbeda (populasi tanaman dapat dipanen 80%) di lahan sawah Banyuwangi MK 2020

Tautan referensi pendukung:

https://pangan.litbang.pertanian.go.id/files/07-PP0401-DianElisabeth.pdf

Arief Harsono