Info Teknologi » Evaluasi Penerapan Teknologi Jarwo Super pada Kedelai

jarwo

Hamparan varietas Anjasmoro dengan teknologi Jarwo Super di Jember

Penerapan Teknologi Jajar Legowo Super (Jarwo Super) pada komoditas padi secara utuh oleh petani diyakini mampu memberikan hasil minimal 10 ton GKG/ha per musim, sementara hasil padi yang diusahakan dengan sistem jajar legowo hanya 6 ton GKG/ha. Dengan demikian terdapat penambahan produktivitas padi sebesar 4 ton GKG/ha per musim (Kementan 2016). Lompatan hasil pada teknologi Jarwo Super sebesar 67% selain memberikan kepuasan kepada pengguna teknologi (petani maupun pengambil kebijakan) juga akan memberi ‘inspirasi’ untuk diterapkan di lain komoditas.

Tidak terkecuali untuk tanaman kedelai, lompatan produktivitas kedelai sangat dibutuhkan. Saat ini rata-rata produktivitas nasional rendah antara 1,3‒1,5 ton/ha (BPS 2018), sementara potensi hasil dari VUB kedelai sampai 3,5 ton/ha (Balitkabi 2018). Dengan demikian perlu mengawinkan VUB dengan teknologi yang aplikatif untuk mewujudkan lompatan hasil seperti yang dicapai pada padi. Andaikan keberhasilan Jarwo Super pada padi dapat menular pada kedelai dengan kenaikan hasil sebesar 67%, maka tingkat produktivitas kedelai nasional akan meningkat mencapai 2,2‒2,5 ton/ha. Selanjutnya semua program kedelai akan berjalan mulus dan impian swasembada terwujud.

Balitkabi pada tahun 2017 mencoba menerapkan teknologi kedelai Jarwo Super di lima lokasi yaitu Kabupaten Jember dan Banyuwangi (Jawa Timur), Kabupaten Indramayu (Jawa Barat), Kabupaten Lombok Barat (NTB), dan Kabupaten Maros (Sulawesi Selatan) masing-masing seluas 11 ha. Teknologi yang diperkenalkan adalah : cara tanam teratur dengan jarak tanam Jajar Legowo (baris ganda) 2 :1 jarak tanam 60 cm x (20 cm x 15 cm) atau 50 cm (30 cm x 15 cm). Varietas kedelai yang ditanam adalah Dena 1, Anjasmoro, Argomulyo, dan Dega 1. Penggunaan inokulan Rhizobium (Agrisoy, produk Balitkabi), pupuk Phonska 100 kg/ha dan SP-36 100 kg/ha serta pupuk organik 1 t/ha.

Bagaimana Penerapan Teknologi Jarwo Super pada Kedelai?

Evaluasi penerapan teknologi Jarwo Super pada kedelai di lima wilayah Kabupaten Jember, Banyuwangi, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Maros telah dilakukan pada 2017. Kegiatan evaluasi termasuk dengan melihat bagaimana efektivitas dari teknologi tersebut oleh pengguna (petani). Wujud keefektifan penyebaran teknologi adalah keberlanjutan diadopsinya teknologi tersebut oleh petani di musim selanjutnya.

Berdasarkan alokasi input usaha tani kedelai di empat lokasi, maka baik teknologi eksisting maupun Jarwo Super, semua usaha tani yang dilakukan memperoleh keuntungan kecuali pada teknologi Jarwo Super di Kabupaten Indramayu (Jawa Barat) karena mendapatkan cekaman kekeringan. Namun ditinjau dari aspek tingkat kelayakan secara ekonomi, maka keuntungan yang diperoleh dari usaha tani kedelai tersebut hanya ada di dua tempat yaitu di Kabupaten Jember dan Kabupaten Maros sehingga layak untuk diusahakan, karena nilai B/C-nya lebih dari satu (Tabel 1). Bahkan di Jember nilai tingkat kelayakannya paling tinggi dari semua lokasi. Meskipun demikian, teknologi kedelai Jarwo Super tidak mampu untuk mengganti teknologi yang sudah ada (eksisting). Keberhasilan adopsi teknologi Jarwo Super oleh petani ini harus diikuti dengan sarana penunjang yaitu pemecahan kelangkaan tenaga untuk kebutuhan tanam misalnya alat tanam aplikatif untuk budi daya kedelai. Terakomodasinya sarana penunjang dan keterlibatan langsung petani terhadap penerapan teknologi kedelai mempercepat pemahaman dan menumbuhkan rasa kebutuhan (self need) petani akan teknologi kedelai tersebut.

