Info Teknologi ยป Komponen Teknologi Pengendalian Penggerek Polong Kacang Tanah, Etiella zinckenella

Selain itu, senyawa insektisida kimia yang diaplikasikan tidak mampu membunuh telur sehingga telur tetap berkembang normal. Tingginya jumlah larva yang ditemukan pada perlakuan tanpa pengendalian disebabkan karena lokasi penelitian merupakan daerah endemik penggerek polong, sehingga secara alami serangga berkembang optimal tiap musim.

Gambar 1. Jumlah larva E. zinckenella yang ditemukan pada polong kacang tanah

Gambar 1. Jumlah larva E. zinckenella yang ditemukan pada polong kacang tanah

Aplikasi tiametoksam yang dilakukan pada saat tanam dilanjutkan dengan aplikasi Bio-Lec mampu menekan populasi larva penggerek polong, yaitu hanya tiga ekor per lima rumpun tanaman (Gambar 1). Rendahnya populasi larva disebabkan karena insektisida tiametoksam bersifat sistemik, sehingga mampu meningkatkan ketahanan tanaman dari serangan hama. Sementara itu, biopestisida Bio-Lec yang mengandung konidia cendawan Lecanicillium lecanii langsung menginfeksi kelompok-kelompok telur yang diletakkan oleh imago pada kelopak bunga, menyebabkan telur tidak dapat menetas.

Kondisi ini terjadi karena L. lecanii bersifat ovisidal, yaitu mampu menggagalkan penetasan telur serangga atau membunuh stadia telur. L. lecanii juga dilaporkan bersifat ovisidal terhadap telur hama pengisap polong kedelai (Riptortus linearis) dan mampu menggagalkan penetasan telur hingga 90%. Sifat ovisidal ini karena L. lecanii memiliki beberapa jenis enzim yang toksik antara lain kitinase, protease, lipase, dan amilase. Selain itu, L. lecanii ini juga memproduksi beberapa jenis toksin yaitu dipicolinic acid, hydroxycarboxylic acid, dan cyclosporine untuk membunuh inangnya.

Gambar 2. Intensitas kerusakan polong kacang tanah akibat E. zinckenella pada berbagai komponen teknologi pengendalian

Gambar 2. Intensitas kerusakan polong kacang tanah akibat E. zinckenella pada berbagai komponen teknologi pengendalian

Tingkat kerusakan polong kacang tanah akibat serangan E. zinckenella dapat diketahui dari persentase polong tergerek oleh larva. Semakin banyak larva yang ditemukan pada polong, maka semakin besar pula peluang kerusakan polong yang terjadi. Perlakuan aplikasi insektisida kimia berbahan aktif lamda sihalotrin sebanyak tujuh kali mulai umur 35-70 HST secara tunggal menunjukkan kerusakan polong tertinggi (30,3%), dan aplikasi tersebut tidak berbeda nyata dengan tanpa pengendalian (30,1%) (Gambar 2).

Sedangkan, komponen teknologi pengendalian menggunakan kombinasi insektisida tiametoksam + karbofuran + Bio-Lec dapat menekan kerusakan polong sebesar 16,7%, dan kerusakan polong pada kombinasi tiametoksam + Bio-lec hanya 13,5%. Hal ini karena insektisida tiametoksam dan karbofuran kompatibel diaplikasikan bersama dengan L. lecanii, sehingga tidak mempengaruhi kinerja satu sama lain. Aplikasi tiametoxam, karbofuran dan L. lecanii secara terintegrasi dapat menjadi pilihan teknologi ramah lingkungan karena mampu meminimalkan beban insektisida kimia di lingkungan.

Komponen pengendalian yang terdiri dari parasitoid T. bactrae-bactrae + tanaman perangkap kedelai + insektisida lamda sihalotrin menunjukkan kerusakan polong 23,5%. Peran dari parasitoid T. bactrae-bactrae yang dilepas tidak begitu signifikan dalam memparasitasi telur E. zinckenella karena dipengaruhi oleh aplikasi insektisida kimia. Beberapa jenis bahan aktif insektisida kimia dilaporkan dapat berpengaruh negartif terhadap panjang hidup maupun kemunculan beberapa parasitoid. Senyawa insektisida kimia deltametrin, spinosad, indoxacarb, dan lufenuron dilaporkan dapat menghambat proses oviposisi dan kemunculan parasitoid T. chilonis.

Meskipun demikian ada beberapa jenis insektisida kimia seperti fenvalerate dan fenoxycarb yang kurang berdampak negatif terhadap perkembangan dan kelangsungan hidup parasitoid T. evanescens. Aplikasi insektisida kimia tiametoksam dan karbofuran secara bersamaan dengan pelepasan T. bactrae-bactrae juga kurang efektif karena tingkat kerusakan polong mencapai 22,6%. Pada kasus lain, aplikasi insektisida kimia tiametoksam dan karbofuran secara bersamaan yang tidak tepat waktu diketahui dapat mengganggu kinerja dari parasitoid T. chilonis dan T. japonicum.