Info Teknologi » Keragaman dan Potensi Plasma Nutfah Kacang Hijau dalam Perakitan Varietas

Kacang hijau (Vigna radiata) merupakan tanaman kacang-kacangan yang memiliki keunggulan karena dapat di tanam di lahan kering, berumur genjah, dan bernilai ekonomi cukup tinggi. Keunggulan lain yang dimiliki kacang hijau adalah kandungan protein cukup tinggi dengan kisaran antara 18,3−28,02%, serta memiliki kadar asam amino esensial cukup tinggi dan dapat memenuhi angka kecukupan protein bagi anak umur 1−6 tahun. Preferensi dan budidaya kacang hijau yang berbeda di setiap daerah merupakan tantangan pemulia tanaman untuk menghasilkan varietas unggul sesuai kebutuhan pengguna. Untuk mendukung program pembentukan varietas unggul dibutuhkan sumber daya genetik dengan keragaman sifat yang tinggi pada karakter yang akan diperbaiki. Plasma nutfah kacang hijau di Indonesia terdapat di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Malang dan Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik (BB-Biogen) Bogor. Jumlah koleksi di Balitkabi hingga tahun 2015 berjumlah 1074 aksesi, sedangkan di BB-Biogen berjumlah 915 aksesi. Koleksi plasma nutfah kacang hijau di Balitkabi berasal dari Afganistan, Australia, Brazil, China, India, Indonesia, Iran, Korea, Pakistan, Philipina, Srilangka, Taiwan, Thailand, USA, AVRDC, dan Vietnam. Koleksi asal Indonesia diperoleh dari Provinsi Bali, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Keragaman plasma nutfah kacang hijau dapat diketahui setelah dilakukan kegiatan karakterisasi dan evaluasi. Karakterisasi dilakukan terhadap sifat kualitatif dan kuantitatif, sedangkan evaluasi dilakukan terhadap sifat-sifat penting untuk keperluan perakitan varietas. Prosedur karakterisasi kacang hijau mengacu pada deskripsi yang dikeluarkan IBPGR (IBPGR 1985). Di Balitkabi karakterisasi dilakukan terhadap sifat warna hipokotil, warna polong (Gambar 1), warna biji (Gambar 2), kekilauan biji, nodulasi rhizobium, warna daun, luas daun, rasio daun, umur berbunga, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah cluster pada cabang utama, jumlah cluster pada cabang, jumlah cluster pada tanaman, jumlah polong pada tanaman, jumlah polong pada cluster, berat polong, persentase shelling, hasil biji per tanaman, hasil biji per polong, dan umur panen. Evaluasi dilakukan terhadap cekaman biotik, abiotik dan kimia. Evaluasi terhadap cekaman biotik terutama dilakukan terhadap hama dan penyakit utama. Evaluasi terhadap ketahanan hama dilakukan pada hama penggerek polong (Etilla spp.), lalat bibit (Ophiomyia phaseoli (Tryon)), Melanagromyza sojae (Zehntn.), thrips, maruca, lamprosema. Sedangkan ketahanan terhadap penyakit dilakukan terhadap bercak daun, embun tepung, dan penyakit layu. Penyakit tular tanah sering terjadi pada pertanaman kacang hijau di beberapa Kebun Percobaan Balitkabi dan yang dominan diantaranya diakibatkan oleh infeksi cendawan Pythium sp., Phytophthora sp., Rhizoctonia sp., Sclerotium rolfsii dan Collelotrichum sp. Tanaman yang terserang jamur tersebut mengalami kelayuan dan menyebabkan kematian. Dari sebanyak 460 aksesi yang dievaluasi belum diperoleh aksesi yang tahan penyakit tular tanah Rhizoctonia hingga stadia reproduktif.


Gambar 1. Keragaman warna polong muda kacang hijau, ungu (kiri) dan hijau (kanan).


Gambar 2. Keragaman warna biji dan warna polong tua kacang hijau.Hasil evaluasi terhadap sifat agronomi, cekaman biotik, abiotik maupun sifat fisik dan kimia plasma nutfah kacang hijau disajikan pada Tabel 1 yang dapat digunakan oleh pemulia tanaman sebagai tetua persilangan untuk merakit varietas unggul baru (VUB). Sejak tahun 1945-2013, sebanyak 22 varietas kacang hijau telah dilepas. Dari 22 varietas yang telah dihasilkan, hampir seluruhnya memanfaatkan varietas lokal dan introduksi sebagai bahan seleksi maupun tetua persilangan. Hanya satu varietas yang merupakan hasil radiasi dari varietas yang telah dilepas (varietas Camar). Sebanyak 13 varietas kacang hijau yang dihasilkan berasal dari pemurnian atau seleksi galur introduksi (Bhakti, No.129, Merak, Nuri, Manyar, Walet, Gelatik, Merpati, Sriti, Kenari, Murai, Perkutut, dan Kutilang). Tiga varietas berasal dari varietas lokal (Siwalik, Arta Ijo, dan Sampeong) dan sisanya merupakan hasil persilangan. Varietas kacang hijau yang dirilis tahun 2008-2013 (Vima-1, Vima-2 dan Vima-3) merupakan varietas hasil persilangan buatan. Ketiga varietas tersebut merupakan hasil persilangan dengan tetua berasal dari plasma nutfah koleksi Balitkabi. Pengelompokkan plasma nutfah kacang hijau hasil evaluasi terhadap sifat agronomi, cekaman biotik, abiotik maupun sifat fisik dan kimia seperti Tabel 1 diharapkan dapat membantu pemulia untuk memanfaatkan sumber gen yang tersedia.

Ratri Tri Hapsari