Info Teknologi » Bioekologi Hama Tikus dan Alternatif Pengendaliannya

Semua jenis tikus yang merupakan hama di Indonesia termasuk anggota dari tiga genus, yaitu Bandicota, Mus, dan Rattus. Tikus sawah (Rattus argentiventer, Rob & Kloss) tercatat sebagai hama utama tanaman padi, dengan dominansi 98,6% di ekosistem sawah irigasi.

Gambar 1. Tikus sawah (Rattus argentiventer, Rob & Kloss) dewasa hasil gropyokan di IP2TP Kendalpayak, Balitkabi (Sumber: koleksi pribadi, November 2020)

Gambar 1. Tikus sawah (Rattus argentiventer, Rob & Kloss) dewasa hasil gropyokan di IP2TP Kendalpayak, Balitkabi (Sumber: koleksi pribadi, November 2020)

Dua jenis hama tikus lainnya (tikus rumah / Rattus rattus diardii dan tikus wirok / Bandicota indica) menempati posisi sebagai individu subdominan di pertanaman padi. Tikus sawah tidak hanya merusak tanaman padi, tetapi juga tanaman pangan lainnya, bahkan komoditas hortikultura dan perkebunan.

Rata-rata tahunan kerusakan tanaman pangan akibat serangan hama tikus dalam periode 2018-2020 adalah 83.462 ha pada tanaman padi, 6.840 ha pada jagung, 231 ha pada kedelai, 316 ha pada kacang tanah, 149 ha pada kacang hijau, 397 ha pada ubi kayu, dan 240 ha pada ubi jalar. Oleh sebab itu, tikus sawah termasuk hama lintas agroekosistem dan lintas komoditas.

Ciri morfologis tikus sawah dapat diketahui dari bobot badan individu dewasa (70-300 g), panjang kepala-badan (170-208 mm), dan panjang tungkai belakang (34-43 mm). Ekor tikus sawah biasanya lebih pendek dari panjang kepala-badan. Tubuh bagian dorsal berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam pada rambutnya.

Pada individu muda terdapat rambut berwarna oranye yang melingkari sisi depan telinga, namun berangsur menipis dan menghilang saat beranjak menua. Rambut pada area tenggorokan, perut, dan inguinal tikus berwarna putih, dan pada bagian posterior berwarna keperakan atau putih keabu-abuan.

Pada bagian ventral seringkali ditemukan rambut yang tersusun menyerupai garis memanjang berwarna lebih gelap daripada rambut di sekitarnya (Gambar 1). Jenis kelamin tikus sawah dibedakan berdasarkan jarak antara anus dan papilla genitalis yang terletak di sisi anterior.

Jarak tersebut lebih pendek pada individu betina apabila dibandingkan dengan tikus jantan (Gambar 2). Tikus betina memiliki enam pasang puting susu yang tersusun dari arah anterior ke posterior pada sisi ventral tubuh. Puting susu tersebut sepasang terletak pada pectoral; dua pasang pada postaxial; satu pasang pada abdominal; dan dua pasang pada inguinal (Gambar 2c).

Tanaman padi stadium bertunas maksimum (generatif awal) merupakan pemicu kematangan seksual tikus sawah jantan. Oleh karena itu, masa birahi dan perkawinan tikus sawah dimulai pada stadium padi bertunas maksimum, dilanjutkan dengan kelahiran pada stadium generatif berikutnya hingga bera awal.

