Info Teknologi ยป Komponen Teknologi Pengendalian Penggerek Polong Kacang Tanah, Etiella zinckenella


Kelangsungan Hidup Musuh Alami


Pengendalian hama penggerek polong kacang tanah menggunakan kombinasi dari berbagai komponen pengendalian tampak lebih aman terhadap kelangsungan hidup serangga berguna, khususnya predator Coccinella sp. (Coocinellidae) dan Oxyopes sp. (Oxyopidae) (Gambar 3) serta parasitoid dari ordo Hymenoptera maupun Diptera dibandingkan aplikasi insektisida kimia secara tunggal. Populasi predator dan parasitoid tertinggi terdapat pada perlakuan tanpa pengendalian.

Tingginya populasi predator Coccinella sp. dan Oxyopes sp. pada perlakuan tanpa pengendalian ada kaitannya dengan keberadaan populasi mangsa (Bemisia tabaci dan Aphis glycines). Populasi predator di suatu habitat ditentukan oleh jumlah dan jenis mangsa yang tersedia. Oxyopes sp. merupakan predator generalis sebagai penghuni permukaan tanah maupun tajuk tanaman, sehingga memiliki kemampuan memangsa yang cukup tinggi dan memiliki preferensi mangsa cukup luas terhadap beberapa jenis serangga.

Gambar 3. Populasi predator dan parasitoid pada berbagai komponen teknologi pengendalian

Gambar 3. Populasi predator dan parasitoid pada berbagai komponen teknologi pengendalian

Aplikasi insektisida lamda sihalotrin secara tunggal mengakibatkan populasi parasitoid rendah. Parasitoid lebih rentan terhadap aplikasi insektisida kimia dibandingkan serangga hama. Tingginya populasi parasitoid pada komponen teknologi P1, P2 dan P3 diduga karena adanya tanaman perangkap kedelai di dalamnya. Tanaman kedelai dapat berfungsi sebagai tempat berlindung (reservoir) bagi parasitoid. Kelimpahan populasi parasitoid berhubungan dengan keberadaan inang dan tanaman sebagai tempat berlindung maupun kelangsungan hidup. Parasitoid dari ordo Hymenoptera mempunyai kemampuan memparasitasi beberapa jenis inang, sehingga semakin tinggi dan beragamnya populasi inang maka berpengaruh langsung terhadap tingginya populasi parasitoid yang ditemukan.

Pada perlakuan tanpa pengendalian, populasi B. tabaci dan A. glycines cukup tinggi, yaitu masing-masing 216 ekor dan 78 ekor tiap lima rumpun tanaman (Gambar 4). Populasi kedua jenis mangsa tersebut terdiri dari stadia telur, nimfa, dan imago yang menjadi sumber predasi dari predator Oxyopes sp. maupun Coccinella sp. untuk kelangsungan hidup predator tersebut. Semakin berlimpah populasi mangsa di lapangan, maka populasi predator Coccinellidae juga semakin meningkat pesat.

Gambar 4. Populasi mangsa B. tabaci dan A. glycines pada berbagai komponen teknologi pengendalian

Gambar 4. Populasi mangsa B. tabaci dan A. glycines pada berbagai komponen teknologi pengendalian

Tiametoxam, karbofuran, lamda sihalotrin, parasitoid T. bactrae-bactrae, dan tanaman perangkap dapat diaplikasikan secara terintegrasi dalam mengendalikan E. zinckenella namun efikasinya rendah. Aplikasi insektisida lamda sihalotrin secara tunggal belum mampu menekan perkembangan populasi E. zinckenella, sebaliknya menurunkan populasi musuh alami. Aplikasi biopestisida yang mengandung konidia cendawan L. lecanii yang dikombinasikan dengan karbofuran atau tiametoxam efektif dalam mengendalikan E. zinckenella serta menjaga kelangsungan hidup predator dan parasitoid, sehingga merupakan komponen teknologi pengendalian penggerek polong kacang tanah yang direkomendasikan.

Tautan referensi: https://jhpttropika.fp.unila.ac.id/index.php/jhpttropika/article/view/557

Marida Santi Yudha