Info Teknologi » Nilai Konversi Ubi Kayu Segar Menjadi Produk Antara

Petani Wonogiri mengangkut umbi ubi kayu hasil panen yang telah dikeringkan

Petani Wonogiri mengangkut umbi ubi kayu hasil panen yang telah dikeringkan

Konversi dalam KBBI punya banyak arti, salah satunya adalah perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Nilai konversi yang dimaksud pada artikel ini adalah angka yang menunjukkan kesetaraan suatu bentuk bahan asal yang diproses menjadi bentuk produk lain. Istilah yang umum digunakan untuk nilai konversi pada komoditas pertanian adalah rendemen, dan dinyatakan dalam persen. Umbi ubi kayu segar dapat diolah menjadi beragam makanan tradisional dan produk industri, seperti pati, tepung cassava, bioetanol, MSG, asam laktat, ragi, kertas, tekstil, biopolimer, dan plastik.

Umbi ubi kayu mengandung setidaknya 60% air, sehingga mudah rusak. Oleh karena itu, secara global diperdagangkan dalam bentuk pelet, gaplek/chips, tepung, dan pati. Petani sebagai produsen utama ubi kayu mayoritas menjual hasil panen dalam bentuk segar tanpa kupas. Di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat, ubi kayu dijual dalam bentuk kupasan dan dalam bentuk kering/gaplek.

Ketika petani menjual hasil panen umbi segar ke pedagang/pengepul atau ke pabrik akan ada rafaksi/potongan. Rafaksi bisa dalam bentuk bobot maupun harga, dan besarannya beragam antara 10% hingga 20%. Hasil PRA (Participatory Rural Appraisal) di Sukabumi, Jawa Barat tahun 2021 menunjukkan bahwa petani menjual ubi kayu dalam bentuk kupasan dengan harga Rp 1.100/kg dan tanpa kupas dengan harga Rp 800/kg, yang berarti ada selisih harga Rp 300/kg umbi, dengan ongkos mengupas Rp 100/kg. Hal ini menunjukkan bahwa 1 kg umbi tanpa kupas setara dengan 0,8 kg umbi kupas, atau 80% dari bobot tanpa kupas, dengan kata lain ada rafaksi 20%, sehingga rafaksi dalam hal ini merupakan nilai konversi dari bentuk umbi segar menjadi umbi kupas.

Nilai konversi produk-antara ubi kayu

Nilai konversi yang disajikan pada artikel ini merupakan hasil pengamatan pada percobaan pemupukan ubi kayu varietas UJ3 dan UJ5 di tiga lokasi di Lampung tahun 2012 yang dipanen pada umur 7 bulan, varietas Malang 4 di tiga lokasi di Jawa Timur pada tahun 2011-2013 dan 2019, serta di dua lokasi di Jawa Tengah pada tahun 2012-2013 yang dipanen pada umur 10 bulan. Data dianalisis dengan metode descriptive statistics, dan analisis varian metode GLM (general linear model) dilakukan dengan pengujian pembandingan nilai tengah menggunakan metode Fisher (BNT).

Nilai konversi dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

  1. Umbi kupas kulit = (bbk/bb) x 100%
  2. Gaplek dari umbi segar = (bkk/bb) x 100%
  3. Gaplek dari umbi kupas kulit = (bkk/bbk) x 100%
bb : bobot umbi segar (bobot basah umbi+kulit, ditimbang saat panen)
bbk : bobot basah umbi kupas kulit (bobot umbi setelah dibuang pangkal, bonggol, dan kulitnya)
bkk : bobot umbi kering/gaplek kering oven (umbi kupas dipotong-potong sepanjang 5-7 cm kemudian dibelah menjadi 4-16 bagian, tergantung ukuran umbi, selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 75oC hingga mencapai bobot konstan).

Nilai konversi (NK) umbi kupas kulit, NK gaplek dari umbi segar, dan NK gaplek dari umbi kupas kulit beragam antar lokasi maupun pada lokasi yang sama (Gambar 1). Nilai konversi umbi kupas kulit berkisar 75,23-82,21%, NK gaplek dari umbi segar berkisar 28,62 – 34,50%, dan NK gaplek dari umbi kupas kulit berkisar 35,46-45,01% (Tabel 1).

wonogiri1

(A)

wonogiri2

(B)

wonogiri3

(C)

Keterangan:

  • bb= bobot umbi segar
  • bbk= bobot umbi kupas kulit
  • bkk=bobot umbi kering/gaplek
  • NK= nilai konversi
Lokasi:

  • 1-2 Lampung Tengah, UJ3, 2012
  • 3: Lampung Timur, UJ5, 2012
  • 4-6: Malang, Malang 4, 2011-2013
  • 7-9: Tulungagung, Malang 4, 2011-2013
  • 10: Blitar, Malang 4, 2019
  • 11-12: Karanganyar, Malang 4, 2012-2013
  • 13-14: Wonogiri, Malang 4, 2012-2013
Gambar 1. Nilai konversi, umbi,kupas kulit (A), gaplek dari umbi segar (B), dan gaplek dari umbi kupas kulit (C) dari ubi kayu varietas UJ3, UJ5, dan Malang 4.

Analisis deskriptif menunjukkan adanya keragaman nilai konversi umbi kupas kulit, gaplek dari umbi segar, dan gaplek dari umbi kupas (Tabel 1).