Lain halnya di Kabupaten Maros, teknologi kedelai Jarwo Super mampu mengganti teknologi eksisting dan dapat meningkatkan keuntungan (multiplier effect) dua kali dari keuntungan yang biasa diterima petani. Hal ini berarti setiap satuan uang yang diinvestasikan untuk mengganti teknologi eksisting kepada teknologi Jarwo Super memperoleh keuntungan dua kali lipat. Akan tetapi, apabila petani beralih menggunakan teknologi kedelai Jarwo Super, maka keuntungan petani akan menurun. Dengan diintroduksikan teknologi kedelai jajar legowo di daerah ini akan memberikan pilihan kepada petani dalam hal teknik budi daya. Respon petani cukup baik, karena dengan pola jajar legowo yang menggunakan jarak tanam 60 cm x 20 cm x 15 cm memungkinkan untuk digunakan alat tanam dan mesin alat panen yang sudah tersedia sehingga menghemat tenaga dan biaya. Varietas yang digunakan adalah Argomulyo dan Dena 1. Secara umum, petani kooperator setuju dengan teknologi budi daya jajar legowo yang diperkenalkan oleh Balitkabi karena mudah cara aplikasinya, menghemat biaya tenaga kerja, memudahkan perawatan tanaman, serta mampu meningkatkan produksi kedelai. Varietas yang disukai oleh petani adalah Dena 1 karena memiliki biji besar dan bulat menyerupai kedelai impor, dengan warna kulit biji yang lebih putih/lebih cokelat terang dibandingkan kedelai impor serta hasil produksi yang lebih tinggi daripada varietas Argomulyo.

Tabel 1. Analisis Usaha Tani Teknologi Kedelai Jarwo Super
Teknologi di

Lokasi

Biaya(Rp.000) Penerimaan (RP.000) Keuntungan B/C MBCR
Saprodi TK Total Produksi
(t/ha)
Harga*
(Rp)
Total
(Rp)
Jember :
Eksisting 1585 3150 4735 2,2 7.000 15.400 10.665 2,25
Jarwo Super 1995 3500 5495 2,08 7.000 14.560 9.065 1,65 -1,11
 Maros:
 Eksisting  1.525  3.600  5.125  1,54  7.000  10.780  5.655  1,10
Jarwo Super 1.544,7 3.026,3 4.570,7 1,72  7.000 12.040 7.649,3 1,63  2,27
Lombok Barat:
Eksisting 1.120 3.710 5.130 1,32  7.000  9.240  4.110  0,80  Tidak layak ekonomi
Jarwo Super 1.575 4.135 5.705 1,32  7.000 9.170 3.465 0,61
Indramayu:
Eksisting 1.712,5  5.650  7.362,5 1,64  7.000  9.480  2.117,5  0,28  Tidak layak ekonomi
Jarwo Super 1.712,5 6.900 8.612,5 0,75  7.000 5.250 -3.362,5 -0,39
 Keterangan * : Tingkat harga kedelai dibeli sebagai calon benih dengan kadar air di atas 12%

Di Indramayu Jawa Barat, peluang adopsi cara tanam Jarwo Super sulit diterima petani karena tanam kedelai pada MK-1 dan MK-2 dengan ketersediaan air terbatas dan terjadi cekaman kekeringan, sehingga pertumbuhan kanopi daun tanaman kedelai lambat menutup permukaan tanah akibatnya gulma tumbuh lebih cepat. Hal ini terbukti pada analisis usaha tani bahwa biaya penyiangan relatif tinggi. Dengan jarak tanam yang terlalu lebar pada daerah dengan ketersediaan air terbatas maupun pada lahan tadah hujan berpotensi terjadi kompetisi antara tanaman kedelai dan gulma, sehingga mengganggu pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai.

Demikian juga di lokasi Lombok, petani menyatakan tidak setuju dengan penggunaan teknologi Jarwo Super untuk kedelai karena gulma menjadi lebih banyak dan hasil tanaman lebih sedikit. Petani masih memberikan respon bahwa cara tanam jajar legowo dirasakan tidak mempengaruhi hasil produksi kedelai dan cara aplikasinya cenderung lebih rumit dibandingkan cara tanam  yang biasa diterapkan oleh petani.

Peluang Adopsi Teknologi Kedelai Jarwo Super

Berdasarkan faktor dalam kapabilitas petani untuk melihat peluang adopsi teknologi Jarwo Super, maka ditetapkan enam variabel bebas (’independent’) yang dianalisis. Faktor tersebut adalah umur petani, pendidikan formal petani, luas tanam, pengalaman petani, jarak (radius) dari pusat demfarm, dan status petani (kooperator atau non kooperator) (Tabel 2). Dari enam variabel tersebut menghasilkan tiga variabel yang berpengaruh nyata pada kemungkinan penerapan teknologi kedelai Jarwo Super. Variabel tersebut adalah pendidikan, jarak lahan, dan status petani, sedangkan ketiga variabel yang lain tidak berpengaruh. Ini artinya tiga variabel yang nyata tersebut akan memberikan kontribusi kepada adopsi teknologi kedelai Jarwo Super. Pemahaman teknologi kedelai Jarwo Super akan mudah diterima oleh petani yang mempunyai tingkat pendidikan semakin tinggi, jarak jauh atau dekatnya (radius) ke pusat percobaan sebagai cerminan efektivitas, dan pemahaman teknologi serta status petani dalam hal ini posisi petani kooperator atau non kooperator. Variabel aspek pengalaman berusaha tani, umur petani maupun luas pertanaman kedelai tidak berpengaruh nyata terhadap adopsi teknologi kedelai Jarwo Super.

