Info Teknologi » Mengenal Ulat Tanduk (Agrius convolvuli) pada Ubi Jalar

Telur, larva muda, larva tua, pupa dan ngengat ulat tanduk A. convolvuli

Telur, larva muda, larva tua, pupa dan ngengat ulat tanduk A. convolvuli

Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan tanaman pangan sumber karbohidrat setelah padi dan jagung. Sebagai tanaman budidaya, ubi jalar tidak lepas dari serangan hama. Sejumlah serangga hama dapat berinteraksi dengan tanaman ubi jalar, salah satu diantaranya adalah ulat tanduk. Serangan hama pada umumnya terjadi di musim kemarau, dimana suhu udara yang tinggi dan kelembaban yang rendah akan memicu terjadinya perkembangan populasi hama semakin cepat. Dengan meningkatnya populasi hama akan menyebabkan peningkatan kerusakan tanaman yang akan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Perkembangan populasi hama tersebut akan menurun kembali dengan datangnya musim penghujan.

Ulat tanduk, A. convolvuli (Lepidoptera: Sphingidae) merupakan salah satu hama perusak daun tanaman ubi jalar. Serangan ulat tanduk dalam populasi tinggi dapat mengakibatkan terjadinya defoliasi total daun, sehingga kualitas ubi menjadi rendah. Di luar negeri, seperti di Afrika Selatan, Kenya, dan Papua New Guinea, hama ini dianggap penting. Namun, di Indonesia, keberadaan ulat tanduk belum banyak mendapatkan perhatian. Berdasarkan hasil pengamatan di IP2TP Kendalpayak MT 2015, populasi ulat tanduk di beberapa varietas ubi jalar tertinggi hanya mencapai 3 ekor/5 m gulud, dan serangannya juga rendah, hanya berkisar antara 1-6% (Gambar 1).

agrus1

agrus2

Gambar 1. Populasi ulat tanduk (atas) dan intensitas serangan ulat tanduk (bawah) pada beberapa varietas ubijalar umur 8 dan 9 minggu setelah tanam (MST). IP2TP Kendalpayak, MT 2015.

Ulat A. convolvuli lebih dikenal dengan sebutan “ulat keket atau ulat tanduk” karena ulat ini mempunyai semacam tanduk diujung kepalanya. Telur berbentuk bulat kecil dengan diameter 1 mm, berwarna hijau muda sampai kuning diletakkan secara tunggal di atas permukaan daun atau batang ubi jalar. Imago bertelur pada malam hari, seekor imago dapat bertelur sampai 1.850 butir. Telur-telur menetas dalam 3-5 hari. Larva terdiri atas lima instar, dengan lama fase larva tergantung pada suhu udara. Semakin panas suhu udara, fase larva semakin pendek. Pada suhu 15oC, 20oC, 25oC, dan 30oC, panjang fase larva rata-rata 105, 52, 29, dan 23 hari. Warna larva bervariasi dari hijau sampai coklat dan dengan pola yang jelas. Larva yang berwarna cokelat, umumnya memiliki kepala berwarna kuning pucat. Larva hijau memiliki kepala berwarna hijau muda dengan garis kuning pucat. Spirakel berwarna oranye-merah. Larva dengan lima instar terjadi dalam 3-4 minggu, pada instar ke lima panjang tubuh dapat mencapai 95 mm.

Pupa berwarna cokelat kemerahan mengkilap, ditandai oleh tangkai yang menonjol dan melengkung ke bawah seperti belalai. Pupa berukuran sekitar 5 cm, ditemukan di dalam tanah di bawah tanaman. Pupa sangat sensitif dan aktif, bergerak dengan keras jika terganggu, biasanya dijumpai pada tanah basah berongga dengan kedalaman 10‒20 cm (Anonim 2015). Saat memasuki fase prepupa, larva akan masuk ke dalam tanah untuk berubah menjadi pupa. Periode pupa terjadi di dalam tanah dan berlangsung sekitar 3 minggu sampai beberapa bulan tergantung kondisi iklim.

Imago adalah kupu malam berwarna abu-abu dengan 5 atau 6 buah pita merah jambu yang melintang di abdomen dan garis hitam di kedua sayap (sayap yang membentang panjangnya 80-120 mm), pada abdomen ditandai adanya garis lateral seperti pita. Imago makan nektar bunga (Bellotti 1987).

Ulat tanduk merupakan hama pada musim kemarau. Larva instar muda akan memakan daun, sehingga daun berlubang besar tidak beraturan. Serangan ulat tanduk instar 4-5 dapat mengakibatkan defoliasi total terhadap daun dan rendahnya kualitas umbi ubi jalar. Walaupun seluruh daun ubi jalar dapat dimakannya, namun yang paling disukai adalah daun bendera pada batang muda dan daun-daun pucuk. Pada populasi yang tinggi, semua bagian daun akan dimakan, dan yang tersisa hanya tangkai daunnya saja. Imago yang berupa ngengat berukuran besar biasanya terbang pada malam hari. Apabila serangan berat terjadi pada saat tanaman masih muda akan berakibat terhadap pengurangan hasil tanaman. A. convolvuli terdapat di seluruh dunia, tetapi sangat umum dijumpai di Afrika, Asia, Australia, Pasifik, dan Eropa Selatan. Selain ubi jalar, ulat tanduk juga dapat menyerang tanaman ubi kayu, talas-talasan (termasuk porang), tomat, terung-terungan, anggur dan kacang hijau.

Pengendalian ulat tanduk dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain secara kultur teknis. Pupa-pupa ulat keket biasanya diletakkan di dalam tanah dengan pengolahan tanah akan membalik tanah dan membinasakan pupa yang ada dalam tanah, mencegah munculnya dewasa dan mengganggu siklus hidup ngengat. Rotasi tanaman dengan tanaman bukan inang (padi, jagung, kedelai) dapat memutus siklus ulat tanduk. Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan dengan mengambil dan mengumpulkan pupa ulat keket pada saat panen ubi jalar, dan larva pada fase vegetatif, kemudian membakarnya sangat dianjurkan, untuk mengurangi populasi ulat tanduk pada generasi saat itu dan selanjutnya. Perangkap cahaya dapat digunakan untuk memantau populasi ngengat. Pengendalian biologis dapat dilakukan dengan penyemprotan pathogen Bacillus thuringiensis dengan konsentrasi anjuran. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali, dimulai pada fase vegetatif. Musuh alami ulat tanduk yang lain adalah parasitoid dari golongan Ichneumonidae (Amblyjoppa fuscipennis, Callajoppa exaltatoria, Netelia vinulae), Trichogrammatidae (Trichogramma euproctidis), dan Tachinidae (Drino ciliata , Drino atropivora, dan Masicera sphingivora). Pengendalian kimia untuk ulat tanduk sebaiknya tidak disarankan, karena akan mengacaukan kerja dari musuh alami yang berupa parasitoid. Namun kalau mendesak, penyemprotan kimiawi hanya ditujukan untuk larva instar tiga ke bawah. Aplikasi terutama ditujukan pada bagian yang lemah dari fase hidup serangga, sehingga peka terhadap perlakuan insektisida.

Sri Wahyuni Indiati
Tautan publikasi:

https://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2016/06/78_sulistyo%20dwi%20setyorini.pdf