Gambar 2. Identifikasi jenis kelamin tikus sawah berdasarkan jarak anus dan papilla genitalis; (A) jarak lebih pendek pada individu betina; (B) jarak lebih panjang pada tikus jantan (Aplin et al., 2003); (C) Jumlah dan posisi puting susu tikus sawah betina (R. argentiventer, Rob & Kloss) (sepasang pectoral, dua pasang postaxial; satu pasang abdominal; dan dua pasang pada inguinal)

Gambar 2. Identifikasi jenis kelamin tikus sawah berdasarkan jarak anus dan papilla genitalis; (A) jarak lebih pendek pada individu betina; (B) jarak lebih panjang pada tikus jantan (Aplin et al., 2003); (C) Jumlah dan posisi puting susu tikus sawah betina (R. argentiventer, Rob & Kloss) (sepasang pectoral, dua pasang postaxial; satu pasang abdominal; dan dua pasang pada inguinal)

Tanaman padi stadium bunting memberikan pengaruh positif terhadap perkembangbiakan tikus sawah. Generasi hasil perkembangbiakan pada stadium padi bunting merupakan pemicu penggandaan populasi tikus sawah dan berlanjut hingga padi bermalai dan saat panen.

Tikus sawah merupakan salah satu hewan menyusui yang memiliki kemampuan reproduksi relatif cepat. Kematangan seksual tikus betina ditandai dengan membukanya vagina disertai dengan mulainya siklus estrus dan ovulasi pada kisaran umur 28 hari.

Individu jantan mencapai kematangan seksual pada umur 60 hari. Siklus estrus diawali dengan rentang waktu yang relatif tidak teratur hingga tercapai siklus permanen dalam kisaran 4-5 hari dan terus berlangsung hingga individu berumur 10-12 bulan.

Siklus hidup tikus sawah terdiri atas periode kebuntingan berkisar antara 19-25 hari (rerata 21 hari) dan dilanjutkan dengan masa menyusui selama 21 hari (Gambar 3). Periode tersebut terhitung sejak menempelnya embrio pada uterus hingga saat dilahirkan.

Rerata jumlah embrio pada individu hasil tangkapan dari populasi liar adalah 7-8 dengan nisbah kelamin 1 : 1, meskipun pernah ditemukan jumlah terbanyak mencapai 18 embrio. Bentuk uterus yang menyerupai huruf V (bichornis) merupakan faktor pendukung dalam mengakomodir banyaknya embrio yang dihasilkan dalam satu kali periode kebuntingan.

Dalam kurun waktu 48 jam setelah melahirkan, induk betina dewasa mampu kawin lagi untuk memulai kebuntingan berikutnya.

Gambar 3. Siklus hidup tikus sawah (Rattus argentiventer, Rob & Kloss) (Meehan, 1984)

Gambar 3. Siklus hidup tikus sawah (Rattus argentiventer, Rob & Kloss) (Meehan, 1984)

Kemampuan reproduksi tikus sawah yang relatif cepat merupakan masalah utama bagi petani. Kombinasi sejumlah teknologi pengendalian yang berbasis pada pendekatan bioekologi tikus sawah telah diterapkan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia.

Strategi pengendalian tikus secara terpadu dapat ditempuh dengan tanam serempak (synchronized planting), manipulasi dan sanitasi habitat, menurunkan populasi tikus pada periode awal tanam dengan gropyokan massal, penggunaan Community Trap Barrier System (C-TBS) dan Linear Trap Barrier System (LTBS), fumigasi sarang tikus, serta penggunaan rodentisida sesuai anjuran dan tepat waktu.

Namun demikian, penerapan kombinasi teknologi tersebut seringkali mengalami kegagalan karena sejumlah faktor diantaranya:

  1. Kurang rutinnya monitoring keberadaan hama tikus yang berakibat pada keterlambatan dalam mengantisipasi ledakan populasi
  2. Rendahnya pemahaman terhadap aspek bioekologi hama tikus dan teknologi pengendalian
  3. Belum terkoordinirnya kegiatan pengendalian (individual dan tidak berkesinambungan)
  4. Terbatasnya sarana pengendalian, dan
  5. Masih terpeliharanya kepercayaan petani di sejumlah daerah terhadap hama tikus yang dianggap masih memiliki nilai mistik, sehingga menghalangi pelaksanaan pengendalian

Pemahaman mengenai aspek biologi dan ekologi tikus sawah di tingkat petani sangat penting, karena merupakan kunci dasar dalam menerapkan strategi pengendalian.