Faktor-faktor yang berpengaruh pada aspek adopsi teknologi di atas sangat penting dalam mempertimbangkan penyebaran (difusi) teknologi kedelai Jarwo Super pada berbagai saluran komunikasi pada kegiatan diseminasi (multi channel). Saluran komunikasi merupakan ’alat’ untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber berita kepada penerima. Dalam memilih saluran komunikasi, sumber berita paling tidak perlu memperhatikan (a) tujuan diadakan komunikasi dan (b) karakteristik penerima. Jika komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kepada khalayak yang banyak dan tersebar luas, maka saluran komunikasi yang lebih tepat, cepat dan efisien, adalah media massa. Tetapi jika komunikasi dimaksudkan untuk mengubah sikap atau perilaku penerima secara personal, maka saluran komunikasi yang paling tepat adalah saluran interpersonal dengan mengajak terlibat langsung petani (kooperator). Hal ini sudah terbukti pada semua lokasi gelar teknologi kedelai, petani merespon dan lebih mudah memahami jika melihat langsung atau terlibat langsung pada kegiatan budidayanya.

Teknologi tanam jajar legowo sudah berhasil dikembangkan untuk tanam padi. Pada kedelai telah dicobakan, ternyata meskipun cocok untuk budi daya padi belum sesuai untuk tanam kedelai, meskipun di Maros Sulawesi Selatan cocok dengan adanya dukungan mesin tanam dan mesin panen. Inovasi dengan teknologi kedelai super (pola jajar legowo) belum diketahui sebelumnya oleh petani kedelai di semua lokasi percobaan. Dari hasil pengamatan dan hasil analisis, teknologi ini mudah dipahami oleh pengguna teknologi (petani) jika petani dapat terlibat langsung dalam percobaan atau petani kooperator.

Apabila dibuat ranking pemahaman petani terhadap keefektifan saluran komunikasi dari yang paling efektif sampai yang kurang efektif adalah: melihat langsung di lapang, mengunjungi pameran (demfarm), cerita teman (kelompok), melihat di media elektronik dan terakhir membaca di media cetak. Jangka waktu, proses keputusan inovasi, mulai dari seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu. Dimensi waktu terlihat dalam (a) proses pengambilan keputusan inovasi, (b) keinovatifan seseorang: relatif lebih awal atau lebih lambat dalam menerima inovasi, dan (c) kecepatan pengadopsian inovasi dalam sistem sosial. Karakteristik dan kapasitas petani seperti semakin tinggi tingkat pendidikan formalnya akan semakin cepat memahami inovasi yang diintroduksikan.

Tabel 2. Estimasi Maximum Likehood pada fungsi logistik teknologi kedelai Jarwo Super
Efek Parameter Standard error α Keterangan
Intercept  -20.403  5935.495 0,0006
Umur -0,155 0,098 2,468 tidak nyata
Pendidikan 18,280 5935,494 0,0003 nyata(95%)
Luas Tanam 8,934 5,628 2,520 tidak nyata
Pengalaman 2,071 1,442 2,064 tidak nyata
Jarak demfarm 0,214 0,675 0,101 nyata(90%)
Status 20,501 5702,582 0,0001 nyata(95%)

Hasil analisis selanjutnya disajikan pada Tabel 3 yang menunjukkan bahwa petani kooperator akan menerapkan 40% dari komponen teknologi kedelai super untuk musim mendatang. Hal ini berarti pada musim tanam kedelai mendatang petani akan menerapkan budi daya kedelai dengan pola jajar legowo. Sebagian petani non kooperator akan mengadopsi 11,39% teknologi kedelai Jarwo Super.

Tabel 3. Kontribusi peluang adopsi pada setiap variabel secara parsial
Variabel Kontribusi peluang setiap variabel
Kooperator(%) Non kooperator
 Pendidikan 50,05  37,87
Status 40,03 11,39
Jarak demfarm 80,1 30,05

Keberhasilan teknologi Jarwo Super pada padi tidak bisa secara langsung dapat diikuti oleh kedelai. Ada situasi dan kondisi pada tanaman kedelai dan (self need) petani tidak terfasilitasi oleh teknologi Jarwo Super tersebut. Peluang adopsi penggunaan teknologi kedelai Jarwo Super adalah 40% akan diterapkan oleh petani kooperator di musim tanam mendatang, sedangkan petani berstatus non kooperator akan menerapkan teknologi kedelai Jarwo Super sebanyak 11,39%. Rendahnya tingkat adopsi ini karena teknologi kedelai Jarwo Super belum mampu menggantikan teknologi eksisting yang sudah biasa dilakukan petani. Ketidakmampuan teknologi kedelai Jarwo Super menggantikan teknologi eksisting karena lebih rendahnya keuntungan yang diperoleh dan kecilnya nilai tingkat kelayakan dibanding teknologi eksisiting. Terkecuali di lokasi Kabupaten Maros, teknologi kedelai Jarwo Super berpeluang besar akan menggantikan teknologi eksisting karena sudah didukung oleh penggunaan mesin tanam dan mesin panen di daerah tersebut.
Fahrur Rozi