Info Teknologi » Dinamika Penyebaran dan Nilai Tambah Ekonomi Varietas Unggul Kedelai

dinamika2

Kedelai merupakan komoditas strategis dalam sistem ketahanan pangan nasional karena telah menjadi bagian penting dalam menu makanan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, kedelai perlu tersedia dalam jumlah yang cukup bagi penduduk Indonesia yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Hingga saat ini pemerintah telah melepas lebih dari 70 varietas unggul kedelai dengan berbagai keunggulannya tetapi belum diketahui penggunaannya oleh petani. Varietas-varietas unggul tersebut diharapkan dapat dikembangkan petani sesuai dengan preferensi di masing-masing daerah. Di Indonesia, varietas unggul kedelai yang dominan dikembangkan petani sebelum tahun 2000 adalah Wilis, kecuali di Aceh yang berkembang adalah varietas Kipas Putih. Hingga tahun 2009 varietas Wilis yang berkarakter ukuran biji sedang masih merupakan varietas yang dominan di Indonesia (46%), tetapi setelah itu mulai tergeser oleh varietas kedelai yang berkarakter ukuran biji besar. Di Jawa Timur petani kedelai masih menyukai varietas Wilis hingga sekarang, meskipun sudah mulai tergeser oleh varietas kedelai berbiji besar seperti Anjasmoro, Baluran, Argomulyo, dan Burangrang. Varietas Wilis masih disukai karena biji tidak mudah pecah dan benih masih cukup banyak beredar di petani. Varietas Anjasmoro adalah varietas yang dominan di Nusa Tenggara Barat, Nangroe Aceh Darussalam, dan Jawa Barat. Varietas Anjasmoro disukai oleh petani di daerah sentra produksi tersebut karena disukai oleh pengrajin tempe, demikian pula dengan varietas Mahameru yang sangat dominan di Sulawesi Selatan, karena varietas ini berkarakter biji besar dan disukai oleh pengrajin tempe. Varietas Grobogan dominan di Jawa Tengah karena varietas Grobogan sangat sesuai dengan kondisi tanah di Jawa Tengah, dan berkarakter biji besar yang sangat disukai oleh pengrajin tempe.


Gambar. Luas panen (ha) varietas unggul kedelai yang ditanam oleh petani, MT 2012.
Sumber: Krisdiana (2012). Sejak tahun 2012 secara umum tampak bahwa varietas unggul kedelai yang paling disukai adalah Anjasmoro, Wilis, Mahameru, dan Grobogan. Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh varietas unggul ini yang sesuai dengan preferensi petani dan konsumen (Gambar). Di antara varietas-varietas unggul yang dikembangkan petani di sentra produksi pada tahun 2012, Anjasmoro memberikan kontribusi ekonomi tertinggi (33%) yang mencapai Rp1,3 trilyun. Pengembangan varietas unggul Maha­­­meru dan Grobogan masing-masing memberikan kontribusi ekonomi Rp0,6 trilyun (16%). Sementara varietas unggul Wilis yang dilepas sejak 30 tahun lalu masih ditanam petani dengan kontribusi ekonomi Rp0,56 trilyun (14%). Varietas unggul Baluran yang berada pada posisi keempat tertinggi memberikan kontribusi ekonomi Rp0,25 trilyun (6%). Secara nasional, kontribusi atau nilai tambah ekonomi varietas-varietas unggul kedelai yang telah dikembangkan petani di Indonesia mencapai Rp3,9 trilyun (Tabel 1).

Dalam upaya peningkatan produksi kedelai, sosialisasi dan pengembangan varietas unggul dalam program PTT perlu mendapat perhatian lebih besar. Program ini perlu didukung oleh kebijakan penyediaan benih bermutu dari varietas unggul baru dalam jumlah yang cukup dan mudah diakses petani. Penangkar dan industri benih di daerah perlu didorong untuk berkontribusi dalam penyediaan benih kedelai bermutu dengan memperhatikan preferensi petani dan konsumen di daerah setempat. Kontribusi ekonomi varietas unggul kedelai masih dapat ditingkatkan melalui kebijak­an penggunaan benih bersertifikat, khususnya varietas lokal dan varietas unggul lama (Davros, Orba, Lokon, Galung­gung dan Wilis).

RK