Dengan mengacu pada karakter bioekologi tersebut, pengendalian hama tikus sawah harus dilakukan secara terpadu dengan memanfaatkan komponen teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian dilakukan sedini mungkin, intensif, dan berkelanjutan dengan melibatkan petani yang terkoordinasi dalam skala luas (hamparan).

Pendekatan lain yang berbasis pada pemahaman reproduksi tikus juga sedang dikembangkan dalam upaya melengkapi teknologi pengendalian yang sudah ada. Pengendalian kesuburan (fertility control) merupakan salah satu metode alternatif untuk menekan populasi tikus sawah. Prinsip dasar metode ini tidak menghilangkan keberadaan individu dari suatu populasi, tetapi hanya membatasi perkembangbiakannya.

Pengendalian kesuburan merupakan metode yang tepat untuk diterapkan pada tikus sawah karena beberapa alasan, yaitu:

  1. Reproduksi tikus sawah tergantung pada ketersediaan tanaman padi untuk setiap musim tanam
  2. Pengaruh yang diakibatkan oleh bahan pengendali kesuburan cukup efektif untuk membatasi reproduksi tikus sawah dalam rentang waktu tersebut
  3. Tikus sawah berkumpul di habitat tertentu untuk berlindung (refuge habitat) selama periode bera, sehingga memudahkan pengaplikasian bahan pengendali kesuburan sebelum memasuki masa reproduksi.

Di samping itu, dinamika populasi tikus sawah yang memiliki satu kali puncak populasi pada saat kondisi bera dalam satu kali musim tanam merupakan faktor pendukung lainnya dalam penerapan pengendalian kesuburan tersebut.

Sejumlah senyawa kimia seperti DiazaCon (20,25 Diazacholesterol dihydrochloride), Nicarbazin (campuran 4,4 dinitrocarbanilide/DNC dan 2-hydroxy-6-6-dimetylpyrimidine/HDP), GonaCon (Gonadotropin releasing hormone (GnRH) decapeptide) dan VCD (4-Vinyl Cyclohexene Diepoxide) memiliki efek kontrasepsif pada beberapa anggota Mammalia.

Senyawa VCD terbukti mampu mengendalikan kesuburan tikus laboratorium betina (Rattus norvegicus). Data terakhir juga mengindikasikan bahwa VCD mampu merusak sel telur muda tikus sawah betina dalam kisaran 40%. Fakta tersebut memberikan peluang bagi peneliti untuk menguji efektivitas VCD sebagai bahan pengendali kesuburan pada hama tikus.

Pengembangan metode ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan umpan sebagai media pendistribusi bahan antifertilitas dan dapat menekan populasi hama. Secara ideal, senyawa kontraseptif perlu dicampur dalam bentuk racikan umpan dengan komposisi bahan dasar yang menarik bagi hama tikus.

Oleh karena itu, diperlukan kajian komprehensif terkait pengembangan umpan berbahan senyawa kontraseptif tersebut, yang dimulai dari skala laboratorium hingga berlanjut ke skala semi lapang (enclosure) dan populasi riil di lapangan.

Nur Áini Herawati


Referensi

  • Jacob, J., N.A. Herawati, Davis, S.A. and Singleton, G.R. 2004. The impact of sterilized females on enclosed populations of rice field rats. J. Wildl. Manage. 68 (4):1130-1137.
  • Jacob, J., Sudarmaji, G.R. Singleton, Rahmini, N.A. Herawati, and P.R. Brown. 2010. Ecologically based rodent management in lowland irrigated rice fields in Indonesia. Wildlife Research. 37:418-427.
  • Herawati, N.A. 2020. The impact of rodent management on rice yields in four different lowland irrigated areas in Indonesia. Eco. Env. & Cons. 26 (June Suppl. Issue): 2020; pp. (S1-S8).
  • Herawati, N.A. and T. Purnawan. 2019. Implementation of integrated ecologically based rodent management and its effectiveness to protect farmers irrigated rice crop in Karawang, West Java – Indonesia. AIP Conference Proceedings 2199. Pp. 040004-1-040004-10.