Info Teknologi ยป Ketertarikan Imago Kutu Kebul berdasarkan Morfologi Daun pada Tanaman Kacang Tanah

Imago kutu kebul (Bemisia tabaci)

Imago kutu kebul (Bemisia tabaci)

Hama kutu kebul (Bemisia tabaci) merupakan hama potensial yang dilaporkan mulai menurunkan hasil pada kacang tanah. Kerusakan yang ditimbulkan hama kutu kebul terdiri dari 2 macam, yaitu kerusakan secara langsung dan kerusakan secara tidak langsung, yang diakibatkan oleh stadia nimfa dan imago. Kerusakan secara langsung adalah munculnya embun jelaga yang dimanfaatkan sebagai tempat tumbuhnya cendawan karena kotoran yang dikeluarkan kutu kebul mengandung gula. Timbulnya embun jelaga pada daun akan menghalangi masuknya sinar matahari, sehingga menghambat proses fotosintetis. Kerusakan tidak langsung adalah tanaman inang akan terinfeksi oleh virus. Pada famili Solanaceae dan kacang-kacangan menyebabkan daun keriting. Kutu kebul merupakan salah satu hama yang juga berperan sebagai vektor virus.

Interaksi antara serangga dengan inang dipengaruhi oleh senyawa kimia serta morfologi tanaman inang. Secara alamiah, tanaman mempunyai pertahanan dalam melawan serangan pengganggu yang dapat berupa morfologi, senyawa kimia, dan senyawa volatil. Morfologi tanaman merupakan perlawanan tanaman yang bersifat langsung, dan umumnya berada di bagian permukaan tanaman, seperti lapisan lilin pada permukaan daun, trikoma, rambut, duri, lignifikasi dinding sel serta kekerasan daun.

Pada tanaman kacang tanah yang berperan dalam ketahanan terhadap serangga kutu kebul adalah daun. Hal ini disebabkan karena kutu kebul menghisap cairan yang ada di dalam daun dan juga digunakan sebagai tempat peletakan telur untuk melangsungkan kehidupannya. Informasi mengenai karakter daun yang disukai kutu kebul belum diketahui, sehingga diamati karakter daun pada 10 genotipe kacang tanah, yaitu Tl/T3-12-C-174-85-30-20, GH5-116-21, Tk1/Mcn-12-C-2-11-146-231, Tk1/Mcn-12-C-2-5-140-163, Tasia 1, Tasia 2, Talam 1, Takar 2, Domba, dan Singa.

Populasi kutu kebul pada genotipe kacang tanah yang berbeda

Genotipe kacang tanah memberikan respon yang berbeda terhadap kedatangan imago kutu kebul ke pertanaman kacang tanah. Imago tersebut selain menghisap cairan daun, juga meletakkan telur pada daun. Hal itu dibuktikan dengan adanya populasi telur, nimfa dan pupa pada interval 10 hari setelah investasi. Perkembangan populasi kutu kebul mulai terlihat pada umur 50 hari setelah tanam (HST) (Gambar 1). Peningkatan populasi terlihat pada hari ke 60 HST, dan berbeda sangat nyata pada 70 HST. Populasi merupakan salah satu komponen untuk mengelompokkan ketahanan kacang tanah, sehingga dari 10 genotipe terkelompok menjadi tiga genotipe sangat tahan, empat genotipe agak tahan, dua genotipe rentan dan satu genotipe sangat rentan terhadap kutu kebul (Gambar 2).

Gambar 1. Rata-rata populasi kutu kebul pada umur 50, 60 dan 70 hari setelah tanam (HST). 1= Tl/T3-12-C-174-85-30-20; 2 = GH5-116-21, 3 = Tk1/Mcn-12-C-2-11-146-2, 4 = Tk1/Mcn-12-C-2-5-140-163, 5 = Tasia 1; 6 = Tasia 2; 7 = Talam 1; 8 = Takar 2; 9 = Domba; 10 = Singa.

Gambar 1. Rata-rata populasi kutu kebul pada umur 50, 60 dan 70 hari setelah tanam (HST). 1= Tl/T3-12-C-174-85-30-20; 2 = GH5-116-21, 3 = Tk1/Mcn-12-C-2-11-146-2, 4 = Tk1/Mcn-12-C-2-5-140-163, 5 = Tasia 1; 6 = Tasia 2; 7 = Talam 1; 8 = Takar 2; 9 = Domba; 10 = Singa.

