Info Teknologi » Panduan Karakterisasi Porang

infotek-150422-porang

Porang merupakan tanaman yang sudah lama beradaptasi di Indonesia, namun baru beberapa tahun terakhir menarik perhatian karena lonjakan nilai ekonominya. Kandungan glukomanan yang berkualitas tinggi mengantar porang menjadi komoditi bernilai ekonomi tinggi dan prospektif untuk dikembangkan.

Kementerian Pertanian melalui Balitbangtan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Madiun melepas varietas lokal Madiun sebagai varietas unggul porang Madiun 1 dan melakukan koleksi varietas lokal. Sebanyak 13 aksesi asal Jawa Timur (Madiun, Ponorogo, Trenggalek, Nganjuk, Probolinggo) dan Jawa Tengah (Blora) saat ini menjadi koleksi sumber daya genetik (SDG) di Balitkabi. Saradan-Madiun merupakan salah satu areal dengan sejarah budidaya tergolong tertua dan memiliki keragaman genetik tertinggi berdasarkan analisis kluster kesamaan genetik diantara 50 aksesi Amorphophallus muelleri Blume asal Jateng, Jatim, dan koleksi IPB. A. muelleri Blume tergolong marga Amorphophallus dan merupakan salah satu dari 200 spesies Amorphophallus. Karakter khas yang dapat dijadikan pembeda porang dengan spesies lainnya adalah adanya bulbil dan bentuk bunga.

Pendeskripsian karakter tanaman adalah tahap penting dalam pengelolaan SDG, sehingga dapat berkontribusi dalam upaya pemanfaatan dan konservasi. Konservasi maupun pemanfaatan SDG memerlukan informasi variasi genetik dan potensi materi yang ada. Tahap awal pengumpulan informasi keragaman genetik koleksi SDG adalah karakterisasi tanaman.

IBPGR/IPGRI/Bioversity International telah menerbitkan acuan baku karakterisasi (descriptor list) pada sejumlah komoditi. Descriptor list bersifat spesifik komoditi, dan hingga saat ini telah diterbitkan untuk 94 komoditi, namun descriptor list porang belum termasuk diantara 94 komoditi tersebut.

Untuk mendeskripsikan keragaman porang yang ada di Indonesia, maka perlu dibuat deskriptor yang dapat digunakan sebagai acuan dalam karakterisasi porang. Deskriptor didefinisikan sebagai atribut, karakteristik, atau sifat yang dapat diukur, diamati serta diterapkan secara universal dan konsisten. Elemen deskriptor meliputi obyek, kondisi, dan prosedur pengambilan contoh. Balitkabi telah menyusun edisi awal Panduan Karakterisasi Porang meliputi seluruh karakter yang dapat diamati dan berpotensi untuk dapat membedakan aksesi (Gambar 1a-1f).

a. Ragam karakteristik daun porang meliputi warna tepi daun juvenil dan daun tua, luas daun, warna daun, tipe tepi daun, permukaan daun, serta tipe percabangan daun

a. Ragam karakteristik daun porang meliputi warna tepi daun juvenil dan daun tua, luas daun, warna daun, tipe tepi daun, permukaan daun, serta tipe percabangan daun

 

b. Ragam karakteristik batang (tangkai daun) porang meliputi warna batang, motif bercak, warna bercak, homogenitas warna batang dan bercak

b. Ragam karakteristik batang (tangkai daun) porang meliputi warna batang, motif bercak, warna bercak, homogenitas warna batang dan bercak

 

c. Ragam karakteristik bunga porang (tunggal/co-exist, bentuk cone, permukaan bunga, bentuk seludang, ukuran komponen bunga)

c. Ragam karakteristik bunga porang (tunggal/co-exist, bentuk cone, permukaan bunga, bentuk seludang, ukuran komponen bunga)

 

d. Ragam bentuk dan ukuran bulbil (katak), serta warna bulbil muda.

d. Ragam bentuk dan ukuran bulbil (katak), serta warna bulbil muda.

 

e. Cara pengamatan morfologi tanaman porang (panjang midrib, tinggi tanaman, diameter batang, lebar kanopi, lebar daun dan panjang rachis)

e. Cara pengamatan morfologi tanaman porang (panjang midrib, tinggi tanaman, diameter batang, lebar kanopi, lebar daun dan panjang rachis)

 

f. Karakteristik buah dan biji porang

f. Karakteristik buah dan biji porang

Gambar 1. Sebagian ragam karakter porang dan cara pengamatannya

Penyempurnaan perlu dilakukan setelah seluruh keragaman karakter tanaman porang yang ada di Indonesia didokumentasikan dan dilakukan evaluasi penentuan karakter kunci pembeda aksesi.

