Info Teknologi » Merakit Masa Depan Kacang Hijau di Tanah Bergaram

Keragaan Kacang hijau pada cekaman salinitas sedang-berat di tanah salin Lamongan,2018

Keragaan Kacang hijau pada cekaman salinitas sedang-berat di tanah salin Lamongan,2018

Pendahluan

Salinitas telah menjadi masalah serius pada daerah-daerah yang terletak di dekat pantai dan umumnya lahan-lahan tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal, karena dianggap kurang sesuai untuk tanaman pangan. Kendala utama pemanfaatan tanah salin adalah kadar garam yang tinggi terlarut dalam tanah, sehingga tanaman mengalami cekaman garam/salinitas yang berakibat pada hambatan pertumbuhan dan hasil panen bahkan kematian tanaman.

Luas lahan salin di Indonesia sekitar 0,4 juta ha, diantaranya terdapat di sepanjang pantai utara dan selatan Jawa, Aceh dan Nias akibat tsunami, Sulawesi Selatan, Flores, Jambi dan, Kalimantan. Ke depan tampaknya lahan salin di Indonesia semakin meluas, akibat dari perubahan iklim global, naiknya permukaan air laut, intrusi air laut, pencemaran limbah juga eksploitasi air tanah yang berlebihan.

Pemanfaatan lahan salin dilakukan dengan cara memodifikasi lingkungan sehingga menjadi kondusif bagi pertumbuhan tanaman secara normal serta melakukan seleksi jenis tanaman atau mengembangkan varietas tanaman yang mampu tumbuh serta berproduksi (toleran) terhadap cekaman salinitas. Kedua upaya tersebut apabila dipadukan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanah salin.

Salah satu komoditas pangan yang potensial untuk dikembangkan di lahan salin adalah kacang hijau. Dengan karakteristiknya yang berumur genjah (56-60 hari), toleran kekeringan, dan dapat ditanam pada daerah yang kurang subur, budi daya kacang hijau di tanah salin perlu dicoba. Apalagi komoditas ini cukup strategis, baik sebagai komoditas lokal penyokong ketahanan pangan, pencegahan stunting hingga komoditas ekspor.

Perakitan Varietas Kacang Hijau Toleran Salinitas

Balitkabi telah memulai kegiatan perakitan varietas kacang hijau toleran lahan salinitas pada tahun 2013 melalui persilangan dilanjutkan dengan seleksi populasi bersegregasi, dan pengujian daya hasil (UDHP dan UDHL). Seleksi galur F3 dilakukan di rumah kasa pemuliaan Balitkabi pada tahun 2014 dalam dua tahap menggunakan larutan NaCl dengan daya hantar listrik (DHLw) 7,0 dSm-1 (setara 150 mMol). Galur F3 kacang hijau memberikan respons yang beragam terhadap salinitas, dari toleran hingga sangat peka.

Dengan cekaman salinitas berat sejak sebelum tanam, didapatkan hanya sejumlah kecil tanaman kacang hijau yang mampu bertahan hidup, menghasilkan polong hingga panen. Cekaman salinitas berat yang berikan setelah tanaman kacang hijau berkecambah, menghasilkan keragaan tanaman yang lebih baik, sebagian besar mampu menghasilkan rata-rata 2 polong pertanaman, dengan postur tanaman lebih tinggi. Selanjutnya seleksi dilakukan di lahan salin di Lamongan pada tahun 2015-2016.

Pengujian daya hasil terhadap 100 galur kacang hijau di lahan salin tahun 2017 menunjukkan respons yang beragam dari toleran hingga peka terhadap cekaman salinitas sedang-tinggi dengan tingkat salintas (DHL) tanah 6 – 10 dSm-1. Kacang hijau dapat tumbuh baik pada kondisi salin sedang (DHL tanah sekitar 7 dSm-1) hingga stadia awal reproduktif, dengan hasil biji rata-rata 0,84 t/ha dengan kisaran 0,41-1,24 t/ha. Berdasarkan hasil biji, terdapat 46 galur kacang hijau yang hasilnya di atas rata-rata dan 30 galur diantaranya memiliki hasil biji di atas 0,90 t/ha.

Pada kondisi tanah salin berat (DHL 8,1-16,0 dSm-1) diperoleh 30 genotipe yang tumbuh dengan tinggi tanaman rata-rata 30 cm, jumlah polong 8, hasil rata-rata 0,83 t/ha atau rentang hasil 0,51-1,21 t/ha. Pada penelitian tahun 2018 ini diperoleh 13 genotipe yang hasilnya di atas rata-rata (0,83 t/ha) pada lahan kategori salin berat. Termasuk diantaranya varietas Vima 3 (0,98 t/ha), diikuti dengan varietas Vima 2 (0,93 t/ha), dan Vima 1 (0,88 t/ha). Cara budi daya kacang hijau di tanah salin tersebut yaitu : jarak tanam 40 cm x 10 cm, dua tanaman/rumpun serta dipupuk menggunakan 50 kg Urea + 100 kg SP36 + 50 kg KCl/ha.

Pengujian serupa juga dilakukan di Desa Cempokorejo, Kec Palang, Kab Tuban. Pada saat tanam DHL tanah sebesar 10-12 dSm-1 bahkan meningkat menjadi 20 dS/m pada umur 4 mst. Pada tanah kategori salinitas berat keragaan kacang hijau sangat pendek dengan tinggi tanaman 5-10 cm, ukuran daun menjadi kecil, dan beberapa tanaman mulai kering (mati). Meskipun demikian beberapa tanaman masih mampu menghasilkan polong dengan jumlah 1-2 polong/tanaman. Pada kondisi ini hanya 13 genotipe yang dapat berpolong, sedangkan genotipe lainnya berada pada fase pembungaan, bahkan mati.

Secara umum, pada kondisi cekaman salinitas yang sangat berat, kacang hijau tidak dapat bertahan hidup dan menghasilkan biji. Oleh karena itu seleksi atau pengembangan kacang hijau berpeluang diarahkan pada lahan salin dengan tingkat salinitas ringan hingga sedang (maksimum DHL 10 dSm-1). Genotipe kacang hijau toleran salinitas ini berpotensi menjadi varietas unggul baru kacang hijau toleran salinitas, sehingga dapat menambah pilihan petani di lahan salin untuk membudidayakan kacang hijau di sana.

kacang1 kacang2
 Seleksi galur kacang hijau toleran salinitas di tanah salin pada tahun 2015
kacang3 kacang4
 Seleksi galur kacang hijau toleran salinitas di tanah salin pada tahun 2016
kcang5 kacang6
Genotipe kacang hijau pada cekaman salinitas sedang-berat, UDHP tahun 2017

Keragaan genotipe kacang hijau pada cekaman salinitas sangat berat di Tuban

Keragaan genotipe kacang hijau pada cekaman salinitas sangat berat di Tuban

Trustinah