Tabel 1. Nilai konversi umbi ubi kayu varietas UJ3, UJ5, dan Malang 4 menjadi produk-antara.
Lokasi1) Varietas Tahun N Nilai Konversi
Umbi Kupas Kulit  Gaplek2)

dari umbi segar

Gaplek2)

dari umbi kupas kulit

LTg  UJ3 2012 39  75,23±3,18  33,86±2,13  45,01±2,08
LT UJ5 2012 20  80,68±2,32  28,62±2,05  35,46±2,22
MLG Malang 4 2011-2013 59  81,78±4,75  30,48±4,20 37,28±4,88
TA Malang 4 2011-2013 59 78,92±3,42  31,55±3,42 39,98±4,00
BLT Malang 4 2019 24 79,72±1,75  33,19±3,35  41,63±1,78
KRA Malang 4 2012-2013 42 81,04±5,26  34,44±3,28  42,47±2,56
WNR Malang 4 2012-2013 41  82,21±4,45  34,50±3,35 42,02±3,76
1)LTg=Lampung Tengah (2 lokasi), LT=Lampung Timur, MLG=Malang, TA=Tulungagung, BLT=Blitar, KRA=Karanganyar, WNR=Wonogiri; 2)gaplek kering oven. N=jumlah sampel

Nilai konversi versi BPS vs hasil penelitian

Nilai konversi umbi ubi kayu yang biasa digunakan dalam survey ubinan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) disajikan pada Tabel 2. Jika hasil umbi segar 30 t/ha, maka berdasarkan konversi tersebut berarti setara dengan 24 t/ha umbi kupas kulit (30*80/100), 10,8 t/ha gaplek (30*36/100), dan 7,5 t/ha tepung ubi kayu (30*25/100).

Tabel 2. Nilai konversi umbi ubi kayu yang digunakan oleh BPS.
Kode Bentuk Produk Nilai Konversi
A B C D
 A Ubi kayu berkulit 100,0
B Ubi lekpas kulit 80,0 100,0
C Gaplek 36,0 45,0 100
D Tepung kampung 25-28 30-35 70,0 100,0
Sumber:https://bppgalur.blogspot.com/2017/02/konversi-padi-jagung-kedelai-kacang.html

sama dengan nilai konversi dari hasil penelitian, maka dilakukan uji pembandingan menggunakan one sample t-test. Untuk lebih menyederhanakan pengujian, maka data dikelompokkan berdasarkan perbedaan varietas dan lokasi percobaan.

Tabel 3. Nilai konversi umbi ubi kayu versi BPS vs hasil penelitian.
Bentuk  produk Nilai

Konversi

BPS (%)

Nilai konversi data penelitian (%) p2)
dari menjadi Lokasi/var1) Rata-rata Konfiden Interval 95%
 Umbi segar Umbi kupas kulit  80 LTg/UJ3 75,23 74,19-76,26  0,000
LT/UJ5  80,68  79,60-81,77  0,203
MLG/Malang 4  81,78  80,54-83,02  0,006
TA/Malang 4 78,92  78,02-79,81 0,018
KRA/Malang 4 81,04  79,41-82,68 0,205
WNG/Malang 4 82,21  80,80-83,61 0,003
BLT/Malang 4 79,72  78,98-80,46 0,439
Umbi segar Gaplek 36 LTg/UJ3 33,86 33,17-34,55 0,000
LT/UJ5 28,62 27,66-29,58 0,000
MLG/Malang 4 30,48 29,39-31,57 0,000
TA/Malang 4 31,55 30,65-32,44 0,000
KRA/Malang 4 34,44 33,42-35,46 0,004
WNG/Malang 4 34,50 33,44-35,56 0,007
BLT/Malang 4 33,19 32,50-33,89 0,000
Umbi kupas kulit Gaplek 45 LTg/UJ3 45,01 44,33-45,69 0,976
LT/UJ5 35,46 34,43-36,50 0,000
MLG/Malang 4 37,28 36,01-38,56 0,000
TA/Malang 4 39,98 38,94-41,02 0,000
KRA/Malang 4 42,47 41,67-43,27 0,000
WNG/Malang 4 42,02 40,83-43,20 0,000
BLT/Malang 4 41,63 40,88-42,38 0,000
 1)LTg=Lampung Tengah, LT=Lampung Timur, MLG=Malang, TA=Tulungagung, BLT=Blitar, KRA=Karanganyar, WNG=Wonogiri; 2)p= probabilitas, p<0,05 berarti berbeda nyata, p≥0,05 berarti tidak berbeda nyata

Hasil uji-t menunjukkan terdapat perbedaan nyata antara nilai konversi versi BPS dengan nilai konversi dari hasil penelitian (Tabel 3). Hasil analisis dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Nilai konversi dari umbi segar ke umbi lepas kulit menurut BPS adalah 80%. Nilai tersebut berbeda nyata dengan nilai konversi pada 4 lokasi dari 7 lokasi percobaan, dengan perbedaan 1,1% hingga 4,8%.
  2. Nilai konversi dari umbi segar ke gaplek menurut BPS adalah 36%. Nilai tersebut nyata lebih besar 1,5% hingga 7,4% dari nilai konversi pada semua lokasi percobaan.
  3. Nilai konversi dari umbi lepas kulit ke gaplek menurut BPS adalah 45%. Nilai tersebut nyata lebih besar 2,5% hingga 9,5% dari nilai konversi pada 6 lokasi dari 7 lokasi percobaan.

Adanya perbedaan nilai konversi antar varietas atau antar lokasi, dan antara nilai yang digunakan BPS dengan hasil penelitian ini berimplikasi sebagai berikut:

  1. Perlu dilakukan evaluasi kembali terhadap nilai konversi yang digunakan BPS agar estimasi produksi produk-antara ubi kayu lebih akurat.
  2. Nilai konversi perlu dibuat pada setiap varietas (setidaknya varietas yang umum ditanam petani) dan setiap daerah (setidaknya sampai tingkat kabupaten) karena varietas yang ditanam dan agroekologi lahan beragam antar daerah.

Abdullah Taufiq