Data yang dikumpulkan meliputi beberapa kelompok, yaitu:

1.    Data umum, meliputi: nomor aksesi, lokasi karakterisasi, tinggi tempat, pendeskripsi, tanggal tanam, tanggal panen, lingkungan pertanaman, tingkat naungan, jarak tanam, asal bibit, ukuran bibit, periode tumbuh, curah hujan, dan karakteristik tanah. Tanaman porang mempunyai dua siklus hidup, yaitu fase vegetatif dan fase generatif. Fase vegetatif ditandai oleh pertumbuhan batang semu dan daun dari umbi, sedangkan fase generatif ditandai oleh pertumbuhan bunga, buah, dan biji dari umbi. Keragaan tanaman porang sangat dipengaruhi oleh asal bibit, ukuran bibit, lingkungan tumbuh, periode pertumbuhan. Bibit asal katak, umbi, atau biji mempunyai kecepatan tumbuh berbeda, demikian juga dengan perbedaan periode pertumbuhan dan lingkungan tumbuh. Pada tanaman porang, identitas aksesi memerlukan informasi lengkap pertumbuhan dari ke tiga asal bibit dan ke dua siklus hidup;

2.    Karakter kualitatif, meliputi: warna daun, warna tepi daun muda, permukaan daun, bentuk helaian anak daun, pinggir helaian daun, tipe percabangan, bercak pada batang (tangkai daun), warna batang, warna bulbil (katak) muda, warna bulbil masak, bentuk bulbil, bentuk bunga (cone), bentuk mahkota bunga, warna seludang/mahkota.

3.    Karakter kuantitatif, meliputi: jumlah tangkai daun saat flushing, jumlah anak tangkai daun, jumlah daun sayap, lebar kanopi, jumlah tunas, panjang midrib, panjang daun/rachis, lebar helaian anak daun, lebar tepi daun, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah bulbil, ukuran bulbil sentral, umur tanaman rebah,tinggi tangkai bunga, tinggi putik, tinggi benangsari, tinggi apendiks, bobot umbi, diameter umbi, tinggi umbi, masa dorman umbi, masa dorman bulbil, panjang tandan buah, lingkar tandan buah, warna buah, jumlah buah, umur buah masak, masa dorman biji.

Novita Nugrahaeni


Daftar Pustaka:

  • AP Lontoh, E Santosa, A Kurniawati, M Sari. 2019. Yield evaluation of selected clones apomictic iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume) on second growing period. Jurnal Agronomi Indonesia 47(2):171-179
  • Bioversity International. 2007. Guidelines for the development of crop descriptor lists. Bioversity Technical Bulletin Series. Bioversity International, Rome, Italy. xii+72p.
  • Bioversity International. 2022. Descriptors. https://www.bioversityinternational.org/e-library/publications/descriptors. Diakses tanggal 14 Maret 2022.
  • Dipokusumo. 2015. Porang (Amorphophallus oncophyllus) Famili: Araceae. https://www.indonetwork.co.id/Dipokusumo_Farm/ 1085886/porangamorphophallus-oncophyllus-familia-araceaean.htm, [22 Januari 2015]
  • Santosa E, N Sugiyama, A Kurniawati, AP Lontoh, M Sari and Krisantini. 2018. Variation in floral morphology of agamosporous (Amorphophallus muelleri Blume) in natural and gibberellin induced flowering. Journal of Applied Horticulture, 20(1): 15-23
  • Gusmalawati et al. 2013. Anatomi dan histokimia organ generatif Amorphophallus muelleri Blume. Floribunda 4(7): 175-181
  • Jansen, PCM, C van der Wilk, & WLA Hetterscheid. 1996. Amorphophallus Blume ex Decaisne. In M Flach and F Rumawas (eds.). PROSEA: Plant Resources of South- East Asia No 9. Plant Yielding Non-seed Carbohydrates. Backhuys Publisher. Leiden.
  • Nugrahaeni N, RT Hapsari, Sutrisno, A Amanah, E Yusnawan, Y Baliadi, Trustinah, FC Indriani, JS Utomo. 2020. PanduanKarakterisasi Porang (Amorphophallus muelleri Blume). Balitkabi. Tidak dipublikasikan
  • Nunung Harijati and Retno Mastuti. 2014.  Estimation of Diverse Porang (Amorphophallus muelleri Blume) Age in Forest Are Based on Branching Pattern of Leaf Petiolule. Res. J. of Life Scie. 01(01): 20-25.
  • Painting KA, MC Perry, RA Denning and WG Ayad. 1995. Guidebook for genetic resources documentation. International Plant Genetic Resources Institute, Rome
  • Poerba YS and D Martanti. 2008.  Genetic variability of Amorphophallus muelleri Blume in Java based on Random Amplified Polymorphic DNA. Biodiversitas J. Biological Diversity 9(4): 245-249
  • Sedayu A, MCM Eurlings, B Gravendeel &WLA Hetterscheid. 2010. Morphological character evolution of Amorphophallus (Araceae) based on a combined phylogenetic analysis of trnL, rbcL and LEAFY second intron sequences. Botanical Studies 51: 473–490
  • Sumarwoto. 2005. Iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume): Deskripsi dan Sifat-sifat Lainnya. Biodiversitas  6(3) : 185-190
  • Sumarwoto. 2006. Fenologi Pembungaan dan Pembuahan Berbagai Macam Berat Umbi IlesIles (Amorphophallus muelleri Blume). Biota Vol. XI (1): 8-13,
  • Yuzammi. 2009. The Genus Amorphophallus Blume Ex Decaisne (Araceae – Thomsonieae) in Java. Reinwardtia 13 (1): 1−12