Info Teknologi » Daya Tumbuh Benih Enam Varietas Kedelai pada Penyimpanan Terkendali

sriwahyuningsih

Usaha untuk meningkatkan produksi kedelai nasional masih terus dilakukan, dengan melepas varietas-varietas berdaya hasil tinggi sebagai upaya meningkatkan produksi kedelai. Benih bermutu merupakan salah satu kunci untuk mendapatkan pertanaman yang mampu memberikan hasil optimal (Zecchinelli 2009). Mutu benih dipengaruhi oleh proses penanganan dari produksi sampai akhir periode simpan. Salah satu masalah yang dihadapi dalam penyediaan benih bermutu adalah ruang dan fasilitas penyimpanan (Situmorang 2010). Penyimpanan benih merupakan kegiatan prosesing benih yang bertujuan mempertahankan mutu (viabilitas) benih agar tetap tinggi sampai benih ditanam, menjaga biji agar tetap dalam keadaan baik (daya kecambah tetap tinggi), serta melindungi biji dari serangan hama dan jamur (Siregar 2000). Penyimpanan benih kedelai di daerah tropis yang beriklim lembab seperti di Indonesia, dihadapkan kepada masalah daya simpan yang rendah, karena kadar air benih akan meningkat jika suhu dan kelembaban ruang simpan cukup tinggi. Kadar air yang tinggi menyebabkan laju respirasi benih menjadi tinggi sehingga sejumlah energi di dalam benih hilang (Siregar 2000). Suhu penyimpanan sangat mempengaruhi umur simpan benih. Harrington (1972) menyatakan bahwa suhu dan kadar air tinggi merupakan faktor penyebab menurunnya daya berkecambah dan vigor. Faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup sifat genetik, daya tumbuh dan vigor, kondisi kulit dan kadar air benih awal. Faktor eksternal antara lain kemasan benih, komposisi gas, suhu dan kelembaban ruang simpan (Copeland dan Donald l985). Penelitian mengenai penyimpanan benih dan pengaruhnya pada daya tumbuh benih telah dilakukan menggunakan enam varietas unggul kedelai yaitu (1) Anjasmoro, (2) Argomulyo, (3) Burangrang, (4) Gema, (5) Wilis, dan (6) Gepak Kuning, yang diproduksi di Kebun Percobaan Kendalpayak (Malang), Ngale (Ngawi), dan Muneng (Probolinggo). Benih yang digunakan merupakan benih yang telah disimpan dalam ruang penyimpanan terkendali (Gambar 1) dengan kondisi: ruang penyimpanan ber-AC dengan temperatur suhu <200C dan kelembaban 40%−60% RH, benih dikemas ke dalam plastik inner dan dimasukkan ke dalam kemasan (sak) lalu ditempatkan di atas kayu pada lantai penyimpanan atau pada rak-rak tempat penyimpanan, benih dikelompokkan berdasarkan lokasi produksi, tanggal panen dan varietas sehingga memudahkan pengecekan benih dan dokumentasi data benih yang disimpan.


Gambar 1. Kondisi ruang simpan benih.


Gambar 2. Kecambah kedelai normal (a) dan abnormal (b). Berdasarkan data kecambah normal (KN), kecambah abnormal (KAb), biji segar tidak tumbuh (BSTT), dan benih mati/busuk (BB), dapat diambil kesimpulan bahwa penyimpanan dalam kondisi terkendali menentukan mutu benih, baik mutu fisik maupun fisiologis benih, terutama kadar air dan daya tumbuh (Gambar 2). Benih kedelai yang disimpan dengan kadar air 8% dan dalam kondisi terkendali disimpan pada ruang terkendali (suhu >20oC dengan kelembaban 40%‒60% RH), mutunya tetap tinggi selama penyimpanan 12 bulan.

Sri Wahyuningsih