Gambar 2. Pengelompokan kriteria ketahanan genotipe kacang tanah. ST = sangat tahan, AT = agak tahan, R = rentan, SR = sangat rentan.

Gambar 2. Pengelompokan kriteria ketahanan genotipe kacang tanah.
ST = sangat tahan, AT = agak tahan, R = rentan, SR = sangat rentan.

Karakter daun genotipe kacang tanah

Karakter daun kacang tanah meliputi morfologi dan anatomi daun. Morfologi daun antara lain warna daun, kerapatan trikoma, panjang dan bentuk trikoma, kekerasan daun, jumlah vena dan jarak antar vena. Sedangkan anatomi daun terdiri dari lapisan lilin, epidermis, mesofil, dan ketebalan total daun.

Warna daun dipengaruhi oleh kandungan klorofil daun. Warna daun dari 9 genotipe menunjukkan kode warna sama, sedangkan satu genotipe menunjukkan kode warna berbeda berdasarkan Pantone.com (2020). Kandungan klorofil paling tinggi ditemukan pada daun varietas Takar 2, diikuti Tasia 2. Kandungan klorofil paling rendah ditemukan pada daun varietas Singa (Gambar 3), akan tetapi warna daun tidak mempengaruhi populasi kutu kebul, hanya menarik kutu kebul untuk datang. Selain hal itu, kekerasan daun dari masing-masing genotipe kacang tanah tidak berbeda nyata (Gambar 4).

Gambar 3. Kandungan klorofil daun pada masing-masing genotipe kacang tanah.

Gambar 3. Kandungan klorofil daun pada masing-masing genotipe kacang tanah.

Gambar 4. Rata-rata kekerasan daun genotipe kacang tanah.

Gambar 4. Rata-rata kekerasan daun genotipe kacang tanah.

(1= Tl/T3-12-C-174-85-30-20; 2 = GH5-116-21, 3 = Tk1/Mcn-12-C-2-11-146-2, 4 = Tk1/Mcn-12-C-2-5-140-163, 5 = Tasia 1; 6 = Tasia 2; 7 = Talam 1; 8 = Takar 2; 9 = Domba; 10 = Singa)

Trikoma yang ada pada daun kacang tanah berbentuk glandular. Trikoma tipe grandular mengandung senyawa metabolit seperti flavanoid, terpenoid, alkaloid yang dapat berfungsi sebagai racun serangga, dan penolak atau jebakan untuk organisme lain. Rata-rata panjang trikoma adalah 0,790 mm. Dua genotipe yang mempunyai trikoma pendek, yaitu GH5-116-21 dan Talam 1 (Gambar 6). Luas daun dan jarak baris vena pada daun kacang tanah menunjukkan beda nyata antar genotipe (Gambar 7).

Gambar 6. Rata-rata kerapatan dan panjang trikoma daun kacang tanah.

Gambar 6. Rata-rata kerapatan dan panjang trikoma daun kacang tanah.

Gambar 7. Luas daun, jumlah vena, dan jarak vena daun genotipe kacang tanah.

Gambar 7. Luas daun, jumlah vena, dan jarak vena daun genotipe kacang tanah.

(1= Tl/T3-12-C-174-85-30-20; 2 = GH5-116-21, 3 = Tk1/Mcn-12-C-2-11-146-2, 4 = Tk1/Mcn-12-C-2-5-140-163, 5 = Tasia 1; 6 = Tasia 2; 7 = Talam 1; 8 = Takar 2; 9 = Domba; 10 = Singa)

Pada genotipe yang berkategori sangat rentan dan rentan, ditemukan ciri daun yang tebal. Daun yang tebal lebih disukai oleh kutu kebul. Daun yang memiliki mesofil tebal, maka CO2 yang terdifusi lebih banyak dibandingkan dengan daun yang mempunyai mesofil tipis, sehingga fotosintesis yang dihasilkan lebih banyak. Hal ini mendukung stilet kutu kebul untuk mendapatkan lebih banyak cairan daun.

Dari berbagai kajian diatas, daun kacang tanah yang tebal, dengan jarak vena rapat, jumlah vena yang banyak, dan trikoma bentuk glandular, lebih disukai oleh kutu kebul untuk hinggap, menghisap cairan, ataupun meletakkan telur.

Kurnia Paramita Sari

Sari, K.P. 2020. Identifikasi Karakter Daun dan Peranan Senyawa Biokimia terhadap Kedatangan Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn) pada Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L). Thesis. Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.