Info Teknologi » Galur Harapan Kacang Tanah Tahan Penyakit Karat dan Bercak Daun

Kebutuhan kacang tanah di Indonesia cenderung meningkat yakni sekitar 4,4% setiap tahun karena kemajuan teknologi industri pengolahan, sedangkan laju peningkatan produksi masih sekitar 2,5% setiap tahun. Artinya, masih terjadi kesenjangan antara kebutuhan dengan pasokan. Selama ini kekurangan produksi nasional yang rata-rata 200.000 ton per tahun dipenuhi dari impor. Untuk mempersempit kesenjangan tersebut, diperlukan upaya yang dapat meningkatkan produksi, baik melalui perbaikan teknik budidaya, teknik pengendalian OPT, pemenuhan kebutuhan hara, pembenahan sistem perbenihan, dan penyediaan varietas unggul. Serangan penyakit bercak daun (awal atau akhir) dan penyakit karat daun dapat menjadi salah satu penghambat peningkatan produksi. Kedua penyakit ini merupakan penyakit yang penting pada tanaman kacang tanah karena menyebabkan kehilangan hasil hingga 70%. Salah satu cara mencegah kehilangan hasil yang lebih besar adalah dengan menanam varietas tahan dan berdaya hasil tinggi. Perakitan varietas unggul kacang tanah telah menghasilkan sejumlah galur tahan penyakit bercak dan karat daun sekaligus berproduksi tinggi, dua diantaranya adalah GH 12 (Mc/GH7-04C-135-111) dan GH 14 (Mc/GH7-04C-41-57rp) (Gambar). Kedua galur tersebut tahan terhadap penyakit karat daun (Puccinia arracidis Speg) dan penyakit bercak daun (Phaeoisariopsis personata Berk & Curt.). Kedua galur juga tahan terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia Solanacearum). Tinggi tanaman kedua galur sekitar 40–54 cm, pada lingkungan subur atau saat ditanam musim hujan (MP) tinggi tanaman dapat mencapai 85–92 cm. Jumlah polong rata-rata 42−54 polong/tanaman dari kemampuan tertinggi 62−69 polong/tanaman, bobot polong kering sekitar 1−1,25 g/polong dengan ukuran biji sedang, yaitu sekitar 50,0–51,7 g/100 biji, pada lingkungan/musim optimum bobot tersebut dapat meningkat menjadi 61,1–63,7 g/100 biji. Secara umum, ukuran biji kedua galur lebih besar dari varietas Jerapah dan Singa yang masing-masing memiliki bobot 100 biji sekitar 47,8–48,7 g/100 biji. Umur masak kedua galur tersebut antara 9– 115 hari setara dengan varietas Singa. Indeks panen antara 29−32% dan kedua galur mempunyai postur yang agak rimbun. Dalam program pengembangan bio-industri primer, biomas kedua galur berpotensi dijadikan sumber bahan pakan ternak, karena dengan tingkat ketahanan yang tinggi terhadap penyakit bercak dan karat daun membuat tanaman masih segar hingga mencapai umur panen. Meski respon terhadap penyakit bercak dan karat daun tidak sama, secara umum ketahanan kedua galur lebih baik dibanding lima varietas (Domba, Kancil, Bima, Talam 1, dan Hypoma 1), serta Jerapah dan Singa. Keunggulan lain galur Mc/Gh7-04c-135-111 dan Mc/Gh7-04c-41-57rp adalah memiliki stabilitas di atas rata-rata, beradaptasi khusus di lingkungan marginal (karena kekeringan di fase generatif), daya hasil masing-masing mencapai 5,9 t/ha dan 5,2 t/ha polong kering dengan rata-rata 4,57 t/ha dan 4,23 t/ha polong kering. Hasil tersebut berturut-turut 33,92% dan 25,46% lebih tinggi dari Jerapah dan Singa. Galur Mc/Gh7-04c-135-111 dan Mc/Gh7-04c-41-57rp memiliki kandungan protein (26,98–27,90%) dan lemak (47,95–49,14%) cukup tinggi, termasuk tipe Spanish (satu polong dua biji), ukuran polong dan biji sedang, dan kulit ari biji berwarna rose.


Gambar. Keragaan Galur Mc/Gh7-04c-135-111 (A) dan Mc/Gh7-04c-41-57rp (B).

JP