Info Teknologi » Residu Pupuk Organik SANTAP-M, Iletrisoy, dan Bakteri Pelarut Fosfat pada Kedelai di Lahan Kering Masam

residu

Lahan kering masam keberadaannya cukup luas, sehingga menjadi salah satu target perluasan areal tanam kedelai. Namun demikian, lahan ini tergolong suboptimal bagi pengembangan kedelai karena tanahnya termasuk kurang subur, disebabkan oleh reaksi tanahnya masam yang berasosiasi dengan kelarutan Al yang tinggi, miskin bahan organik, dan miskin unsur hara makro maupun mikro kecuali Fe dan Mn. Pemberian pupuk merupakan faktor kunci dalam memperbaiki tingkat kesuburan tanah guna mendukung upaya pengembangan kedelai pada lahan kering masam, disamping pemberian bahan ameliorasi yang dapat menaikkan pH tanah dan kandungan bahan organik dalam tanah. Balitkabi telah berhasil memformulasi pupuk hayati rhizobium Iletrisoy dan bakteri pelarut fosfat, serta pupuk organik kaya hara SANTAP-M, yang diketahui efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai pada lahan kering masam di berbagai tempat di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Terkait dengan ketiga jenis pupuk tersebut, masih belum diketahui tentang keefektifan residunya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada tahun 2014 telah dilakukan penelitian pot di rumah kaca Balitkabi dengan menggunakan tanah lahan kering masam Banten untuk menguji keefektifan residu pupuk organik Santap-M, rhizobium Iletrisoy, dan bakteri pelarut fosfat. Hasil PenelitianPertanaman I Perlakuan pemupukan meningkatkan hasil biji kering dibandingkan dengan kontrol. Semua perlakuan pemupukan memberikan hasil yang setara, kecuali pada pemupukan Phonska 150 kg/ha dan Santap-M setara 1.500 kg/ha (Tabel 1). Perlakuan kombinasi pupuk organik kaya hara 1.500 kg Santap-M + 150 kg Phonska per hektar memiliki hasil setara dengan pemupukan 300 kg/ha Phonska. Pemberian kombinasi pupuk organik kaya hara 1.500 kg Santap-M + 150 kg Phonska per hektar ditambah dengan pupuk hayati: (1) rhizobium Iletrisoy, (2) bakteri pelarut fosfat, maupun (c) rhizobium Iletrisoy + bakteri pelarut fosfat, tidak meningkatkan hasil. Hal tersebut mengimplikasikan bahwa pemberian pupuk Santap-M sebanyak 1.500 kg/ha dapat menghemat penggunaan pupuk anorganik Phonska sebanyak 150 kg/ha atau 50%. – Pertanaman II Pengaruh residu pemupukan pada pertanaman I terhadap peningkatan hasil dapat teramati pada pertanaman II. Meskipun hasil biji pada perlakuan pemupukan 150 kg/ha Phonska dan 1.500 kg/ha Santap-M tidak menunjukkan adanya perbedaan dengan perlakuan tanpa pupuk (kontrol), namun hasilnya cenderung meningkat berturut-turut 1,96 g/pot dan 1,90 g/pot, sedangkan pada kontrol (tanpa pupuk) hanya 0,85 g/pot. Dari segi hasil biji, perlakuan yang yang memberikan hasil biji tertinggi adalah 300 kg Phonska/ha, yakni 3,14 g/pot.

Guna melihat pengaruh residu pupuk yang diberikan pada pertanaman pertama terhadap pertanaman kedua, dilakukan perhitungan kenaikan hasil relatif pertanaman kedua dibandingkan dengan kenaikan hasil pertanaman pertama. Terlihat bahwa perlakuan pupuk organik kaya hara Santap-M memiliki pengaruh residu paling kuat, yaitu hasil relatif pertanaman kedua terhadap pertanaman pertama sebesar 99,1%, sedangkan perlakuan pupuk yang lain hanya berkisar antara 42,5–58,5%. Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk bertanam kedelai, jika pertanaman pertama telah dipupuk Santap-M sebanyak 1.500 kg/ha, maka pada pertanaman kedua tidak perlu dipupuk Santap-M, sedangkan pemberian pupuk Phonska masih diperlukan, dengan dosis kurang dari 150 kg/ha.


Gambar 1. Pertumbuhan tanaman kedelai varietas Wilis umur 45 hst pada perlakuan kontrol, 150−300 kg Phonska/ha,
1500 kg Santap-M/ha tanpa/dengan 150 kg/ha Phonska di tanah masam asal Banten, Balitkabi 2014.

Gambar 2. Pertumbuhan tanaman kedelai varietas Wilis umur 45 hst pada perlakuan kontrol, 300 kg Phonska/ha,
1500 kg Santap-M/ha tanpa/dengan 150 kg Phonska/ha, Iletrisoy atau pelarut-P di tanah masam asal Banten, Balitkabi 2014.


Gambar 3. Pertumbuhan tanaman kedelai varietas Wilis umur 45 hst pada perlakuan 300 kg Phonska/ha,
1500 kg Santap-M/ha tanpa/dengan 150 kg Phonska/ha, Iletrisoy atau pelarut-P di tanah masam asal Banten, Balitkabi 2014.

Prof. Subandi