Info Teknologi ยป Inovasi Grader Benih Kedelai di Tingkat Penangkar

Program pemerintah untuk memacu produksi kedelai nasional yang dicanangkan sejak tahun 2006, membutuhkan penyediaan benih unggul kedelai yang cukup tinggi (mencapai 31.000 ton/tahun). Namun sampai saat ini penggunaan benih bermutu di tingkat petani masih rendah, meskipun sudah lebih dari 20 varietas unggul kedelai yang dilepas pemerintah. Sebagian besar petani masih menggunakan benih tidak bersertifikat. Sejalan dengan program pemerintah tersebut, upaya peningkatan produksi benih kedelai nasional melalui pembinaan penangkar benih kedelai mempunyai nilai strategis. Melalui penangkar benih yang dibina, varietas unggul kedelai dapat disebarluaskan ke petani. Untuk menjamin mutu benih sebar (daya tumbuh minimal 70%) yang digunakan petani, pemerintah telah menetapkan standar mutu benih kedelai. Mempertimbangkan pentingnya jaminan mutu benih kedelai tersebut, beberapa unit produksi benih sumber di Indonesia (UPBS) telah mulai menerapkan ISO 9001-2008. Namun demikian, di tingkat penangkar benih yang aktif dalam sistem Jabalsim (Jalur benih antar lapang dan musim), penerapan ISO 9001-2008 masih mengalami kendala. Salah satunya adalah belum adanya jaminan keseragaman ukuran benih kedelai. Dari beberapa hasil penelitian telah disimpulkan bahwa keseragaman ukuran benih penting, karena berkorelasi positif dengan vigor dan tingkat hasil suatu tanaman termasuk kedelai. Oleh karena itu, perlu dukungan inovasi alat sortasi benih (grader) yang layak diterapkan di tingkat penangkar, untuk meningkatkan kinerja dan menjamin keberlanjutan sistem produksi benih kedelai nasional.Rekayasa grader dilaksanakan di Laboratorium Mekanisasi Pertanian, Balitkabi dan di Kebun Percobaan Muneng, dimulai pada bulan Januari hingga Desember 2011. Berdasarkan fakta bahwa sebagian besar varietas unggul kedelai yang sudah dilepas bentuk bijinya lonjong atau oval, maka grader yang direkayasa menggunakan tipe saringan lonjong (ukuran lubang: 6 mm, 5mm, dan 4 mm) dan tipe saringan bulat sebagai pembanding (ukuran lubang: 6 mm, 5 mm, dan 4 mm). Dari evaluasi uji fungsional kinerja alat (Gambar 1) diperoleh bahwa, grader dengan tipe saringan lonjong (ukuran lubang 6 mm, 5 mm dan 4 mm) dapat meningkatkan kapasitas alat dan kelas mutu benih (mayoritas dari satu grade menjadi dua grade) baik untuk kedelai varietas biji besar dan sedang, dibandingkan dengan menggunakan tipe saringan bulat. Kapasitas alat sortasi dengan menggunakan tipe saringan lonjong untuk varietas Grobogan (656 kg/jam) lebih besar dibandingkan kedelai varietas Wilis (437 kg/jam). Demikian juga pada tahap uji verfikasi dengan menggunakan varietas Argomulyo, kapasitas alat sortasi dengan memakai tipe saringan lonjong lebih besar (678 kg/jam) dibandingkan kedelai varietas Wilis (437 kg). Meskipun ada perbedaan kapasitas antar varietas, pada tingkat jam kerja selama 8 jam per hari, kapasitas grader yang direkayasa sudah melebihi sasaran kapasitas 3 ton/hari. Dengan menggunakan tipe saringan lonjong mayoritas terdapat dua kelas mutu benih/grade (Gi) untuk varietas Grobogan (Gambar 2) dengan rata-rata diameter biji 9 mm untuk G1 (56,5%) dan 8 mm untuk G2 (37,8%). Untuk varietas Wilis diperoleh rata-rata diameter biji 5,1 mm untuk G1 (14,6%), 5,0 mm untuk G2 (23,8%) dan 4,8 mm untuk G3 (56,1%). Untuk varietas Argomulyo diperoleh rata-rata diameter biji 6,6 mm untuk G1 (51,9%), 6,5 mm untuk G2 (33,7%) dan 6,4 mm untuk G3 (14,4%). Tingkat keseragaman benih 90% juga sudah tercapai seperti tercermin dalam indeks keseragaman. Indeks keseragaman benih hasil sortasi sama untuk kedelai berbiji besar dan sedang yaitu fraksi kasar : sedang : halus = 10 : 0 : 0, artinya tingkat keseragamannya mencapai 100%. Dengan tingkat keseragam benih yang cukup tinggi, daya tumbuh benih yang dihasilkan masih lebih besar dari standar mutu benih sebar (70%). Pada tingkat harga alat Rp 16 juta/unit dan upah 2 orang operator sebesar Rp150.000 per hari, diperoleh biaya pokok pengoperasian alat (BP) sebesar Rp54/kg, titik impas (BEP) sebesar 107 t/tahun, waktu pengembalian modal (PBP) selama 7,2 bulan, nilai keuntungan (NPV) selama lima tahun umur ekonomis alat sebesar Rp64,9 juta, nisbah keuntungan dengan biaya (B/C) sebesar 1,59 dan tingkat pengembalian modal (IRR) sebesar 179,7%. Kesimpulannya secara teknis dan finansial grader Balitkabi mempunyai prospek cukup besar diterapkan di tingkat penangkar benih kedelai.


Gambar 1. Pandangan sudut belakang (A), depan (B) dan uji kinerja grader benih yang direkayasa ( C).


Gambar 2. Contoh mutu sortasi untuk benih varietas Grobogan.


Gambar 3. Penangkar benih kedelai (Bapak Ali) dari Grobogan Jawa Tengah sedang mengamati benih kedelai yang tersortasi (Malang, 16 Maret 2012).

Ir. IK Tastra, MS.