Info Teknologi ┬╗ Pecah Polong pada Ragam Warna Polong dan Biji pada Kedelai

Di Indonesia, sebagian besar kedelai dibudidayakan pada musim kemarau kedua, yakni mengikuti pola tanam padi-padi-kedelai. Artinya, sejak fase pengisian biji hingga fase kedelai masak, bahkan hingga prosesing, berhadapan dengan kondisi suhu tinggi. Potret tersebut, memperlihatkan bahwa kehilangan hasil akibat pecah polong memang akan semakin besar, terlebih jika menggunakan varietas kedelai yang peka terhadap pecah polong dan diikuti oleh penundaan panen akibat kelangkaan tenaga kerja.

Warna polong kedelai yang ada di Indonesia, beragam dari kuning muda hingga cokelat tua. Di beberapa pustaka dikategorikan tan, brown, dan black. Warna kulit biji juga beragam dari kuning muda hingga kuning, hijau, atau degradasi warna hitam. Ragam warna di beberapa pustaka diistilahkan dengan yellowish white, yellow, green, buff, reddish brown, grey, imperfect black, dan black. Timbul pertanyaan, seberapa berperankah warna kulit polong dan warna kulit biji dalam mempengaruhi kejadian pecah polong pada kedelai ?

Gambar 1. Ragam warna polong dan biji kedelai

Gambar 1. Ragam warna polong dan biji kedelai

Pengamatan dilakukan pada 100 genotipe kedelai. Komposisi kulit polong dari 100 genotipe tersebut adalah 47 genotipe berwarna cokelat tua, berwarna cokelat 4 genotipe, cokelat muda 10 genotipe, dan 39 genotipe kulit polongnya berwarna kuning. Komposisi kulit biji adalah 69 genotipe berwarna kuning, 19 genotipe hitam, dan 12 genotipe berwarna hijau (Gambar 2).

ragam2 ragam1
Gambar 2. Variasi warna kulit polong dan biji dari 100 genotipe kedelai.

Selanjutnya dilakukan uji ketahahan terhadap pecah polong menggunakan metode oven mengikuti Krisnawati & Adie (2017). Polong yang pecah setelah dioven pada suhu 60oC, diamati dan diperoleh persentase polong pecah. Dari 100 genotipe kedelai tersebut, diperoleh sebanyak 20 genotipe kedelai hasil persilangan tergolong sangat tahan terhadap pecah polong. Varietas pembanding tidak termasuk 20 genotipe tersebut (Tabel 1).

Tabel 1. Pengelompokan ketahanan 100 kedelai terhadap pecah polong
No Pedigree Jumlah Genotip Kriteria Ketahanan
ST T M P SP
1 Anjasmoro/Dg 5 0 1 1 1 2
2 Dega 1/Dg 4 1 0 0 1 2
3 Dg/Anjasmoro 4 0 1 0 0 3
4 Dg/Grobogan 2 0 0 0 0 2
5 Dg/IAC100 1 0 0 0 0 1
6 Dg/Mahameru 1 1 0 0 0 0
7 G2/PR15 1 0 0 0 1 0
8 Grobogan/Dg 20 5 4 1 0 10
9 Grobogan/G100H 7 1 1 0 0 5
10 IAC 100/Anjasmoro 6 1 2 1 0 2
11 JP15/Anjasmoro 39 9 7 10 7 6
12 Khl/Anjasmoro 3 1 1 1 0 0
13 Mahameru/Dg 3 0 0 0 0 3
14 Mahameru/IAC 100 1 1 0 0 0 0
 Varietas Pembanding
Dega 1 1 0 0 0 0 1
Derap1 1 1 0 0 0 0
Detap 1 1 1 0 0 0 0
Total 100 22 17 15 9 37

Karakteristik warna kulit polong dari 20 genotipe kedelai yang berkategori sangat tahan adalah 9 genotipe berwarna cokelat tua, 7 genotipe berwarna kuning, 3 genotipe berwarna cokelat muda, dan 1 genotipe memiliki warna kulit polong adalah cokelat (Gambar 3). Hubungan antara genotipe bereaksi sangat tahan dengan warna kulit biji adalah sebanyak 14 genotipe memiliki kulit biji kuning, 3 genotipe masing-masing memiliki warna kulit biji hijau dan hitam.

ragam3 ragam4
Gambar 3. Variasi warna kulit polong dan biji dari 20 galur hasil persilangan yang sangat tahan pecah polong.

Berdasarkan fakta tersebut, latar belakang genetik lebih menentukan ketahanan kedelai terhadap pecah polong dibandingkan dengan ragam warna kulit polong maupun kulit biji.

Gambar 4. Pecah polong pada ragam warna polong dan biji

Gambar 4. Pecah polong pada ragam warna polong dan biji

Tautan publikasi: https://smujo.id/biodiv/article/view/7325
Muchlish Adie