Info Teknologi ยป Efektifitas Multiisolat Rhizobium Iletrisoy Pada Tanaman Kedelai Di Tanah Masam Ultisoll

efektifitas-multiisolat-6

Luas lahan kering di Indonesia mencapai sekitar 18,5 juta ha, namun kondisi pH tanah, C organik, kandungan hara N, P, dan Ca rendah serta Al dan Mn tinggi sering menjadi penghambat pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Pemanfaatan bakteri rhizobium yang toleran kondisi masam berkadar Al, Mn, dan Fe tinggi dapat menggantikan sebagian besar pupuk N anorganik pada tanaman kedelai yang ditanam di lahan masam, terutama pada lahan-lahan yang belum pernah ditanami kedelai. Penelitian untuk menguji efektifitas multiisolat rhizobium toleran masam ILETRISOY telah dilaksanakan di rumah kaca Balitkabi Malang pada bulan Juni hingga September 2008 menggunakan tanah masam Ultisol asal Lampung Timur. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap faktorial tiga ulangan. Faktor pertama adalah pemberian macam amelioran dan pemupukan Urea terdiri atas: A) Tanpa amelioran, B) 1,5 t/ha dolomit, C) 1,5 t/ha dolomit + 2 t/ha bokashi, dan D) 1,5 t/ha dolomit + 2 t/ha bokashi + 2,0 kg Amonium hepsa molibdat. Faktor kedua adalah jenis inokulan rhizobium, terdiri atas: 1) Tanpa inokulasi, 2) tanpa inokulasi + 50 kg Urea/ha, 3) ILETRISOY-1, 4) ILETRISOY-2, 5) ILETRISOY-3, 6) ILETRISOY-4, 7) inokulan komersial (Legin).

Tabel 1. Sifat kimia tanah sebelum dan sesudah diberi amelioran. Keterangan: tu = Tidak terukur, ta = tidak diamati. Sifat kimia tanah sebelum diberi amelioran (Dolomit, Bokashi, dan Mo) tergolong masam dengan ketersediaan hara N, K, dan Ca rendah, P, Fe, Al, dan Mn sangat tinggi. Populasi rhizobium endogen 65/g tanah dan tergolong sangat rendah (Tabel 1). Sifat kimia tanah tersebut kurang sesuai untuk pertumbuhan kedelai, sedangkan populasi rhizobium endogen yang rendah memerlukan inokulasi bakteri rhizobium. Syarat minimal populasi rhizobium endogen untuk dapat menginfeksi akar kedelai adalah 1000 sel/gram tanah yang efektif.
ILETRISOY-1, 2, 3 efektif dapat memacu pembentukan bintil akar pada tanah yang tidak diberi ameliorant dari 3 bintil menjadi 38 bintil, 33 bintil dan 35 bintil per tanaman (Gambar 1). Keefektifan ILETRISOY-3 meningkat apabila tanah diberi amelioran Dolomit 1,5 t/ha dan Bokashi 2 t/ha. Pada ameliorasi tersebut, inokulasi ILETRISOY3 mampu membentuk 66 bintil akar per tanaman, sementara itu pada tanpa inokulasi dan inokulasi dengan Legin masing-masing terbentuk bintil akar 0,67 dan 30 bintil per tanaman (Tabel 2).

Gambar 1. Keragaan pembentukan bintil akar kedelai di tanah masam Ultisol dengan inokulasi ILETRISOY-1 (A) ILETRISOY-2 (B), ILETRISOY-3 (C), dan tanpa inokulasi (D).

Peningkatan pembentukan bintil akar akibat inokulasi isolat rhizobium ILETRISOY tersebut, mampu meningkatkan kadar N daun dibanding tanpa inokulasi terutama pada tanaman yang tumbuh pada tanah yang tidak diberi amelioran. Peningkatan kadar N daun ini juga berdampak pada peningkatan kandungan klorofil daun (Tabel 3) yang sangat penting dalam proses asimilasi tanaman.
Namun pengaruh macam inokulan dan amelioran terhadap jumlah polong isi dan hasil biji per tanaman tidak saling berinteraksi (Tabel 4). Pemberian dolomit 1,5 t/ha, mampu meningkatkan jumlah polong isi per tanaman 42%, yakni dari 21 menjadi 29 polong, Tambahan bokashi 2 t/ha pada tanaman yang sudah diberi Dolomit 1,5 t/ha tidak meningkatkan jumlah polong/tanaman tetapi meningkatkan hasil biji pertanaman cukup signifikan. Pemberian Dolomit dan Dolomit + Bokashi masing-masing meningkatkan hasil dari 3,17 g menjadi 4,60 g dan 4,96 g/tanaman atau masing-masing meningkat 45,1% dan 61,5% dibanding hasil tanaman tanpa amelioran.

Tabel 2. Jumlah bintil dan bobot bintil akar efektif kedelai pada berbagai kombinasi macam inokulan dan ameliorant (Rumah Kaca Balitkabi, 2008) Nilai yang didampingi huruf sama pada tolok ukur sama tidak berbeda pada menurut uji Duncan 5%.

Tabel 3. Kadar N dan indeks klorofil daun kedelai akibat interaksi pemberian inokulan dan amelioran tanah (Rumah Kaca Balitkabi, 2008)

Nilai yang didampingi huruf sama pada tolok ukur sama tidak berbeda pada menurut uji Duncan 5%.

Inokulasi dengan ILETRISOY 1, 2, 3 dan 4 masing-masing mampu meningkatkan jumlah polong isi per tanaman cukup signifikan dibanding tanpa inokulasi, dipupuk Urea 50 kg/ha maupun diinokulasi dengan Legin. Dibanding diinokulasi dengan Legin, inokulasi dengan ILETRISOY 1, 2 dan 3 mampu memberikan hasil lebih tinggi (Tabel 4).

Tabel 4. Jumlah polong isi, jumlah biji, dan hasil biji pada pemberian inokulan dan amelioran tanah (Rumah kaca Balitkabi, 2008)

Nilai yang didampingi huruf sama pada tolok ukur sama tidak berbeda pada menurut uji Duncan 5%.

Dari hasi penelitian dapat disimpulkan bahwa isolat rhizobium ILETRISOY-1, 2, 3, dan 4 mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai pupuk hayati rhizobium toleran masam. Inokulasi ketiga isolat tersebut dapat meningkatkan pembentukan bintil akar efektif tanaman kedelai di tanah masam Ultisol ber pH 4,6 dengan kejenuhan Al 23,39%. Pada tanah yang diberi amelioran 1,5 t/ha dolomit dan 2 t/ha bokhasi, multiisolat ILETRISOY-3 dapat membentuk bintil akar efektif dengan sangat baik. Peningkatan jumlah bintil akar tersebut mampu meningkatkan kandungan N dan klorofil daun, sehingga dapat meningkatkan hasil biji 14 – 21%, sepadan dengan pemberian pupuk Urea 50 kg/ha.

Disarikan oleh Didik Sucahyono dari: Arief Harsono. 2010. Efektifitas multiisolat rhizobium ILETRISOY pada tanaman kedelai di tanah masam Ultisol. Agritek, 19 (2) 2010:1-7.