Info Teknologi » Cendawan Antagonis untuk Mengendalikan Penyakit Tular Tanah dan R. solani Ramah Lingkungan

1-tulartnah-7

Penyakit tular tanah yang disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani atau Sclerotium rolfsii merupakan salah satu faktor pembatas untuk meningkatkan produksi aneka kacang dan umbi.  Cendawan tersebut hidup di dalam tanah atau pada sisa-sisa tanaman dalam bentuk hifa atau sklerotia, bersifat parasit fakultatif maupun hidup secara saprofit, dan dapat bertahan hidup secara terus menerus meski tidak dijumpai tanaman inangnya.  Sklerotia cendawan tahan terhadap keadaan lingkungan kekeringan dan suhu tinggi. Kedua macam cendawan tersebut mempunyai kisaran inang yang luas, antara lain padi, kacang hijau, kacang tanah, kedelai, ubijalar, pisang, jeruk, gandum, keladi, dan kentang. Patogen tular tanah menginfeksi akar atau batang tanaman  yang berbatasan dengan permukaan tanah, menyebabkan transportasi hara dan air tersumbat, akibatnya tanaman layu, selanjutnya menyebar ke seluruh bagian tanaman dan menyebabkan pembusukan.  Serangan parah sering terjadi pada musim hujan, dimana seluruh tanaman di suatu areal layu, dan mengakibatkan petani gagal panen. Pengendalian  cendawan tular tanah sebaiknya disesuaikan dengan cara patogen bertahan hidup. Cara pengendalian penyakit yang dapat diterapkan adalah aplikasi mikroorganisme antagonis, penggunaaan varietas tahan, dan cara mekanis.  Rotasi tanaman tidak mungkin dilakukan karena kisaran tanaman inangnya sangat luas.  Fungisida kimiawi tidak tepat karena penggunaannya harus sering  sesuai dengan sifat tanah yang menyerap, dan dikhawatirkan akan mencemari lingkungan sehingga mikroorganisme musuh alaminya  dan mikroorganisme sebagai pendegradasi senyawa kimia beracun akan mati. Pengendalian yang paling sesuai adalah penggunaan mikroorganisme antagonis, karena aman terhadap lingkungan dan sekali aplikasi akan bermanfaat untuk beberapa kali musim tanam.  Beberapa jenis organisme antagonis dari cendawan tular tanah umumnya dari genus Trichoderma, Gliocladium,  Streptomyces, Bacillus, dan Actinomycetes. Mekanisme antagonis dibagi menjadi 3 golongan, yaitu kolonisasi, kompetisi, dan antibiosis.  Cendawan antagonis memangsa cendawan tular tanah dengan mengkolonisasi atau membelit sel target sehingga sel cendawan tular tanah tidak dapat berkembang. Gambar 1 mengilustrasikan penghambatan cendawan S. rolfsii oleh  isolat Trichoderma. Hasil penelitian menyatakan bahwa Aspergillus, Penicillium, dan Rhizobium juga berperan sebagai musuh alami cendawan S. rolfsii.  Penghambatan pertumbuhan S. rolfsii oleh Trichoderma, Aspergillus, Penicillium secara in vitro dapat mencapai berturut-turut 80–81%, 73–81%, dan 46–57%.  Beberapa jenis Trichoderma berkompetisi dalam hal ruang, nutrisi, dan oksigen, atau mengeluarkan suatu senyawa yang dapat menghambat atau mematikan Rhizoctonia dan Sclerotium.


Gambar 1.  S. rolfsii (miselium putih) vs Trichoderma miselium hijau pada medium PDA. Pada tahun 2006 dilaporkan bahwa beberapa lahan di Lampung dan Sumatera Selatan mengandung cendawan Trichoderma yang dapat dijadikan sumber agensia antagonis untuk pengendalian hayati.  Selain itu, efektivitas penghambatan cendawan Trichoderma terhadap cendawan S. rolfsii, Aspergillus niger, dan Fusarium asal Lampung di laboratorium berturut-turut  berkisar 50–83%, 20–67% dan 39–83%.   Di Sumatera Selatan, penghambatan oleh Trichoderma berturut-turut adalah  37–85%, 23–56%, dan 60–84% (Tabel 1 dan 2). Tabel 1. Penghambatan antagonis (Trichoderma sp.) asal Lampung terhadap patogen tular tanah


Tabel 2.   Penghambatan antagonis (Trichoderma sp.) asal Sumatera Selatan terhadap patogen tular



Penurunan efektifitas penghambatan Trichoderma di laboratorium dan di lapang berkisar 20%. Sebagai contoh penghambatan  pengendalian dengan Trichoderma di laboratorium mencapai 80% turun menjadi 60% saat diaplikasikan di lapang. Beberapa peneliti menyatakan bahwa penggunaan antagonis yang dikombinasikan dengan VAM (Vasikular-Arbuskular Mikoriza) akan meningkatkan efektivitas pengendalian. Kombinasi Streptomyces dalam bentuk cair  untuk perendaman biji selama 24 jam dan VAM dalam bentuk  pelet (penyelimutan biji) dapat mengendalikan Sclerotium rolfsii lebih dari 69%. Selanjutnya, kombinasi Streptomyces dan VAM dapat meningkatkan komponen hasil dan produksi kedelai berat biji per tanaman, berat 100 biji, dan produksi kedelai.